Archive for the 'Essays (Indonesian)' Category

Yang Lebih Berbahaya dari Hoax dan Berita Palsu

logicAda yang lebih berbahaya dari hoax dan berita palsu. Ini adalah logical fallacy: pernyataan-pernyataan cacat pikir yang berhasil menembus benteng logika orang-orang.

Hoax dan berita palsu, meski mengandung logical error, sebagian besar melibatkan aspek fakta, yang dengan bantuan internet, saat ini, dengan cepat dapat terbantahkan. Sebaliknya, menangkal logical fallacy lebih sulit karena melibatkan keterampilan dan alur berpikir.

Mereka yang pekerjaannya memrogram komputer sering menjumpai logical error pada program mereka dan tahu masalah ini lebih sulit diatasi (debugging) dibanding dengan factual error.

Syntax error, kode-kode yang tak sesuai grammar bahasa pemograman, halnya factual error, relatif gampang terdeteksi; bahkan secara internal komputer telah dirancang untuk menyaring syntax error sebelum program dijalankan.

Namun logical error berbeda. Komputer bisa saja dengan lancar mengeksekusi kode yang telah ditulis, karena sintaks tak bermasalah, tapi hasilnya salah. Output tak sesuai perhitungan atau rancangan. Tapi di mana masalahnya? Good luck mencari kode yang menyebabkan logical error ini!

Jika tak terdeteksi, logical error pada program komputer bisa berbahaya sehingga perlu metode tertentu untuk pendeteksian, dan membuat program kokoh saat logical error terjadi, khususnya pada sistem yang sensitif karena berkaitan dengan nyawa banyak orang.

Kita juga bisa menjadi korban logical error. Iklan-iklan yang gagal logika, investasi bodong dan tawaran cepat kaya, para fanatik yang sampai membunuh orang lain demi ideologi tertentu, perang yang tak perlu, kegiatan politik untuk memanipulasi opini publik, teori konspirasi dan urban legend.

Karena berpikir kritis tak alamiah, seperti bernafas dan berpikir intuitif, kita perlu belajar metode dan prosedur baku untuk mendeteksi cacat logika. Jika tidak, kita bisa menjadi korban mereka yang menyalahgunakan fallacy ini sebagai alat pamungkas untuk memanipulasi psikologi, emosi dan logika massa.

Mari kita lihat tiga fallacy berikut (empat fallacy akan dibahas pada artikel selanjutnya).

Logical fallacy yang paling sering kita temui tapi kita tak sadari adalah iklan.

Penasaran kenapa mobil-mobil di stan pameran selalu dijaga perempuan jelita nan seksi tapi produk iklan rokok dan kopi instan ditampilkan dengan aura kejantanan? Kenapa para pesohor laris manis jadi bintang iklan produk tertentu meskipun mereka tak punya kompetensi pada barang yang mereka tawarkan? Produk-produk yang mungkin mereka tak pakai?

Sadar tak sadar kelemahan kognitif kita sedang dimanipulasi (Weak Analogy Fallacy untuk contoh pertama dan Argementum Ad Verecundiam Fallacy, Liking Bias, Halo Effect untuk contoh kedua).

Karena kita punya bias kepada orang yang secara fisik menarik maka mereka yang ganteng dan cantik terpilih memasarkan produk yang tak berkaitan dengan penampilan fisik mereka. Dan  karena kita cenderung percaya pada para pesohor dipakailah para kampiun olahraga dan artis untuk mengiklankan produk walau mereka tak punya kompetensi untuk menilai bagus tidaknya produk yang mereka endorse.

Dan oh, jika menggunakan produk tersebut kita pikir –atau dimanipulasi untuk berpikir- kita bisa menjadi seperti mereka.

Fakta bahwa ada korelasi positif antara tingkat penjualan produk dengan tingkat ketenaran pesohor, dan fakta bahwa iklan-iklan yang gagal pikir seperti ini masih ada, walau tak murah untuk bayar para pesohor, bukti bahwa iklan-iklan ini berhasil.

Black-and-White Fallacy

Fallacy jenis ini muncul dari oversimplikasi masalah dan lawan bicara hanya diberikan pilihan hitam-putih.

Sembilan hari pasca serangan teroris 9/11, Amerika Serikat yang terluka dan marah secara blak-blakan memberi pilihan kepada negara negara lain untuk membantunya atau tidak, katanya: “Either you with us, or you are with the terrorists.” Apa yang salah dengan pernyataan-pernyataan seperti ini?

Nama keren dari cacat logika ini adalah Bifurcation atau –sesuai opsi pilihannya- Black-and-White Fallacy. Perhatikan pihak pertama menyodorkan kepada lawan bicara hanya dua opsi, padahal ada banyak alternatif pilihan, dari satu masalah yang kompleks.

Contoh lain, seorang karyawan, yang tak ikut demo “bela buruh”, dicap tak mendukung perjuangan hanya karena sebagian besar karyawan ada di sana. Cacat pikir tentu saja ada pada lawan bicara yang dengan sempit mengaitkan dukungan dengan ikut atau tak ikut aksi: kalau pun tujuannya memang tulus untuk memperjuangkan nasib buruh, bukan karena agenda politis dari pengurus serikat buruh, atau pihak luar yang menungganggi gerakan tersebut.

Argumen untuk demo di atas juga masuk kategori Argumentum Ad Populum Fallacy atau Fallacy Argumen Rakyat. Argumen ini menyatakan karena mayoritas memiliki pandangan tertentu maka pandangan ini benar. Tak heran fallacy jenis ini juga sering disebut sebagai Democratic Fallacy. Meskipun sebagian besar karyawan memiliki satu pandangan tertentu bukan berarti pandangan ini benar, dan semua karyawan harus berpandangan yang sama.

Argumentum Ad Hominem Fallacy

Fallacy ini terjadi ketika saat lawan bicara bukannya mementahkan argumen tapi menyerang pribadi yang menyampaikan argumen tersebut. Ini sering kita dengar pada debat politik.

Seorang ayah menasihati putranya yang beranjak dewasa untuk menghindari rokok karena merokok menyebabkan kanker paru. Sang anak tak terima, bilang: “Bagaimana Ayah melarang saya merokok padahal Ayah sendiri seorang perokok?” Jadi bukannya berargumen kenapa rokok tak menyebabkan kanker paru, atau aspek negatif lainnya, sang putra menyerang posisi sang bapak yang tak konsisten antara ucapan dan perbuatan. (Contoh ini juga masuk kategori Tu Quoque Fallacy).

Ada bagian yang saya ingat benar dari debat cagub DKI putaran pertama, tanggal 13 Januari 2017, karena tiba-tiba debat menyinggung topik yang menjadi “kontroversi batin” saya: peran teori dan praktek.

Paslon Nomor 3 berargumen bahwa pembangunan infrastruktur oleh Paslon Nomor 2, paslon petahana, abai terhadap pembangunan manusia. Paslon Nomor 2 tak sepakat: “Bagaimana orang mau sekolah, mau beribadah jika banjir sampai tiga minggu?” kata gubernur petahana dan seterusnya, seterusnya, dengan argumen-argumen cerdas. Sampai di sini sebenarnya cukup. Tapi, beliau melanjutkan: “Kalau kita hanya membangun…membangun manusia, membangun manusia, tapi tidak ada bangun benda matinya, itu tau apa namanya enggak? Itu namanya teori, ngajar jadi dosen di kampus! Cuman ngomong mau bangun ini, bangun itu tapi tidak ada action-nya!”

Ooops, dalam 17 detik yang tak perlu, tiga logical error meluncur.

Yang pertama sangat jelas adalah serangan pribadi (Argumentum Ad Hominem, Abusive). Kenapa menyerang profesi, padahal tak ada relevansinya terhadap argumen yang disampaikan?

Kedua, terlalu jauh untuk membangun opini seorang dosen sebagai jago teori yang tumpul di lapangan. Selip pikir macam ini disebut Genetic Fallacy yakni meragukan pernyataan atau gagasan seseorang berdasarkan asal muasal orang tersebut (dalam hal ini dari kalangan dosen). Ingat mantan presiden Obama walau seorang seorang dosen hukum konstitusi (teori banget) dianggap berhasil membangun ekonomi AS pasca krisis ekonomi tahun 2008 dan melenyapkan dalang serangan 9/11. Sebaliknya berdasarkan kekacauan yang terjadi pada sepuluh hari pertama pemerintahan Tuan Trump -seorang eksekutif dari dunia bisnis yang identik dengan praktek atau kerja, kerja dan kerja- para pakar manajemen bisnis memberikan rapor merah (baca di sini).

Terakhir, apakah praktek selalu lebih baik dari teori? Ini debat terpisah karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, punya tempat sendiri-sendiri pada alur waktu suatu program baik aspek strategis, operasional dan taktis. Fakta bahwa topik ini dimunculkan adalah sebuah penyimpang perhatian dari argumen utama dan merupakan logical error yang disebut Red Herring Fallacy.

(Bersambung).

*****

Image: http://bookboon.com/blog/2012/02/logical-thinking-how-to-use-your-brain-to-your-advantage/

Advertisements

Trump Menang Pemilu, Ilmu Statistika Kalah Telak?

coverDengan kemenangan  Trump apakah Ilmu Statistika kalah telak?

Hasil jajak pendapat terakhir sebelum pemilu mengunggulkan Clinton, dengan suara populer 3% di atas Trump.

Namun di AS seorang kandidat presiden menang bukan dari perolehan suara populer tapi melalui suara electoral college, yakni jumlah anggota kongres (senat dan DPR) dari tiap negara bagian. Kandidat dengan suara populer tertinggi di satu negara bagian akan mengantongi semua suara electoral college dari negara bagian tersebut –winner takes all.

Sumber populer dan andal dalam hal tebak-menebak hasil pemilu The Upshot dari koran The New York Times dan situs Fivethirtyeight mengeluarkan prediksi suara electoral college terakhir mereka: peluang Clinton menjadi presiden adalah 85% (The Upshot) dan 70% (Fivethirtyeight).

The Upshot dan Fivethirtyeight bukan lembaga polling. Mereka mengembangkan dan mengolah data hasil jajak pendapat poll-poll dari seluruh negara bagian dengan metodologi masing-masing, sehingga hasilnya berbeda. Fivethirtyeight selalu akurat melakukan prediksi pemilu sejak tahun 2008. Nate Silver, pendiri Fivethirtyeight, kala masih di The New York Times, adalah satu-satunya orang yang dengan benar memprediksi hasil pemilu tahun 2008 (pemilihan presiden, senat dan DPR) sampai pada tingkat negara bagian.

Entah prediksi peluangnya 85% atau 70%, sang Madam Secretary tetap memiliki kans besar jadi Madam President.

Lantas, kenapa  Trump justru jadi jawara?

Apakah  Clinton tumbang karena sebelas hari sebelum pemilu direktur FBI kirim surat kepada pimpinan DPR, soal investigasi terkait kasus email, yang dengan drastis menurunkan popularitasnya? Tidak, mayoritas opini menyatakan bahwa hasil jajak pendapat terakhir telah mencerminkan dampak surat tersebut, dan  Clinton masih jadi favorit.

Banyak peluang dimana kesimpulan Ilmu Statistika bisa salah. Bukan hanya kali ini jajak pendapat gagal total dalam memprediksi hasil aktual. Kita masih ingat akhir bulan Juni lalu sebelum Britania Raya memilih cerai dari Uni Eropah dimana jajak pendapat sebelum hari-H jelas bilang ada lebih banyak rakyat negara itu tak mau pisah.

Karena pengolahan data hasil jajak pendapat dan perhitungan peluang kemenangan kandidat ini didasarkan atas Ilmu Statistika, dapat dimaklumi jika muncul keraguan berkenaan keilmiahan Ilmu Statistika.

Ilmu Statistika mencoba menyatakan kebenaran umum berdasarkan kebenaran khusus: sampel diukur untuk menarik kesimpulan mengenai populasi secara keseluruhan. Dengan cara ini, Ilmu Statistika membantu menghemat waktu dan tenaga karena tak mungkin, dan tak perlu, tanya warga satu per satu siapa yang akan mereka pilih.

Banyak peluang memungkinkan kesimpulan statistika bisa keliru seperti kesalahan prosedur pemilihan sampel/responden, responden tidak jujur dalam menyatakan pilihannya, responden berubah pikiran saat menyoblos dan sebagainya.

Agar kesimpulan bisa dengan benar diambil, seleksi responden harus mengikuti prosedur metode Ilmu Statistika. Misalnya, pemilihan sampel harus acak dan mereka yang terpilih mesti mewakili karakteristik populasi dan persentase kelompok etnis di Amerika. Jika prosedur ini tidak diikuti maka sampel tak lagi valid mewakili populasi sehingga hasil akhir akan berbeda dengan survei.

Juga ada kelompok demografis tertentu yang enggan disurvei yang mengakibatkan bias terhadap komposisi kelompok demografis responden. Selain itu, ada fenomena dimana responden risih mengakui pilihan mereka yang sebenarnya karena punya efek sosial negatif (Bradley Effect). Dan tentu saja orang bisa berganti pikiran saat nyoblos.

Meskipun potensi kesalahan-kesalahan ini ada, peluangnya kecil karena semua jajak pendapat terakhir konsisten Clinton akan berjaya.

Lantas kenapa hasil jajak pendapat meleset? Yang pasti, Ilmu Statistika tak keliru dalam hal ini. Sebenarnya ia telah mengakomodasi kemungkinan hasil yang berbeda melalui konsep margin of error, dan keunggulan Clinton masih dalam rentang kesalahan margin tersebut. Selain itu, ada asumsi dasar dari perhitungan ini bahwa semua pemilih akan menggunakan hak pilihnya yang kenyataanya tak demikian, dan hal ini berpengaruh terhadap hasil pemilu.

Keunggulan Clinton sebesar 3% masih dalam batas margin of error. Untuk mengakomodasi kesalahan sampel dalam memprediksi nilai rata-rata populasi maka ketika nilai rata-rata sampel dihitung disertakan juga margin of error, yaitu persentase plus-atau-minus dari nilai rata-rata yang didapatkan tadi. Misalnya ada 51% pemilih Amerika condong kepada Clinton plus-minus 3%; sehingga rentang persentase voters yang akan memilih Clinton sebesar 48%-54%.

Nilai margin yang biasa dipakai ada pada kisaran 1%-5%. Pemilihan margin of error akan menentukan jumlah responden yang harus masuk survei. Semakin rendah margin of error yang diinginkan, karena makin akurat, semakin banyak responden yang harus disurvei.

Untuk tujuan pembahasan, kandidat selain Clinton dan  Trump diabaikan. Jika hasil polling terakhir menunjukkan Clinton unggul 3%, maka porsi suara untuk Clinton adalah 51.5% dan porsi Trump 48.5%.

Semisal kita gunakan margin of error 3% maka rentang sokongan untuk Clinton adalah 48.5% – 54.5%, Trump 45.5% – 51.5%. Dengan rentang persentase seperti ini, Trump jelas punya peluang untuk menjungkal Clinton. Contohnya Clinton 49% dan Trump 51%.

Faktanya Trump memang menang tipis di beberapa swing states seperti Florida (1.3%),  Pennsylvania (1.2%) dan Wisconsin (1%).

Selain itu jika memang ada pendukung Trump yang malu-malu, dan angkanya di atas 3% (3 dari 100 orang), keunggulan 3%  Clinton dapat terkejar.

Hasil jajak pendapat berasumsi bahwa semua responden nantinya akan pergi ke tempat pemungutan suara. Jika pun ada pemahaman bahwa tak semua pemilih yang terdaftar akan nyoblos, asumsinya adalah persentase golput akan merata di semua kelompok demografis, jadi tidak masalah. Jika meleset, asumsi dasar ini akan berdampak drastis terhadap hasil akhir.

Kenyataannya, tidak semua pemilih akan pergi nyoblos. Misalnya pada pemilu tahun 2012, tingkat partisipasi pemilu masyarakat hanya 57.5%. Dibanding negara maju lainnya, tingkat partisipasi di AS ini jauh lebih rendah. Di Swedia dan Denmark, misalnya, tingkat partisipasinya sekitar 86%. Bahkan di negara yang mewajibkan penduduk untuk nyoblos seperti di Australia jumlah golput masih lumayan banyak (9%) [1].

Selain itu, tingkat partisipasi golput pada masing-masing kelompok demografis ternyata rentan fluktuasi, tergantung kandidat yang tampil. Pada era Obama, partisipasi kelompok pemilih kulit hitam naik drastis. Pada pemilu kali ini orang-orang meremehkan kemampuan Trump untuk memobilisasi pria kulit putih, khususnya mereka yang non-sarjana. Pada saat yang sama, pemilih kaum hawa dan kulit hitam (basis pendukung partai Demokrat) ternyata tidak begitu antusias untuk Clinton.

Dampak dari tingkat partisipasi pemilu pendukung masing-masing kandidat terlihat pada bagian berikut.

Skenario kemenangan Trump melalui tingkat partisipasi pemilih masing-masing kandidat. Gambar 1 memberikan skenario kemenangan Trump berdasarkan tingkat partisipasi pemilih dari masing-masing kandidat, dihitung mulai tingkat partisipasi 55%. Jangkar dari skenario ini adalah hasil polling terakhir yakni Clinton 51.5% dan Trump 48.5%.

table.jpg

Gambar 1: Skenario kemenangan Trump melalui voter turnout masing-masing kandidat

Seperti yang terlihat, dengan persentase pada Gambar 1, tidak ada cara lain bagi Trump untuk menang jika tingkat partisipasi pendukungnya di bawah 60%, atau jika tingkat partisipasi pendukung Clinton di atas 90%.

Namun terdapat banyak skenario dimana Trump bisa menang; misalnya jika tingkat partisipasi pendukungnya sekurang-kurangnya 60% tapi pendukung Clinton maksimum 55%.

Trump hanya akan menang jika tingkat partisipasi pendukungnya lebih tinggi dari tingkat partisipasi pendukung Clinton. Berapa persen sekurang-kurangnya gap tingkat partisipasi antara pendukung Clinton dan pendukung Trump sehingga Trump bisa mengatasi defisit 3% suara populer dari Clinton? Gambar 2 menunjukkan skenario tersebut.

Terlihat bahwa semakin tinggi tingkat partisipasi pendukung Clinton, semakin tinggi minimal gap tingkat partisipasi pendukung Trump. Misalnya, ketika tingkat partisipasi pendukung Clinton 55%, minimal gap dari pihak Trump adalah 3.4% atau tingkat partisipasi 58.4% agar bisa menang. Sebaliknya jika tingkat partisipasi pendukung Clinton 94.07%, minimal gap dari pihak Trump adalah 5.82% atau tingkat partisipasi 99.89% agar bisa menang.

Ini mungkin alasan tim kampanye Clinton lebih menekankan strategi ground game, pergi door-to-door, agar pemilih nyoblos. Jangan heran laporan situs web Politico dari exit polls menyatakan bahwa ada lebih banyak pemilih yang dikontak oleh pihak Clinton dibanding Trump [2].

graph

Gambar 2: Persentase minimal gap tingkat voters turnout dari pendukung Trump agar Trump menang

Seperti disebutkan sebelumnya, kemenangan Trump terbantu oleh antusiasme pemilih kulit putih non-sarjana yang turnout-nya naik signifikan. Sebaliknya Clinton tidak berhasil memobilisasi pemilih perempuan meskipun pemilu kali ini bersifat historis karena inilah kali pertama Amerika punya peluang memiliki presiden perempuan.

Juga, menarik, menurut laporan Pew Research Center, pemilih dari partai Republikan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi. Hasil survei terakhir menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih dari partai Republikan adalah 73% dibanding voters dari partai Demokrat 61% [3]. Memakai angka ini pada skenario  di atas, maka Trump akan unggul 3.99%.

Bijak menyikapi kelemahan Ilmu Statistika. Jadi meskipun menurut poll, pada saat-saat terakhir sebelum pemilu, Clinton unggul  3% dengan suara populer tapi ternyata Trump keluar sebagai pemenang, Ilmu Statistika tidak-lah keliru. Pertama, angka 3% tadi masih dalam batas margin of error, kurang lebih hasil lempar koin. Selain itu dari skenario voters turnout jelas bahwa tak dibutuhkan celah yang signifikan bagi Trump untuk unggul.

Tak dipungkiri ada kelemahan pada teknik dan prosedur Ilmu Statistika. Tapi ia masih merupakan pilihan terbaik dalam mencari kebenaran melalui suatu proses ilmiah, dan selama 70 tahun terakhir telah membantu banyak orang untuk mengambil kesimpulan yang benar berdasarkan data.

Tentu naif secara membabi buta percaya pada kesimpulan statistika. Oleh karena itu hendaklah bijak menyikapi kekurangan-kekurangan ini.

****

Rujukan:

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2016/08/02/u-s-voter-turnout-trails-most-developed-countries/

[2] http://www.politico.com/story/2016/11/early-exit-poll-clinton-ground-game-230943

[3] http://www.pewresearch.org/2016/01/07/polls-and-votes-the-2014-elections-by-the-numbers/pm_15-01-07_votermodels_intentionturnout640px/

*****

 

Kodak dan Kisah Ambruknya Sang Raksasa

Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, raksasa yang kelelahan itu roboh, meski belum mau lempar handuk. Kodak, raksasa dunia fotografi, pada hari itu akhirnya mengajukan permohonan perlindungan bangkrut kepada Pengadilan Pailit AS melalui Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan.

Chapter 11 “pada intinya berfungsi membantu perusahaan yang sedang terancam bangkrut atau pailit, tetapi masih memiliki prospek pada masa datang. Itulah sebabnya mengapa pasal ini disebut dengan bankruptcy protection atau proteksi pailit.” jelas Ricardo Simanjuntak, pakar hukum kepailitan, sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia.

Kodak masih bisa bangkit. Tapi tentu tak sebagai raksasa lagi.

Transformasi Teknologi Fotografi

Para pundit merujuk pada transformasi teknologi fotografi, dari seluloid (film) ke silikon (digital), sebagai biang kerok ambruknya Kodak. Ironisnya, metamorfosa ini tersintesa dari lab Kodak sendiri. Pada tahun 1975, Steven J. Sasson, salah seorang insinyur Kodak, membuat kamera digital. Kamera digital pertama di dunia ini punya resolusi sepuluh ribu piksel; hasil jepretannya disimpan pada pita kaset.

Manajemen Kodak akui kamera Sasson ini “cute”.

That’s cute but don’t tell anyone about it,” kata Sasson mengenai reaksi manajemen Kodak, sebagaimana dikisahkan the New York Times. Pembesar Kodak jatuh hati, tapi mereka tidak sampai jatuh cinta pada penemuan ini.

Baru pada awal tahun 2004-lah Kodak mengumumkan untuk stop produksi kamera film dan beralih ke kamera digital, nyaris 30 tahun setelah Kodak membuat kamera digital pertama kali. Sayang, di pasar telah menunggu para samurai Jepang: Canon, Nikon dan Sony. Produk para pendekar Jepang ini dianggap lebih unggul dibanding Kodak. Lalu ada smartphone dengan fungsi kamera digital. Kamera ponsel pintar ini berkualitas, dan disukai pasar, sampai tidak bisa dibedakan ini ponsel atau kamera.  Kamera digital bikinan Kodak pun kalah bersaing.

Saham Kodak sebelum menyatakan diri bangkrut adalah 37 sen (0,37 dollar AS), padahal saham Kodak pernah dihargai 97 dollar AS per saham pada tahun 1997.

Tahun 1976, 90 % film kamera dan 85 % kamera yang dijual di AS adalah Kodak. Tahun 1996 penjualan Kodak pernah menembus angka 16 miliar dolar AS. Tahun 1999 laba bersih Kodak  2,5 miliar dollar AS. Karyawan Kodak pun harus dipangkas drastis dari hampir 150.000 menjadi kurang dari 15.000. Sangat tragis mengingat Kodak sebelumnya adalah raja pasar kamera. Kodak adalah Google dan Apple pada eranya.

Kodak bukan tidak menyadari ancaman kamera digital ini. Pada tahun 1981, setelah Sony merilis kamera digital, Kodak melakukan riset pasar yang sangat detail mengenai ancaman fotografi digital.

Kesimpulan riset adalah pertama: fotografi digital berpotensi menggerus bisnis inti Kodak yang didominasi kamera film. Kesimpulan kedua, butuh waktu untuk transformasi tersebut; tapi Kodak punya sekitar satu dekade untuk bersiap-siap. Ini harusnya jeda waktu (windows of opportunity) yang cukup bagi Kodak untuk mempersenjatai diri.

Kesalahan Strategis

Tetapi bukannya mentransformasi diri, Kodak malah melakukan kesalahan strategis. Daripada meningkatkan kualitas dan mematangkan teknologi kamera digital, supaya mantap beralih ke teknologi baru, Kodak justru hanya mau mengembangkan teknologi digital demi memperbaiki kualitas kamera film. Maksud Kodak begini: user akan menggunakan kamera untuk ambil potret, pilih foto mana mau dicetak, kemudian foto pilihan ini akan disimpan di dalam film pada kamera tersebut. Pada kamera konvensional, Anda tidak bisa melihat hasil jepretan sebelum foto tercetak. Pada kamera ini, user bisa pilih gambar mana yang mau dicetak, gambar mana yang mau dibuang. Kamera yang dipasarkan Kodak ini, Kodak Advantix Preview, bisa melakukan fungsi ini karena ia blasteran digital dan film. Kodak menghabiskan dana sekitar 500 juta dollar AS untuk mengembangkan produk Aventix.

Tapi mana ada orang mau beli kamera digital tapi masih harus bayar film seluloid untuk cetak foto?

Strategi setengah hati ini terus dikembangkan oleh Kodak meskipun pada tahun 1986, Kodak berhasil mengembangkan kamera digital dengan resolusi satu juta piksel pertama, yang menurut hasil riset Kodak sendiri merupakan ­breakthrough yang harus tercapai agar kamera digital bisa lepas landas.

Kenapa Kodak menerapkan strategi ini? Kodak enggan meninggalkan bisnis inti yang masih menguntungkan. “Pebisnis yang bijaksana akan menyimpulkan bahwa sebaiknya tidak terburu-buru untuk pindah dari bisnis yang menghasilkan 70 sen untuk 1 film ke digital yang, mungkin paling tinggi, hanya 5 sen,” kata Larry Matteson, mantan eksekutif Kodak. Kodak tahu tidak ada pilihan selain harus beradaptasi. Sayang, adaptasi yang dilakukan Kodak lambat.

Kodak ambruk bukan karena dibantai fotografi digital; Kodak ambruk karena ingin membantai fotografi digital.

Namun tidak ada alasan Kodak menuding digital fotografi sebagai kambing hitam karena Fujifilm, rival Kodak, juga kena tanduk tapi ia selamat.

Fujifilm, perusahaan yang punya bisnis inti seperti halnya Kodak juga ikut digilas. Bedanya, Fujifilm mau beradaptasi, melakukan transformasi bisnis, meninggalkan bisnis intinya ketika tahu itu tak lagi menguntungkan.

Fujifilm masih berjaya saat ini dengan kapitalisasi bisnis sebesar 12.6 miliar dollar AS, sedangkan Kodak hanya 220 juta dollar AS.

Clay Christensen penulis buku bisnis berpengaruh The Innovator’s Dilemma, menyalahkan Kodak atas kesalahan strategis ini. Kodak sudah melihat “tsunami” akan tiba, katanya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Kodak gagal melakukan transformasi karena terkunci pada model bisnis yang mengagungkan kamera film. Ketika Anda sudah menjadi pemimpin pasar, dan bisnis yang Anda kuasai hampir menjadi monopoli, dan sangat menguntungkan sebagai bisnis inti, Anda akan makin betah dengan model bisnis yang ada.

Ini sangat ironis, mengingat pendiri Kodak, George Eastman, juga menghadapi pilihan transformasi bisnis, bahkan dua kali, tapi ia bertindak berbeda. Pertama, ketika Eastman beralih ke kamera film dari kamera dry-plate yang sebenarnya masih sangat menguntungkan dia. Kedua, ketika Eastman pindah ke film berwarna meskipun pada waktu itu kualitasnya masih inferior dibanding film hitam putih, yang didominasi Kodak.

Kodak adalah bukti bahwa suatu perusahaan akan ambruk jika tidak punya mindset yang terbuka pada perubahan, sebesar apapun perusahaan tersebut. Perusahaan harus melakukan transformasi, jika bisnis utama tidak bisa lagi dipertahankan. Kodak bukannya tidak tahu perubahan itu akan datang; ia tidak membuka diri, kemudian lambat beradaptasi dengan perubahan.

Poin lain, sebuah perusahaan harus terus berinovasi bahkan jika output inovasi tersebut justru akan membabat bisnis inti. Sebenarnya inilah yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan: terus menantang dirinya sendiri dengan inovasi-inovasi baru. Jika tidak, kompetitor akan melakukan hal tersebut, dan perusahaan ketinggalan start. Ini sudah terjadi pada pasar ponsel pintar ketika Blackberry menggeser Nokia dan kemudian iPhone mengganyang Blackberry.

Dalam bisnis, timing berperan penting. Jika Anda pertama di pasar, untuk satu segmen produk tertentu, Anda akan mencuri start, dan pasar akan di bawah kendali Anda. Kodak seharusnya bisa memanfaatkan ini karena ia mewujudkan mimpi fotografi digital, tapi perusahaan ini gagal memanfaatkan momen dan momentum, dan raksasa itu pun ambruk.

*****

Mont Blanc, Firdaus, dan Tukang Batu yang Tak Pernah Puas

Kereta api berlari meninggalkan Paris sejak lima jam lalu; kini bergerak cepat mengejar rangkaian pegunungan Alpen, di perbatasan Prancis-Italia.

Ke Roma, dari Paris, makan waktu 12 jam. Saya ambil perjalanan siang. Rugi besar kalau malam, sebab ini kesempatan melihat Eropa sebanyak-banyaknya. Sengaja saya duduk di samping jendela, yang dirancang lapang dengan kaca jernih.

Mendadak, saya terhenyak. Apa yang mata saya lihat selama lima jam, tak sebanding pemandangan, kini terhampar di seberang jendela. Sontak saya raih kamera dari backpack.

Sebuah gunung menjulang dengan puncak bersorbankan salju. Orang Prancis sebut gunung itu Mont Blanc; orang Italia Monte Bianco; artinya sama: Gunung Putih.  Ketika itu awal April. Sejak 21 Maret belahan bumi utara masuk musim semi, tapi salju masih berserakan. Melihat salju adalah mimpi hidup saya; tetapi memandang salju membungkus Mont Blanc menguatkan harapan saya akan kemanusiaan: mencipta firdaus, di bumi, tak lagi mustahil.

Klik, klik, klik. Kamera saya bekerja, berpacu melawan kereta yang akan segera merampas keindahan itu pergi. Namun sesuatu terjadi.

Entah mengapa, pada momen syahdu seperti itu saya malah terbahak. Sambil menggeleng, saya kembalikan kamera ke tas. Saya teringat Paul Gauguin.

Paul Gauguin adalah seniman tersohor kelahiran Paris, yang terobsesi mencari “firdaus”. Pada tahun 1891, ia menemukan “firdaus” yang dicarinya di Pasifik Selatan, pada gugus kepulauan Polinesia Prancis.

Sang Maestro, pencipta keindahan itu sendiri, ternyata menemukan “firdaus” di sebuah negeri dengan kondisi geografis mirip pulau saya, Kepulauan Talaud, sebuah permata tropis yang tersembunyi di ujung timur Pasifik.

Ini sumber rasa lucu tadi: saya menemukan “firdaus” di negeri tuan Gauguin yang dingin; sebaliknya Tuan  Gauguin menemukan “firdaus” di negeri tropis, seperti kampung saya.

Ironi lain: selagi mata saya basah, terharu dengan keindahan negeri salju, dalam waktu bersamaan, ribuan bule mandi sinar matahari di Bali, Pattaya dan Karibia.

Rumput di halaman Tuan Gauguin memang lebih putih, bak selimut kapas. Tapi saya sadar, rumput di halaman rumah saya ternyata masih lebih hijau. Saya punya Tuan Gauguin untuk membuktikan.

Efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau”

Naluri alamiah manusia memang selalu menginginkan apa yang tidak dipunyai. Macam-macam: bentuk tubuh, pekerjaan, pasangan hidup, harta; daftarnya panjang.

Di Asia, kosmetik pemutih kulit laris manis. Di negeri orang kulit putih, klinik tanning (pencoklatan kulit) justru sesak pengunjung, tak peduli kanker kulit mengintai dari sinar ultra violet yang digunakan. Bagi orang Asia, kulit terang tanda orang sehat; untuk orang Eropa, kulit pucat tanda orang lemah.

Waktu kuliah di Australia saya bilang ke seorang teman, perempuan Anglo-Australia, “Saya suka hidung kamu.” Saya iri dia punya hidung bangir. Dia ragu-ragu, “Maksudnya, kamu suka hidungku yang besar ini?” tanyanya tak percaya diri. “Aku justru suka hidungmu.”

Di tempat kerja, staf menganggap supervisor lebih beruntung, supervisor manajer, manager GM, dan seterusnya. Tak cukup, karyawan pun masih suka membanding dengan perusahaan lain.

Keinginan tanpa kendali bukan fenomena masyarakat modern yang materialistis. Menjinakkan keinginan sudah menjadi kebajikan sejak jaman lampau. Tetapi sama seperti kebajikan lainnya: dipujikan tetapi belum tentu dilaksanakan.

3500 tahun yang lalu, sebuah negeri di Timur Tengah memberlakukan satu hukum nasional, meski tak seorang pun bakal tahu jika hukum itu dilanggar. Bunyi hukum itu: “Jangan mengingini rumah sesamamu. Jangan mengingini lembu milik sesamamu. Jangan mengingini istri sesamamu. Jangan mengingini apapun milik sesamamu.”

Seorang pangeran dari Nepal, Siddhartha Gautama, setelah berkelana kesana kemari, menyimpulkan: “Keinginan adalah sumber penderitaan.”

Dari Jepang, ada kisah tentang seorang tukang batu; cerita untuk mengingatkan agar tidak terus berandai-andai, antitesis efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau’. Berikut ceritanya.

Suatu hari seorang pria bekerja memotong batu di bawah terik matahari. Kepanasan, lelah, dan juga marah. Menyesali nasib, ia berkhayal kalau saja ia matahari, hidupnya pasti tidak semalang ini.

Maka jadilah ia matahari. Dan, oh, betapa nikmatnya menjadi matahari! Memancarkan cahaya ke seluruh bumi. Tapi itu tak lama. Sinarnya ternyata tak tembus awan tebal. Kalau saja ia menjadi awan.

Maka jadilah ia awan. Sebagai awan, ia senang dengan titik-titik air yang mengumpul di tubuhnya, hingga mereka menjadi hujan, jatuh membasahi bumi, mengalirkan kehidupan. Tapi tak lama kemudian, bertiuplah angin. Ia diterbangkan ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang tak disukainya. Diombang-ambingkan saat ia justru ingin istirahat. Dalam keputusasaannya, ia berpikir kalau saja ia menjadi angin.

Maka jadilah ia angin. Benar, angin ternyata luar biasa, tak ada yang bisa mengalahkannya! Rumah disapu tornado; hurikan menumbangkan pohon tanpa ampun; kapal tenggelam karena badai. Alangkah hebatnya!

Namun setelah ia amati lebih saksama, ternyata masih ada yang berdiri kokoh, tak mampus dihantam pukulannya: batu granit yang besar! Kalau saja ia batu granit itu.

Maka jadilah ia batu granit. Benar, menjadi batu, ia kuat perkasa tak roboh oleh angin manapun. What a feeling. Tapi sukacitanya tak bertahan. Tubuhnya kini berteriak kesakitan, dihantam palu dan dirobek pahat tukang batu.

Kalau saja ia menjadi tukang batu…

Kita tidak tahu apa yang kita inginkan sampai keinginan itu terwujud. Berhati-hatilah dengan apa yang kita inginkan! (Kalimat terakhir ini kutipan dari film Shrek Forever After, ketika saya menulis artikel ini, sedang diputar di bioskop-bioskop Jakarta. LOL.)

*****

Dilbert Dan Sepotong Hikayat Keberuntungan

Dilbert?

Dilbert bekerja di satu perusahaan Telekomunikasi AS. Tubuh insinyur Dilbert pendek, mirip kotak penghisap debu (vacuum cleaner). Kepalanya botak bergerigi, laksana gergaji. Sayang, meski pintar dan rajin, Dilbert belum ketiban promosi. [Lanjut baca….]

Hasil Luar Biasa Dari Hal-Hal Biasa

1.

Output berbanding lurus dengan input yang masuk: untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka upaya yang dikerahkan juga harus maksimal. Banyak orang dari segala lapisan dan struktur sosial yakin kepada hukum sebab akibat ini. [Lanjut baca…]


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 24 other followers


%d bloggers like this: