Telkomsel Jangkar Industri?

headline2Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel di tautan berikut, atau opini serupa terhadap kinerja Telkomsel tahun 2016.

Agar seimbang, mari lihat masalah ini dari berbagai sudut pandang pemangku kepentingan industri. Operator tak akan ada tanpa pelanggan; pelanggan tak akan bisa menikmati layanan tanpa operator.

Keberlangsungan industri ini merupakan tanggung jawab kita semua.

Telkomsel si rentenir serakah yang menghisap darah pelanggan atau sang pengurus bisnis yang cerdas nan dermawan?

Laba Telkomsel memang “lumayan gila” [1]:

Profit Margin Telkomsel 2014 : 29% (Laba 19 triliun, pendapatan 66 triliun).Profit Margin Telkomsel 2015 : 29% (Laba 22 triliun, pendapatan 76 triliun).Profit Margin Telkomsel 2016 : 32% (Laba 28 triliun, pendapatan 86 triliun).

Laba tahun 2016 katanya adalah “TERBESAR di Indonesia, mengalahkan laba BRI yang besarnya Rp 25 triliun” dan “merupakan karnaval keserakahan bisnis yang amat menggetarkan” karena “margin yang sangat eksesif, 32%, ibarat rentenir yang memasang bunga mencekik kepada pelanggannya”.

Yang tercecer dari dakwaan di atas adalah bahwa laba tersebut tak dilahap Telkomsel seorang diri. Melalui Telkom, 70% laba Telkom Group tahun 2016, atau Rp. 13.55 triliun, dibagi-bagi sebagai dividen. Dari angka ini, 52% masuk saku pemerintah. Rasio pembayaran dividen (jumlah dividen yang dibayarkan dibagi laba bersih) naik 10% (dari 60% tahun lalu menjadi 70%) sehingga fulus lompat mulus 46% (dari Rp. 9.29 triliun menjadi Rp. 13.55 triliun). Sisanya untuk dana ekspansi usaha dan biaya operasional perusahaan.

Padahal tak wajib Telkom bayar dividen.

Selain itu, pada tahun 2016 Telkom setor pajak sebesar Rp. 9.02 triliun, naik 12.4%. Karena seperempat dari laba operasi masuk pundi pendapatan negara, maka semakin untung, semakin tinggi pula pajak yang disetor kepada pemerintah.

Dengan demikian, pada tahun 2016, Telkom menyumbang total Rp. 16.07 triliun ke kas negara.

Lampiran 1 menunjukkan pembayaran pajak dan dividen Telkom pada enam tahun terakhir, tanpa henti. Lampiran 2 memperlihatkan prosentase laba bersih dan rasio pembayaran dividen. Kinerja keuangan memang luar biasa tapi sebagian besar dari net income tersebut tak masuk kantong Telkomsel/Telkom. Yang tersisa dipakai untuk ekspansi dan biaya operasional perusahaan.

Perusahaan komersial, laiknya Telkomsel/Telkom Group, adalah sebuah entitas bisnis, bukan badan amal. Karena bukan yayasan nirlaba, bisnis hadir untuk memaksimalkan nilai dan kepentingan terbaik pemegang saham. Pelanggaran dari prinsip ini adalah pengingkaran dari fiduciary duty, yang bisa menyeret pemimpin perusahaan ke penjara.

Telkomsel, melalui Telkom, adalah perusahaan publik, dimana pemerintah Republik Indonesia memiliki saham mayoritas sebesar 52%. Sebagai perusahaan terbuka, semua warga negara Indonesia bisa menjadi pemilik Telkom, dengan demikian ambil bagian dari kesejahteraan ekonomi perusahaan. Jadi, Telkom bertanggung jawab kepada Pemerintah sebagai pemilik saham mayoritas dan kepada publik.

Oleh karena Pemerintah membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, jalan-jalan baru dan berbagai infrastruktur lainnya dari pajak dan dividen, maka masyarakat dan pelanggan mendapat manfaat tak langsung dari kinerja apik Telkom Group.

Manfaat langsung, selain layanan dan jaringan yang bisa diperoleh masyarakat luas, termasuk para pelanggan yang punya saham Telkom, adalah apresiasi harga saham dan pembagian dividen. Harga saham akan naik paralel dengan kinerja perusahaan. Misal, selama tahun 2016 nilai saham Telkom naik sebesar 28%. Tingkat pengembalian investasi pada tahun 2016 -apresiasi saham Telkom dan dividen- ini jelas jauh lebih tinggi dari simpanan bank.

Kita belum bicara rantai distribusi suplai dan penjualan, yang nasibnya tergantung pada jatuh bangunnya perusahaan.

Jadi, pemangku kepentingan Telkom Group bukan hanya pelanggan saja, tapi juga pemegang saham, pemerintah, pemasok barang dan jasa, distributor dan publik lain terkait.

Hanya perusahaan untung yang bisa terus beroperasi dan demikian terus melayani kepentingan semua pemangku kepentingan, terutama memastikan hajat hidup orang banyak bisa berkelanjutan, bayar pajak, bayar dividen, dan mendongkrak nilai perusahaan.

Jika kita bandingkan dengan Indosat dan XL, mereka tak tentu bayar pajak penghasilan, karena merugi. Ironinya, perusahaan yang merugi bukan saja tak bayar pajak penghasilan pada periode tersebut tapi mendapatkan manfat pajak dari kerugian yang mereka alami (deferred tax asset), yang bisa diklaim hingga sepuluh tahun kedepan.

Tapi ironinya lagi meskipun kedua operator ini merugi, dan dapat manfaat pajak dari pemerintah, mereka tetap bayar dividen. Tahun 2014, XL walau rugi masih bayar dividen satu triliun rupiah lebih. Demikian juga Indosat pada tahun 2012 dan 2013. Lihat Lampiran 3 dan Lampiran 4.

Saya pikir hanya orang dengan ideologi kiri yang sangat ekstrem/komunis yang tuding Telkomsel/Telkom Group, dengan total kontribusi pajak dan dividen Rp. 22.6 triliun kepada pemerintah dan publik (tahun 2016 saja), dan merupakan agen katalis perekonomian bangsa, sebagai si “rentenir [serakah] yang dengan santai mencekik dan menghisap darah pelanggannya”.

Karnaval keserakahan bisnis yang amat menggetarkan atau komparasi yang tak kucing-dengan-kucing?

Menurut sumber yang sama, di Asia, rata-rata profit margin perusahaan layanan telco sekitar 20an%. “Sebagai contoh Singtel (Singapore Telecom) sebesar 21% – jauh dibawah Telkomsel. Sementara profit margin Telstra Australia hanya 20%; Telco Thailand (AIS) 21%; Telco Phillipina (PLDT) hanya 17% dan profit margin China Mobile hanya 15%.”

Kesimpulannya: “Profit margin Telkomsel jauh di atas rata-rata dunia, 3 kali lipatnya. Atau jika dibanding Asia, lebih tinggi 50%.”

Komparasi ini campur aduk dan tak pas sebab Telkomsel adalah unit bisnis berbasis selular sedangkan perusahaan seperti Telstra, PLDT atau Singtel adalah holding company yang menawarkan berbagai layanan telco seperti fixed lines, multi-media, selular dan sebagainya.

Sehingga lebih cocok membandingkan dengan kinerja Telkom Group. Laba bersih Telkom Group tahun lalu adalah 25.1%, memang lebih tinggi dari Telstra dan Singtel tapi tak jauh-jauh amat.

Penting untuk melihat Telkomsel sebagai bagian dari portfolio Telkom Group karena direktur Telkomsel datang dari Telkom, dan keputusan mengenai investasi dan pendanaan operasi masih harus mendapat persetujuan akhir dari Telkom, yang tentunya menghitung untung rugi perusahaan dari kacamata Telkom Group.

Hal ini penting karena untuk perusahaan induk bisnis telco, segmen bisnis selular masih paling menjanjikan dan menguntungkan, kalau bukan sang juru selamat. Misalnya untuk Telkom Group, meskipun revenue Telkomsel tahun 2016 menyumbang hanya 75% dari keselurahan pendapatan Group, Telkomsel menyumbang 97% dari laba bersih. Lihat Lampiran 5. Tak heran pada RUPS Telkomsel, Jumat 5/5/17, dua direktur Telkomsel diambil dari internal Telkomsel, sesuatu yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Kedua, perbandingannya jomblang karena kondisi makroekonomi dan kebijakan fiskal dan moneter yang tak sama di tiap negara sehingga mempengaruhi laba perusahaan.

Di Australia, misalnya, pajak penghasilan perusahaan lebih tinggi dari Indonesia, tingkat inflasi dan tingkat suku bunga yang lebih rendah yang menekan laba perusahaan. Sehingga Telstra lebih berpeluang untuk mencetak margin laba lebih rendah dibanding Telkom.

Ketiga, tiap negara memiliki industry life-cycle stage berbeda dan faktor-faktor eksternal industri seperti, politik, hukum, sosial dan teknologi yang mempengaruhi kinerja perusahaan.

Keempat, Net Income adalah accounting profit, yang hasilnya bisa berbeda menurut metode perhitungan yang digunakan, terutama sehubungan dengan depresiasi dan inventaris perusahaan.

Tapi fakta bahwa laba perusahaan ada pada level 20%-an menunjukkan bahwa industri telco di Asia masih bagus-bagusnya.

Terakhir, membandingkan Telkomsel dengan Apple dengan Google juga tak elok. Apple baru-baru ini saja mau bagi dividen; dan baik Apple maupun Google bermasalah dengan pajak. Apple lebih senang parkir duit di luar negara ketimbang kena pajak di negara sendiri.

Sebaliknya, Telkom Group dengan setia setor pajak dan tulus berbagi fulus dividen.

Kantong Jutaan Pelanggan Tercekik?

Revenue solves all business problems, kata Eric Schmidt, Executive Chairman Alphabet Inc, induk perusahaan Google. Sebaliknya, juga benar, turunkan harga adalah tuntutan primordial pelanggan. No brainer: semua ingin harga turun. Wajar, karena kita makhluk ekonomi, yaitu dapat manfaat paling besar dengan biaya minimal.

Tapi sebagai makhluk ekonomi kita juga pastinya taat hukum penawaran dan permintaan. Barang naik harga saat permintaan lebih banyak dari yang bisa disediakan, dan sebaliknya turun ketika lebih banyak penawaran dibanding permintaan.

Perusahaan komersial seperti Telkomsel kiranya sangat hati-hati berjalan di atas balok keseimbangan bernama supply and demand ini dengan turut memperhatikan prinsip ekonomi lain yaitu Elastitas Harga. Seberapa jauh harga masih bisa naik hingga pelanggan masih tetap mau beli produk kita?

Tingkat keseimbangan ini pasti dipantau terus oleh Telkomsel, dengan melihat jumlah bersih dari pelanggan yang datang dan pergi. Telkomsel hanya satu dari tujuh operator, sehingga pelanggan banyak pilihan.

Saya masih ingat waktu sekolah di Australia pada jaman ketika telpon rumah masih dominan, dan perusahaan telco seperti Telstra dan Telkom seperti monopoli karena kompetitor hanya satu-dua yang jauh lebih kecil.

Ketika Telstra merilis kinerja keuangannya yang prima, orang-orang malah sinis. Politikus campur tangan, tekan Telstra untuk turunkan harga.

Tapi struktur industri telco di Australia pada era itu jauh berbeda dengan kondisi di tanah air sekarang.

Satu hal, industri telekomunikasi Indonesia sudah melakukan deregulasi, monopoli Telkom dihapus dan operator bebas bersaing. Hingga saat ini Indonesia merupakan salah satu negara dengan operator terbanyak.

Dari aspek strategi bisnis, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh perusahaan untuk tetap kompetitif di tengah persaingan ketat ini, yakni penawaran produk dengan harga murah (cost leadership) atau menawarkan diffrensiasi produk yang punya value-added, seperti kualitas, tapi harga premium.

Perusahaan bisa bersaing dengan harga murah karena ongkos produksi lebih rendah. Sebaliknya perusahaan bisa menawarkan diffrensiasi produk karena manfaat yang didapatkan dengan menawarkan layanan value-added lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan layanan tersebut.

Telkomsel sepertinya menerapkan strategi diffrensiasi, karena merasa punya nilai lebih dibanding operator lain, terutama cakupan jaringan yang paling luas hingga ke daerah-daerah terpecil. Telkomsel juga memastikan kualitas jaringannya terbaik di banyak tempat.

Namun strategi ini bisa gagal jika ongkos produksi naik untuk menyediakan layanan tapi pelanggan tak merasa ada nilai tambah yang diterima. Jadi Telkomsel harus berhati-hati jangan sampai biaya untuk menyediakan layanan yang berbeda tersebut lebih tinggi dari harga yang mau dibayarkan oleh pelanggan.

Strategi ini akan terguncang jika fokus kompetisi berubah dari ragam layanan value-added menjadi isu harga semata. Ini bisa terjadi jika pesaing Telkomsel berhasil menyamakan kedudukan dalam hal cakupan sinyal dan mampu beri layanan dan kualitas jaringan yang sama atau lebih baik dari Telkomsel [2].

Kapan Harga Turun?

Tarif akan turun jika terjadi kelebihan pada kapasitas industri, atau jika ada teknologi pengganti yang lebih murah. Ekses kapasitas terjadi jika lebih banyak jaringan yang disediakan dibanding yang bisa digunakan pelanggan. Jika harga mau turun maka operator harus membangun lebih banyak jaringan, khususnya di daerah terpencil, karena suplai akan naik.

Tapi melakukan ini berarti bunuh diri. Itulah kenapa umumnya hanya Telkomsel yang membangun di daerah terpencil. Bukan rahasia, di daerah urban Telkomsel kalah bersaing karena ada lebih banyak suplai di sana.

Strategi operator untuk melakukan infrastructure sharing juga akan mengurangi suplai dan dengan demikian harga bisa naik, khususnya jika janji penghematan biaya dari sinergi tak terwujud.

Di satu sisi, mengurangi jumlah operator dari tujuh menjadi tiga atau empat, seperti infrastructure sharing tadi, juga akan mengurangi suplai industri, yang akan menaikkan harga. Selain itu, pasar yang terkonsentrasi pada tiga atau empat operator, umumnya akan membuat harga naik karena kini operator punya pricing power dari pasar yang terkonsolidasi.

Sebaliknya, jika Telkomsel mengurangi harga, ini bisa melemahkan operator lain yang sudah berdarah-darah karena tarif yang tak sustainable. Jika Telkomsel melakukan itu, bisa jadi Telkomsel melakukan aksi predatory pricing, yakni menurunkan harga untuk mematikan persaingan.

Di satu sisi, dengan menurunkan harga, jaringan Telkomsel akan kewalahan karena pelanggan churn dari operator lain, dan kualitas akan turun drastis. Dengan demikian, dengan aksi ini, bukan saja bisa melemahkan kompetitor tapi bisa juga mengurangi kualitas jaringan Telkomsel sendiri.

Sebenarnya Telkomsel adalah jangkar bagi keberlanjutan industri. Jika jangkar itu putus, industri akan terombang-ambing dihantam gelombang dan kapal dapat tenggelam.

Keberlangsungan industri adalah tanggung jawab bersama. Pelanggan dan pelaku industri punya hubungan simbiosis mutualisme. Pelanggan tak akan ada tanpa pelaku industri. Pelaku industri tak akan ada tanpa pelanggan.

Tarif yang lebih kecil dari ongkos produksi akan membuat operator layu sebelum waktunya. Dan waktu tak berpihak pada operator. Semakin tinggi teknologi, semakin besar pipa yang harus disediakan, dan juga ongkos pemeliharaan, yang tak selaras dengan penghasilan dari pipa yang tersedia, yang dikenal dengan nama Efek Gunting: tuas atas sebagai payload pelanggan; tuas bawah adalah penghasilan yang diterima operator dari payload tersebut.

Sesuai generasi teknologi, 3G umumnya menuntut pipa tiga kali lebih besar dari 2G sedangkan 4G minta pipa tiga kali lebih besar dari 3G. Namun yang masih dominan menyumbang pendapatan adalah 2G, dengan layanan Suara dan SMS.

Ini kisah sedihnya: bisnis masa depan operator selular adalah data (3G dan 4G) tapi sampai saat ini layanan 2G masih menyubsidi layanan 3G dan 4G karena tarif data belum menyesuaikan dengan investasi dan biaya pemeliharaan jaringan. Tapi dalam waktu bersamaan layanan 2G sedang dibantai oleh layanan data 3G dan 4G melalui aplikasi OTT seperti Whatsapp dan Line.

Tapi kita tetap optimis dengan kerja sama semua pemangku kepentingan, industri kita akan berkelanjutan.

*****

Image credit: http://www.dreamstime.com

[1] http://strategimanajemen.net/2017/05/01/hacker-melawan-telkomsel-kisah-keserakahan-bisnis-bernilai-28-triliun/

[2] Rothaermel. Strategic Management: Concepts. McGraw-Hill Education.

Daftar Lampiran

Lampiran 1: Pembayaran Pajak dan Dividen Telkom 2011-2016

Lampiran 2: Margin Laba Bersih dan Rasio Pembayaran Dividen Telkom 2011-2016

Lampiran 3: Pajak dan Dividen XL 2011-2016

Lampiran 4: Pajak dan Dividen Indosat 2011-2016

Lampiran 5: Porsi Revenue dan Net Income Telkomsel dalam Telkom Group 2011-2016

*****

Advertisements

0 Responses to “Telkomsel Jangkar Industri?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 24 other followers


%d bloggers like this: