Peluang Sukses Meluncur ke Ruang Angkasa

telkom3s-2

Image: thalesgroup.com

Telkom akan meluncurkan satelit baru, codename Telkom 3S, pada tanggal 15 Februari 2017 antara pukul 4.39 – 6.05 WIB dari Kourou, Guyana Perancis, Karibia, menggunakan peluncur roket Ariane 5-ECA.

Jika berhasil mengorbit, ini akan merupakan satelit Telkom ke-9. Terakhir, pada bulan Agustus 2012, satelit Telkom, codename Telkom 3, gagal masuk orbit dan dinyatakan MIA (missing in action). Namun, bukan hanya Telkom yang pernah kandas antar satelit ke orbit. Pada bulan September 2016, Facebook menangis karena roket SpaceX meledak sebelum meluncurkan satelit punya dia.

Meski sebagian perusahaan telah memasarkan wisata antariksa, seperti Virgin Galactic (punya Tuan Richard Branson) dan SpaceX (punya Tuan Elon Musk) Industri Ruang Angkasa masih merupakan bisnis yang berisiko, dengan tingkat keberhasilan peluncuran pada akhir tahun 2016 masih sekitar 96% (Lampiran 1).

Industri Ruang Angkasa masih merupakan bisnis yang berisiko.

Gambar 1 menerangkan pergerakan jumlah peluncuran roket militer dan sipil, dan jumlah kegagalan, termasuk gagal orbit, dari tahun 1957 sampai tahun 2016. Terlihat bahwa jumlah peluncuran memuncak pada dekade tahun 1960-an dan 1970-an (puncak 141 peluncuran (100%)) pada tahun 1967 kemudian menurun hingga pertengahan dekade tahun 2000-an, baru kemudian naik lagi hingga saat ini, meskipun jumlahnya masih jauh di bawah puncaknya tahun 1967 (Juli 1969 pendaratan manusia pertama di bulan).

Benar, seperti terlihat pada Gambar 1, jumlah kegagalan peluncuran turun jauh lebih dalam dibanding penurunan jumlah peluncuran (puncak 22 kecelakaan (100%) pada tahun 1958 dan tahun 1961). Bahkan, meskipun ada tren peningkatan peluncuran sejak tahun 2003, jumlah gagal-luncur tetap ditahan rendah.

Namun, perhatikan tak ada tahun yang lewat tanpa gagal-luncur, padahal wahana peluncur dan payload sangat mahal. Satelit Telkom 3S misalnya menelan biaya investasi total sekitar $200 juta dolar AS, atau sekitar 2,5 triliun rupiah.

gambar1

Gambar 1: Jumlah Peluncuran vs Jumlah Kegagalan

Jika kita bandingkan dengan industri Penerbangan, dengan tolok ukur Six Sigma Process Level maka jelas tingkat keselamatan industri Ruang Angkasa masih sangat tertinggal. Industri Penerbangan merupakan salah satu dari sedikit industri yang harus menerapkan, dan berhasil mencapai, tingkat keselamatan setingkat enam sigma (paling banyak 3,4 kecelakaan pesawat per satu juta penerbangan).

Pada Gambar 2, tingkat tertinggi keberhasilan peluncuran yang baru bisa dicapai pada tahun 1989 adalah 3.83 sigma. Bahkan secara kumulatif jika kita satukan jumlah peluncuran dan jumlah kegagalan tahun-per-tahun hingga akhir tahun 2016, level 3 sigma pun belum tercapai.

gambar2

Gambar 2: Tingkat keberhasilan peluncuran dengan Six sigma Process

Untungnya, tingkat kegagalan pda 15 tahun terakhir sudah ditekan rendah di bawah rata-rata, seperti ditunjukkan oleh Gambar 3. Pada Gambar 3, jumlah gagal luncur di-plot menggunakan c-Chart dari Statistical Process Control (SPC). Terlihat tren gagal-luncur sudah menurun sejak tahun 1970, mungkin seiring dengan membaiknya teknologi dan learning curve.

gambar3

Gambar 3: Jumlah gagal luncur dipetakan pada c-Chart

 

Kinerja Peluncuran Wahana Ruang Angkasa 1957-2016

Berdasarkan data dari SpaceLaunchReport.com kita petakan kinerja peluncuran melalui matriks nilai standar (Z-Score) Jumlah Peluncuran versus Jumlah Kegagalan pada Gambar 4, 5, 6 dan 7 berikut.

Matriks terbagi atas empat kotak yakni, Quadrant 1: Low-Launches/High-Fails, Quadrant 2: High-Launches/High-Fails, Quadrant 3: Low-Launches/Low-Fails dan Quadrant 4: High-Launches/Low-Fails.

Sengaja penomoran dirancang demikian sehingga nomor yang lebih tinggi (Quadrant 4) adalah kotak terbaik karena meskipun pada tahun tersebut jumlah peluncuran di atas rata-rata, jumlah gagal-luncur berhasil ditahan di bawah rata-rata.

Pada Gambar  4, misalnya, terlihat tahun 1983, di Quadrant 4, jumlah gagal-luncurnya kira-kira hampir sama dengan tahun 1957 (di Quadrant 3) tapi jumlah peluncuran secara signifikan lebih banyak dari tahun 1957.

gambar4

Gambar 4: Kinerja peluncuran 1957-2016

Matriks pada Gambar 4 di atas telah ditransformasikan ke grafik area di Gambar 5 berikut. Puncak Grafik menunjukkan kinerja terbaik (Quadrant 4) sedangkan dataran terendah merupakan kinerja terburuk (Quadrant 1). Menarik, sejak tahun 2001, kinerja dipertahankan pada Quadrant 3 (peluncuran dan kegagalan rendah, lihat juga Gambar 6).

gambar5

Gambar 5: Matriks kinerja peluncuran

 

gambar6

Gambar 6: Matriks kinerja peluncuran dekade terakhir (2000-2016)

Gambar 7 di bawah menunjukkan kinerja peluncuran pada dekade awal industri (tahun 1957 sampai tahun 1966). Terlihat mayoritas tahun berada pada Quadrant 1 yang ditandai dengan banyaknya insiden.

gambar7

Gambar 7: Matriks kinerja peluncuran dekade awal (1957-1966)

Yah, industri ini terus berbenah, sigap melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Secara keseluruhan jika kita lakukan analisa korelasi antara Tahun versus Jumlah Gagal-Luncur terlihat bahwa mereka memiliki korelasi negatif (-0.70), yakni semakin tinggi tahunnya, semakin rendah jumlah Gagal-Luncur, seperti Tabel 1 di bawah tunjukkan.

tabel1

Tabel 1: Analisa korelasi Tahun vs Jumlah Peluncuran

 

Kinerja Wahana Peluncur yang Masih Aktif

Sekarang, bagaimana peluang keberhasilan wahana peluncur yang akan menerbangkan satelit Telkom 3S, yakni Ariane 5-ECA? Berdasarkan data yang tersedia dari SpaceLaunchReport.com tingkat keberhasilan peluncuran Telkom 3S telah disesuaikan dengan estimasi Bayes menjadi 96.7%. Jika kita lihat pada Gambar 8, wahana ini menempati urutan ke-5, dari total 49 wahana yang aktif saat ini, dalam hal tingkat peluang keberhasilan luncur (nomor perdana disandang wahana Delta 2 dari AS dengan tingkat peluang 98.1%).

gambar8

Gambar 8: Prediksi tingkat keberhasilan wahana peluncur

Jika kita buat matriks seperti pada Gambar 4-7 di atas untuk wahana-wahana ini, hasilnya seperti Gambar 9 dan 10 di bawah. Terlihat kinerjanya mengumpul di sekitar pusaran matriks. Pada Gambar 10 terlihat jelas hanya tiga wahana yang masuk pada Quadrant 4 (kinerja terbaik). Satu di antaranya adalah Ariane 5-ECA yang akan membawa Telkom 3S.

Sejak tahun 2002, Ariane 5-ECA telah melakukan misi peluncuran sebanyak 69 kali dan gagal satu kali, yakni pada misi pertama. Jadi sudah 68 kali sang wahana sukses meluncur ke ruang angkasa tak terputus. Tak heran peluang keberhasilannya tinggi sekali, 96.7%.

gambar9

Gambar 9: Matriks kinerja wahana peluncur yang masih aktif

 

gambar10

Gambar 10: Kuadran kinerja wahana peluncur yang masih aktif

Berharap yang Terbaik untuk Peluncuran Satelit Telkom 3S

Berdasarkan data kinerja wahana di atas, jelas bahwa Ariane 5-ECA merupakan salah satu wahana peluncur yang terbaik yang ada saat ini, dan Telkom dengan benar memilihnya. Meskipun peluang keberhasilannya sangat tinggi, karena kinerja di masa lalu menunjukan akan hal tersebut, tetap saja ada peluang sebesar 2.3% untuk gagal.

Mirip pernyataan yang sering diberikan oleh para analis kepada investor: “Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan” demikian juga kita baru akan menarik nafas lega ketika Telkom 3S sudah mengorbit 35 ribu kilo meter di angkasa pada 118 derajat bujur timur.

Tentunya kita berharap yang terbaik, yakni misi peluncuran ini akan sukses.

*****

Lampiran 1: Space Launch Success Rate

lampiran1

*****

Advertisements

2 Responses to “Peluang Sukses Meluncur ke Ruang Angkasa”


  1. 1 Heri Heryadi March 30, 2017 at 9:03 am

    Pak Julitra ini ngegambar grafiknya pake app apa


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 24 other followers


%d bloggers like this: