Yang Lebih Berbahaya dari Hoax dan Berita Palsu

logicAda yang lebih berbahaya dari hoax dan berita palsu. Ini adalah logical fallacy: pernyataan-pernyataan cacat pikir yang berhasil menembus benteng logika orang-orang.

Hoax dan berita palsu, meski mengandung logical error, sebagian besar melibatkan aspek fakta, yang dengan bantuan internet, saat ini, dengan cepat dapat terbantahkan. Sebaliknya, menangkal logical fallacy lebih sulit karena melibatkan keterampilan dan alur berpikir.

Mereka yang pekerjaannya memrogram komputer sering menjumpai logical error pada program mereka dan tahu masalah ini lebih sulit diatasi (debugging) dibanding dengan factual error.

Syntax error, kode-kode yang tak sesuai grammar bahasa pemograman, halnya factual error, relatif gampang terdeteksi; bahkan secara internal komputer telah dirancang untuk menyaring syntax error sebelum program dijalankan.

Namun logical error berbeda. Komputer bisa saja dengan lancar mengeksekusi kode yang telah ditulis, karena sintaks tak bermasalah, tapi hasilnya salah. Output tak sesuai perhitungan atau rancangan. Tapi di mana masalahnya? Good luck mencari kode yang menyebabkan logical error ini!

Jika tak terdeteksi, logical error pada program komputer bisa berbahaya sehingga perlu metode tertentu untuk pendeteksian, dan membuat program kokoh saat logical error terjadi, khususnya pada sistem yang sensitif karena berkaitan dengan nyawa banyak orang.

Kita juga bisa menjadi korban logical error. Iklan-iklan yang gagal logika, investasi bodong dan tawaran cepat kaya, para fanatik yang sampai membunuh orang lain demi ideologi tertentu, perang yang tak perlu, kegiatan politik untuk memanipulasi opini publik, teori konspirasi dan urban legend.

Karena berpikir kritis tak alamiah, seperti bernafas dan berpikir intuitif, kita perlu belajar metode dan prosedur baku untuk mendeteksi cacat logika. Jika tidak, kita bisa menjadi korban mereka yang menyalahgunakan fallacy ini sebagai alat pamungkas untuk memanipulasi psikologi, emosi dan logika massa.

Mari kita lihat tiga fallacy berikut (empat fallacy akan dibahas pada artikel selanjutnya).

Logical fallacy yang paling sering kita temui tapi kita tak sadari adalah iklan.

Penasaran kenapa mobil-mobil di stan pameran selalu dijaga perempuan jelita nan seksi tapi produk iklan rokok dan kopi instan ditampilkan dengan aura kejantanan? Kenapa para pesohor laris manis jadi bintang iklan produk tertentu meskipun mereka tak punya kompetensi pada barang yang mereka tawarkan? Produk-produk yang mungkin mereka tak pakai?

Sadar tak sadar kelemahan kognitif kita sedang dimanipulasi (Weak Analogy Fallacy untuk contoh pertama dan Argementum Ad Verecundiam Fallacy, Liking Bias, Halo Effect untuk contoh kedua).

Karena kita punya bias kepada orang yang secara fisik menarik maka mereka yang ganteng dan cantik terpilih memasarkan produk yang tak berkaitan dengan penampilan fisik mereka. Dan  karena kita cenderung percaya pada para pesohor dipakailah para kampiun olahraga dan artis untuk mengiklankan produk walau mereka tak punya kompetensi untuk menilai bagus tidaknya produk yang mereka endorse.

Dan oh, jika menggunakan produk tersebut kita pikir –atau dimanipulasi untuk berpikir- kita bisa menjadi seperti mereka.

Fakta bahwa ada korelasi positif antara tingkat penjualan produk dengan tingkat ketenaran pesohor, dan fakta bahwa iklan-iklan yang gagal pikir seperti ini masih ada, walau tak murah untuk bayar para pesohor, bukti bahwa iklan-iklan ini berhasil.

Black-and-White Fallacy

Fallacy jenis ini muncul dari oversimplikasi masalah dan lawan bicara hanya diberikan pilihan hitam-putih.

Sembilan hari pasca serangan teroris 9/11, Amerika Serikat yang terluka dan marah secara blak-blakan memberi pilihan kepada negara negara lain untuk membantunya atau tidak, katanya: “Either you with us, or you are with the terrorists.” Apa yang salah dengan pernyataan-pernyataan seperti ini?

Nama keren dari cacat logika ini adalah Bifurcation atau –sesuai opsi pilihannya- Black-and-White Fallacy. Perhatikan pihak pertama menyodorkan kepada lawan bicara hanya dua opsi, padahal ada banyak alternatif pilihan, dari satu masalah yang kompleks.

Contoh lain, seorang karyawan, yang tak ikut demo “bela buruh”, dicap tak mendukung perjuangan hanya karena sebagian besar karyawan ada di sana. Cacat pikir tentu saja ada pada lawan bicara yang dengan sempit mengaitkan dukungan dengan ikut atau tak ikut aksi: kalau pun tujuannya memang tulus untuk memperjuangkan nasib buruh, bukan karena agenda politis dari pengurus serikat buruh, atau pihak luar yang menungganggi gerakan tersebut.

Argumen untuk demo di atas juga masuk kategori Argumentum Ad Populum Fallacy atau Fallacy Argumen Rakyat. Argumen ini menyatakan karena mayoritas memiliki pandangan tertentu maka pandangan ini benar. Tak heran fallacy jenis ini juga sering disebut sebagai Democratic Fallacy. Meskipun sebagian besar karyawan memiliki satu pandangan tertentu bukan berarti pandangan ini benar, dan semua karyawan harus berpandangan yang sama.

Argumentum Ad Hominem Fallacy

Fallacy ini terjadi ketika saat lawan bicara bukannya mementahkan argumen tapi menyerang pribadi yang menyampaikan argumen tersebut. Ini sering kita dengar pada debat politik.

Seorang ayah menasihati putranya yang beranjak dewasa untuk menghindari rokok karena merokok menyebabkan kanker paru. Sang anak tak terima, bilang: “Bagaimana Ayah melarang saya merokok padahal Ayah sendiri seorang perokok?” Jadi bukannya berargumen kenapa rokok tak menyebabkan kanker paru, atau aspek negatif lainnya, sang putra menyerang posisi sang bapak yang tak konsisten antara ucapan dan perbuatan. (Contoh ini juga masuk kategori Tu Quoque Fallacy).

Ada bagian yang saya ingat benar dari debat cagub DKI putaran pertama, tanggal 13 Januari 2017, karena tiba-tiba debat menyinggung topik yang menjadi “kontroversi batin” saya: peran teori dan praktek.

Paslon Nomor 3 berargumen bahwa pembangunan infrastruktur oleh Paslon Nomor 2, paslon petahana, abai terhadap pembangunan manusia. Paslon Nomor 2 tak sepakat: “Bagaimana orang mau sekolah, mau beribadah jika banjir sampai tiga minggu?” kata gubernur petahana dan seterusnya, seterusnya, dengan argumen-argumen cerdas. Sampai di sini sebenarnya cukup. Tapi, beliau melanjutkan: “Kalau kita hanya membangun…membangun manusia, membangun manusia, tapi tidak ada bangun benda matinya, itu tau apa namanya enggak? Itu namanya teori, ngajar jadi dosen di kampus! Cuman ngomong mau bangun ini, bangun itu tapi tidak ada action-nya!”

Ooops, dalam 17 detik yang tak perlu, tiga logical error meluncur.

Yang pertama sangat jelas adalah serangan pribadi (Argumentum Ad Hominem, Abusive). Kenapa menyerang profesi, padahal tak ada relevansinya terhadap argumen yang disampaikan?

Kedua, terlalu jauh untuk membangun opini seorang dosen sebagai jago teori yang tumpul di lapangan. Selip pikir macam ini disebut Genetic Fallacy yakni meragukan pernyataan atau gagasan seseorang berdasarkan asal muasal orang tersebut (dalam hal ini dari kalangan dosen). Ingat mantan presiden Obama walau seorang seorang dosen hukum konstitusi (teori banget) dianggap berhasil membangun ekonomi AS pasca krisis ekonomi tahun 2008 dan melenyapkan dalang serangan 9/11. Sebaliknya berdasarkan kekacauan yang terjadi pada sepuluh hari pertama pemerintahan Tuan Trump -seorang eksekutif dari dunia bisnis yang identik dengan praktek atau kerja, kerja dan kerja- para pakar manajemen bisnis memberikan rapor merah (baca di sini).

Terakhir, apakah praktek selalu lebih baik dari teori? Ini debat terpisah karena masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, punya tempat sendiri-sendiri pada alur waktu suatu program baik aspek strategis, operasional dan taktis. Fakta bahwa topik ini dimunculkan adalah sebuah penyimpang perhatian dari argumen utama dan merupakan logical error yang disebut Red Herring Fallacy.

(Bersambung).

*****

Image: http://bookboon.com/blog/2012/02/logical-thinking-how-to-use-your-brain-to-your-advantage/

Advertisements

0 Responses to “Yang Lebih Berbahaya dari Hoax dan Berita Palsu”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 24 other followers


%d bloggers like this: