Trump Menang Pemilu, Ilmu Statistika Kalah Telak?

coverDengan kemenangan  Trump apakah Ilmu Statistika kalah telak?

Hasil jajak pendapat terakhir sebelum pemilu mengunggulkan Clinton, dengan suara populer 3% di atas Trump.

Namun di AS seorang kandidat presiden menang bukan dari perolehan suara populer tapi melalui suara electoral college, yakni jumlah anggota kongres (senat dan DPR) dari tiap negara bagian. Kandidat dengan suara populer tertinggi di satu negara bagian akan mengantongi semua suara electoral college dari negara bagian tersebut –winner takes all.

Sumber populer dan andal dalam hal tebak-menebak hasil pemilu The Upshot dari koran The New York Times dan situs Fivethirtyeight mengeluarkan prediksi suara electoral college terakhir mereka: peluang Clinton menjadi presiden adalah 85% (The Upshot) dan 70% (Fivethirtyeight).

The Upshot dan Fivethirtyeight bukan lembaga polling. Mereka mengembangkan dan mengolah data hasil jajak pendapat poll-poll dari seluruh negara bagian dengan metodologi masing-masing, sehingga hasilnya berbeda. Fivethirtyeight selalu akurat melakukan prediksi pemilu sejak tahun 2008. Nate Silver, pendiri Fivethirtyeight, kala masih di The New York Times, adalah satu-satunya orang yang dengan benar memprediksi hasil pemilu tahun 2008 (pemilihan presiden, senat dan DPR) sampai pada tingkat negara bagian.

Entah prediksi peluangnya 85% atau 70%, sang Madam Secretary tetap memiliki kans besar jadi Madam President.

Lantas, kenapa  Trump justru jadi jawara?

Apakah  Clinton tumbang karena sebelas hari sebelum pemilu direktur FBI kirim surat kepada pimpinan DPR, soal investigasi terkait kasus email, yang dengan drastis menurunkan popularitasnya? Tidak, mayoritas opini menyatakan bahwa hasil jajak pendapat terakhir telah mencerminkan dampak surat tersebut, dan  Clinton masih jadi favorit.

Banyak peluang dimana kesimpulan Ilmu Statistika bisa salah. Bukan hanya kali ini jajak pendapat gagal total dalam memprediksi hasil aktual. Kita masih ingat akhir bulan Juni lalu sebelum Britania Raya memilih cerai dari Uni Eropah dimana jajak pendapat sebelum hari-H jelas bilang ada lebih banyak rakyat negara itu tak mau pisah.

Karena pengolahan data hasil jajak pendapat dan perhitungan peluang kemenangan kandidat ini didasarkan atas Ilmu Statistika, dapat dimaklumi jika muncul keraguan berkenaan keilmiahan Ilmu Statistika.

Ilmu Statistika mencoba menyatakan kebenaran umum berdasarkan kebenaran khusus: sampel diukur untuk menarik kesimpulan mengenai populasi secara keseluruhan. Dengan cara ini, Ilmu Statistika membantu menghemat waktu dan tenaga karena tak mungkin, dan tak perlu, tanya warga satu per satu siapa yang akan mereka pilih.

Banyak peluang memungkinkan kesimpulan statistika bisa keliru seperti kesalahan prosedur pemilihan sampel/responden, responden tidak jujur dalam menyatakan pilihannya, responden berubah pikiran saat menyoblos dan sebagainya.

Agar kesimpulan bisa dengan benar diambil, seleksi responden harus mengikuti prosedur metode Ilmu Statistika. Misalnya, pemilihan sampel harus acak dan mereka yang terpilih mesti mewakili karakteristik populasi dan persentase kelompok etnis di Amerika. Jika prosedur ini tidak diikuti maka sampel tak lagi valid mewakili populasi sehingga hasil akhir akan berbeda dengan survei.

Juga ada kelompok demografis tertentu yang enggan disurvei yang mengakibatkan bias terhadap komposisi kelompok demografis responden. Selain itu, ada fenomena dimana responden risih mengakui pilihan mereka yang sebenarnya karena punya efek sosial negatif (Bradley Effect). Dan tentu saja orang bisa berganti pikiran saat nyoblos.

Meskipun potensi kesalahan-kesalahan ini ada, peluangnya kecil karena semua jajak pendapat terakhir konsisten Clinton akan berjaya.

Lantas kenapa hasil jajak pendapat meleset? Yang pasti, Ilmu Statistika tak keliru dalam hal ini. Sebenarnya ia telah mengakomodasi kemungkinan hasil yang berbeda melalui konsep margin of error, dan keunggulan Clinton masih dalam rentang kesalahan margin tersebut. Selain itu, ada asumsi dasar dari perhitungan ini bahwa semua pemilih akan menggunakan hak pilihnya yang kenyataanya tak demikian, dan hal ini berpengaruh terhadap hasil pemilu.

Keunggulan Clinton sebesar 3% masih dalam batas margin of error. Untuk mengakomodasi kesalahan sampel dalam memprediksi nilai rata-rata populasi maka ketika nilai rata-rata sampel dihitung disertakan juga margin of error, yaitu persentase plus-atau-minus dari nilai rata-rata yang didapatkan tadi. Misalnya ada 51% pemilih Amerika condong kepada Clinton plus-minus 3%; sehingga rentang persentase voters yang akan memilih Clinton sebesar 48%-54%.

Nilai margin yang biasa dipakai ada pada kisaran 1%-5%. Pemilihan margin of error akan menentukan jumlah responden yang harus masuk survei. Semakin rendah margin of error yang diinginkan, karena makin akurat, semakin banyak responden yang harus disurvei.

Untuk tujuan pembahasan, kandidat selain Clinton dan  Trump diabaikan. Jika hasil polling terakhir menunjukkan Clinton unggul 3%, maka porsi suara untuk Clinton adalah 51.5% dan porsi Trump 48.5%.

Semisal kita gunakan margin of error 3% maka rentang sokongan untuk Clinton adalah 48.5% – 54.5%, Trump 45.5% – 51.5%. Dengan rentang persentase seperti ini, Trump jelas punya peluang untuk menjungkal Clinton. Contohnya Clinton 49% dan Trump 51%.

Faktanya Trump memang menang tipis di beberapa swing states seperti Florida (1.3%),  Pennsylvania (1.2%) dan Wisconsin (1%).

Selain itu jika memang ada pendukung Trump yang malu-malu, dan angkanya di atas 3% (3 dari 100 orang), keunggulan 3%  Clinton dapat terkejar.

Hasil jajak pendapat berasumsi bahwa semua responden nantinya akan pergi ke tempat pemungutan suara. Jika pun ada pemahaman bahwa tak semua pemilih yang terdaftar akan nyoblos, asumsinya adalah persentase golput akan merata di semua kelompok demografis, jadi tidak masalah. Jika meleset, asumsi dasar ini akan berdampak drastis terhadap hasil akhir.

Kenyataannya, tidak semua pemilih akan pergi nyoblos. Misalnya pada pemilu tahun 2012, tingkat partisipasi pemilu masyarakat hanya 57.5%. Dibanding negara maju lainnya, tingkat partisipasi di AS ini jauh lebih rendah. Di Swedia dan Denmark, misalnya, tingkat partisipasinya sekitar 86%. Bahkan di negara yang mewajibkan penduduk untuk nyoblos seperti di Australia jumlah golput masih lumayan banyak (9%) [1].

Selain itu, tingkat partisipasi golput pada masing-masing kelompok demografis ternyata rentan fluktuasi, tergantung kandidat yang tampil. Pada era Obama, partisipasi kelompok pemilih kulit hitam naik drastis. Pada pemilu kali ini orang-orang meremehkan kemampuan Trump untuk memobilisasi pria kulit putih, khususnya mereka yang non-sarjana. Pada saat yang sama, pemilih kaum hawa dan kulit hitam (basis pendukung partai Demokrat) ternyata tidak begitu antusias untuk Clinton.

Dampak dari tingkat partisipasi pemilu pendukung masing-masing kandidat terlihat pada bagian berikut.

Skenario kemenangan Trump melalui tingkat partisipasi pemilih masing-masing kandidat. Gambar 1 memberikan skenario kemenangan Trump berdasarkan tingkat partisipasi pemilih dari masing-masing kandidat, dihitung mulai tingkat partisipasi 55%. Jangkar dari skenario ini adalah hasil polling terakhir yakni Clinton 51.5% dan Trump 48.5%.

table.jpg

Gambar 1: Skenario kemenangan Trump melalui voter turnout masing-masing kandidat

Seperti yang terlihat, dengan persentase pada Gambar 1, tidak ada cara lain bagi Trump untuk menang jika tingkat partisipasi pendukungnya di bawah 60%, atau jika tingkat partisipasi pendukung Clinton di atas 90%.

Namun terdapat banyak skenario dimana Trump bisa menang; misalnya jika tingkat partisipasi pendukungnya sekurang-kurangnya 60% tapi pendukung Clinton maksimum 55%.

Trump hanya akan menang jika tingkat partisipasi pendukungnya lebih tinggi dari tingkat partisipasi pendukung Clinton. Berapa persen sekurang-kurangnya gap tingkat partisipasi antara pendukung Clinton dan pendukung Trump sehingga Trump bisa mengatasi defisit 3% suara populer dari Clinton? Gambar 2 menunjukkan skenario tersebut.

Terlihat bahwa semakin tinggi tingkat partisipasi pendukung Clinton, semakin tinggi minimal gap tingkat partisipasi pendukung Trump. Misalnya, ketika tingkat partisipasi pendukung Clinton 55%, minimal gap dari pihak Trump adalah 3.4% atau tingkat partisipasi 58.4% agar bisa menang. Sebaliknya jika tingkat partisipasi pendukung Clinton 94.07%, minimal gap dari pihak Trump adalah 5.82% atau tingkat partisipasi 99.89% agar bisa menang.

Ini mungkin alasan tim kampanye Clinton lebih menekankan strategi ground game, pergi door-to-door, agar pemilih nyoblos. Jangan heran laporan situs web Politico dari exit polls menyatakan bahwa ada lebih banyak pemilih yang dikontak oleh pihak Clinton dibanding Trump [2].

graph

Gambar 2: Persentase minimal gap tingkat voters turnout dari pendukung Trump agar Trump menang

Seperti disebutkan sebelumnya, kemenangan Trump terbantu oleh antusiasme pemilih kulit putih non-sarjana yang turnout-nya naik signifikan. Sebaliknya Clinton tidak berhasil memobilisasi pemilih perempuan meskipun pemilu kali ini bersifat historis karena inilah kali pertama Amerika punya peluang memiliki presiden perempuan.

Juga, menarik, menurut laporan Pew Research Center, pemilih dari partai Republikan cenderung memiliki tingkat partisipasi yang lebih tinggi. Hasil survei terakhir menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pemilih dari partai Republikan adalah 73% dibanding voters dari partai Demokrat 61% [3]. Memakai angka ini pada skenario  di atas, maka Trump akan unggul 3.99%.

Bijak menyikapi kelemahan Ilmu Statistika. Jadi meskipun menurut poll, pada saat-saat terakhir sebelum pemilu, Clinton unggul  3% dengan suara populer tapi ternyata Trump keluar sebagai pemenang, Ilmu Statistika tidak-lah keliru. Pertama, angka 3% tadi masih dalam batas margin of error, kurang lebih hasil lempar koin. Selain itu dari skenario voters turnout jelas bahwa tak dibutuhkan celah yang signifikan bagi Trump untuk unggul.

Tak dipungkiri ada kelemahan pada teknik dan prosedur Ilmu Statistika. Tapi ia masih merupakan pilihan terbaik dalam mencari kebenaran melalui suatu proses ilmiah, dan selama 70 tahun terakhir telah membantu banyak orang untuk mengambil kesimpulan yang benar berdasarkan data.

Tentu naif secara membabi buta percaya pada kesimpulan statistika. Oleh karena itu hendaklah bijak menyikapi kekurangan-kekurangan ini.

****

Rujukan:

[1] http://www.pewresearch.org/fact-tank/2016/08/02/u-s-voter-turnout-trails-most-developed-countries/

[2] http://www.politico.com/story/2016/11/early-exit-poll-clinton-ground-game-230943

[3] http://www.pewresearch.org/2016/01/07/polls-and-votes-the-2014-elections-by-the-numbers/pm_15-01-07_votermodels_intentionturnout640px/

*****

 

0 Responses to “Trump Menang Pemilu, Ilmu Statistika Kalah Telak?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: