Interkoneksi, Inflasi dan Kurs Rupiah

 

connected

image:dreamstime.com

Satu alasan yang disebutkan kenapa biaya interkoneksi selular harus turun adalah karena sejak tahun 2008 biaya tersebut tetap bertengger pada angka 250 rupiah.

Apakah karena tarifnya flat delapan tahun terakhir maka sekarang harus turun?

Argumen ini tidak laras dengan kondisi ekonomi Indonesia yang sejak tahun 2008 mengalami inflasi dan kurs rupiah yang mengalami depresiasi terhadap valuta asing, khususnya dollar.

Rata-rata (geometric mean) laju inflasi kita antara tahun 2008 – 2015 adalah 6.15%. Sampai akhir bulan Juli 2016 menurut data BPS, inflasi bulanan telah teragregrasi sebesar 1.76%. Lihat Lampiran 1 untuk tingkat inflasi tahunan sejak 2008 sampai Juli 2016.

Jika kita terapkan dampak tingkat inflasi tahun-per-tahun dari Lampiran 1 terhadap nilai rupiah maka tarif interkoneksi 250 rupiah pada tahun 2008 telah mengalami penurunan nilai menjadi 147 rupiah, atau berkurang sebesar 41.31%, pada akhir Juli 2016. Lihat Lampiran 2 untuk penyusutan nilai tarif interkoneksi tahun demi tahun sejak tahun 2008 karena tingkat inflasi ini.

Jadi karena inflasi, secara teknis tarif interkoneksi telah mengalami penurunan nilai.

Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah nilai tukar rupiah terhadap valuta asing, terutama dollar Amerika. Kenapa faktor ini layak diperhitungkan karena sebagian besar perangkat baru dan biaya pemeliharaan jaringan dilakukan dalam dollar. Ini bukan perangkat dan biaya pemeliharaan Askitel, clearing house-nya biaya interkoneksi telekomunikasi di Indonesia. Ini adalah biaya Capex dan Opex dari tiap operator yang menyediakan jaringan saat pelanggan melakukan panggilan lintas provider.

Sesuai data di Lampiran 3, nilai tukar rupiah terhadap dollar pada awal 2008 telah mengalami depresiasi sebesar kurang lebih 40% pada pertengahan Agustus 2016 (dari +/- 9,500 rupiah menjadi 13,500 rupiah). Khususnya sejak tahun 2012, rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar. Itu berarti biaya investasi dan pemeliharaan jaringan yang terus naik, padahal kompensasi dari interkoneksi diberikan dalam rupiah.

Faktor ketiga yang bisa dipertimbangkan, meskipun agak over-reaching, adalah konsep net present value. Yang mana nilai 100 rupiah tahun ini (saat sekarang) akan selalu lebih tinggi dari nilai 100 rupiah tahun depan karena faktor suku bunga.

Jadi karena dampak inflasi maka nilai uang mengalami penurunan: daya beli dengan uang yang sama menurun. Selain itu karena rupiah mengalami depresiasi terhadap dollar maka biaya investasi dan pemeliharaan jaringan -yang akan digunakan pelanggan untuk percakapan lintas operator- juga mengalami kenaikan. Dengan demikian, jika dilihat dari faktor-faktor ini, biaya interkoneksi harusnya naik bukan malah turun.

Namun demikian, Pemerintah menganjurkan agar tarif telpon turun sebagai kompensasi penurunan biaya interkoneksi. Apakah ini bisa dilakukan?

Tarif Selular Akan Turun?

Kedua faktor yang dibahas di atas, terutama inflasi, juga bisa kita gunakan untuk memperkirakan peluang penurunan tarif telpon lintas operator sebagai akibat penurunan biaya interkoneksi.

Biaya interkoneksi baru, jika diberlakukan, akan mengalami penurunan sebesar 18%, dari sebelumnya 250 rupiah menjadi 204 rupiah. Komponen biaya maksimum yang disumbangkan oleh interkoneksi terhadap tarif percakapan lintas operator adalah 15%. Sehingga penurunan tarif maksimum karena faktor penurunan biaya interkoneksi adalah sebesar -2.7% (-18%*15%).

Namun demikian, rata-rata inflasi sejak tahun 2008, seperti disebutkan sebelumnya adalah 6.15%, atau jika kita gunakan angka inflasi tahun 2015 adalah 3.35%. Jika kita pakai angka 3.35% maka angka ini pun masih lebih tinggi dari penurunan biaya tarif percakapan sebesar 2.7%. Dengan kata lain, jika operator memperhitungkan penurunan biaya interkoneksi pun, karena faktor inflasi, tarif tetap akan naik sebesar 0.65% (3.35-2.7) agar tidak rugi.

Maka dengan perhitungan ini peluang tarif telpon akan mengalami penurunan adalah kecil.

Saya pikir biaya interkoneksi bisa saja turun atau bahkan ditiadakan sama sekali terutama jika coverage, bukan jumlah BTS, para operator telah seimbang. Memakai argumen bahwa biaya interkoneksi harus turun sekarang karena sudah delapan tahun tidak turun-turun tidaklah sesuai dengan kondisi makroekonomi Indonesia saat ini.

*****

Lampiran 1: Tingkat Inflasi Indonesia 2008-2016

inflasiDiolah dari data Badan Pusat Statistik Indonesia, http://www.bps.go.id

Lampiran 2: Dampak Inflasi Terhadap Biaya Interkoneksi

effect

Diolah dari data Badan Pusat Statistik Indonesia, http://www.bps.go.id

Lampiran 3: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar 2008-2016

 forex

Sumber: http://www.tradingeconomics.com/indonesia/currency

 *****

 

 

 

 

 

 

0 Responses to “Interkoneksi, Inflasi dan Kurs Rupiah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: