Inikah Keunggulan Kompetisi Telkomsel?

advantageBerdasarkan indikator kinerja keuangan Laba Bersih tahun 2004-2015 Telkomsel teratas dibanding Indosat dan XL (Lampiran 1). Selama 11 tahun terakhir sang pemimpin pasar tidak sekali pun mencatatkan rugi bisnis.

Dalam industri yang sama para operator menghadapi ancaman (threats) dan kesempatan (opportunities) industri yang sama pula. Satu penelitian menunjukkan bahwa faktor internal perusahaan bertanggung jawab terhadap 55% kinerja perusahaan, lebih besar dari faktor industri 20% [1]. Faktor internal perusahaan adalah sumberdaya berupa aset, kemampuan manajemen dalam mengelola bisnis, kompetensi inti dan proses bisnis perusahaan [2].

Apa sesungguhnya keunggulan kompetisi Telkomsel?

Oleh karena keunggulan kompetisi adalah hasil ramuan berbagai sumberdaya perusahaan maka kita tidak bisa secara pasti menentukan faktor tunggal, bahkan mungkin oleh pihak Telkomsel sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai causal ambiguity [3]. Ini satu alasan kenapa sukses satu perusahaan sulit menjalar ke perusahaan lain.

VRIO Framework, satu model dalam Strategi Kompetisi, sering dipakai untuk menentukan sumberdaya yang menjadi tulang punggung keunggulan kompetisi. VRIO adalah akronim dari Valuable (sumberdaya tersebut bernilai), Rare (sumberdaya tersebut langkah), Imitate (sumberdaya tersebut sulit/mahal untuk ditiru) dan Organize (perusahaan memiliki kemampuan untuk mengorganisasi sumberdaya tersebut sehingga bisa menghasilkan nilai yang maksimal). Lihat Gambar 1.

vrio

Gambar 1: VRIO Framework

Sumber: Rothaermel. Strategic Management: Concepts. McGraw-Hill Education.

Apabila suatu sumberdaya bernilai dan langkah tapi bisa dengan mudah ditiru maka perusahaan tersebut hanya punya keunggulan kompetisi yang sifatnya sementara. Bahkan jika sumberdaya tersebut bernilai, langkah dan sukar untuk ditiru tapi perusahaan tak terorganisasi untuk mencipatakan nilai dari sumberdaya ini maka itu pun hanya keunggulan kompetisi yang sifatnya sementara. Keunggulan kompetisi benar-benar bisa tercapai jika sumberdaya tersebut bernilai, langkah, sukar untuk ditiru dan perusahaan memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi nilai dari sumberdaya ini.

Satu hal yang sering disebut-disebut nilai plus Telkomsel dibanding operator lain adalah luas jaringan (coverage) yang menjangkau daerah-daerah terpencil. Sebagai perwakilan untuk luas jaringan, total jumlah BTS antar operator per akhir tahun 2015 sebagai berikut: Telkomsel 103,289, Indosat 58,879 (57% dari BTS Telkomsel) dan XL 47,326 (46% dari BTS Telkomsel).  Coverage ketiga operator di Lampiran 2-4 memperkuat asumsi ini.

Mari terapkan VRIO Framework untuk coverage Telkomsel di luar pulau Jawa:

  • Apakah jaringan di luar Jawa ini menciptakan value bagi Telkomsel? Tentu saja.
  • Apakah jaringan di daerah-daerah terpencil ini langkah? Ya, umumnya hanya Telkomsel yang menyediakan layanan di daerah-daerah terpencil.
  • Apakah sulit bagi pesaing Telkomsel untuk mengimbangi jaringan di wilayah-wilayah terpencil ini? Ya, investasi di daerah terpencil jauh lebih mahal dibanding di daerah urban sehingga jarang para pesaing berinvestasi di sana; bahkan tidak jarang ada yang mundur teratur.
  • Apakah Telkomsel mampu mengorganisasi diri sehingga bisa memanfaatkan dengan sepenuhnya kelebihannya dalam hal luas jaringan ini? Ya, secara internal dan dengan bersinergi bersama semua pemangku kepentingan, terutama pemegang saham, pemerintah dan masyarakat setempat.

Menarik, hasil analisa regresi terhadap empat variabel independen (Capex, jumlah pelanggan, jumlah BTS dan jumlah karyawan–berdasarkan kinerja tahun 2003 – 2015, Lampiran 5) yang memberikan pengaruh signifikan (secara statistik) terhadap revenue, dengan margin kesalahan 1%, ternyata adalah gabungan jumlah BTS dan jumlah karyawan. R-square (koefisien korelasi pangkat dua) dari model Revenues versus Jumlah BTS dan Jumlah Karyawan sebesar 99.37%. Ini berarti 99.37% pergerakan revenue bisa dijelaskan oleh pergerakan pada jumlah BTS dan jumlah karyawan. Untuk suatu analisa regresi angka 99.37% sangat tinggi. (Lampiran 6).

Secara intuitif faktor yang paling menyumbang pada pergerakan revenue adalah jumlah pelanggan. Pelanggan-lah yang membeli pulsa dan membayar tagihan. Namun hasil analisa menunjukkan kenaikan jumlah pelanggan ternyata korelasinya terhadap revenue tidak sekuat dibanding kombinasi jumlah BTS dan jumlah karyawan. Lihat Lampiran 7 dan 8 untuk hasil regresi variabel yang lain.

Oleh karena BTS dan karyawan adalah sumberdaya internal Telkomsel hal ini mendukung VRIO framework di atas.

Menarik, BTS pertama Telkomsel justru digelar di luar pulau Jawa, yakni di kota Batam. Strateginya adalah bangun jaringan di luar pulau Jawa lalu merengsek masuk ke Jawa, seperti lingkaran obat nyamuk.

Bagaimana coverage di luar pulau Jawa bisa memberikan keunggulan kompetisi kepada Telkomsel dan apakah operator lain bisa meredam keunggulan tersebut merupakan satu topik tersendiri yang menarik.

*****

Daftar Rujukan

[1] Rothaermel. Strategic Management: Concepts. McGraw-Hill Education.

[2] Idem.

[3] Idem.

Daftar Lampiran

Lampiran 1: Net Income Telkomsel, Indosat dan XL 2004-2015

net-income

Sumber: Laporan Keuangan Telkomsel, Indosat, XL

Lampiran 2: Coverage Telkomsel

telkomselDiambil tanggal 5 Agustus 2016 dari: http://www.sensorly.com/map/2G3G/ID/Indonesia/Telkomsel/gsm_51010#|coverage

Lampiran 3: Coverage Indosat

isatDiambil tanggal 5 Agustus 2016 dari: http://www.sensorly.com/map/2G-3G/ID/Indonesia/INDOSAT/gsm_51001#|coverage

Lampiran 4: Coverage XL

xlDiambil tanggal 5 Agustus 2016 dari: http://www.sensorly.com/map/2G-3G/ID/Indonesia/XL/gsm_51011#|coverage

Lampiran 5: Beberapa Indikator Kinerja Telkomsel 2003-2015

tsel-indicatorsSumber: Annual Report Telkomsel dari http://www.telkomsel.com

Lampiran 6: Analisa Regresi Revenue vs Jumlah BTS dan Jumlah Karyawan

regresi-bts-employee

 

Lampiran 7: Analisa Regresi Revenue vs Jumlah Pelanggan

regresi-rev-subs

 

Lampiran 8: Analisa Regresi Revenue vs Jumlah Pelanggan dan Jumlah BTS

rev-subs-bts

*****

 

0 Responses to “Inikah Keunggulan Kompetisi Telkomsel?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: