Menggoyang Telkomsel

chess2Pada bulan Juni 2016, hawa persaingan antar operator selular memanas. Di mana ada kesenjangan di sana ada potensi konflik. Pemimpin pasar saat ini adalah Telkomsel dengan porsi 45% namun pesaing terdekat, Indosat Oredoo 20.6%, tidak sampai separuhnya.

Telkomsel ditohok di empat posisi yaitu: perang harga, tuduhan monopoli, pemboikotan dan kewajiban untuk melakukan active infrastructure sharing. Setiap orang dan setiap organisasi memiliki kelemahan. Telkomsel juga. Dalam legenda Yunani manusia perkasa Achilles titik matinya ada di tumit. Dalam tradisi Yahudi-Kristen Daud yang remeh mampu mematikan Goliath sang pahlawan perang.

Dalam competitive strategy, untuk memetakan kekuatan dan kelemahan lawan salah satu kerangka standar yang biasa dipakai adalah SWOT analysis: Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunities (Kesempatan) dan Threats (Ancaman). Kekuatan dan Kelemahan adalah faktor internal; Kesempatan dan Ancaman adalah faktor eksternal.

Inikah titik lemah sang pemimpin pasar?

Perang Harga

Perang harga adalah strategi klasik merebut pangsa pasar. Umumnya ketika target market share tercapai harga akan kembali naik untuk menutupi ongkos produksi dan demi bisnis yang berkesinambungan.

Idealnya, pebisnis punya dua pilihan untuk menawarkan produk apakah mau bersaing dengan harga murah (cost leadership) atau mau bersaing dengan kualitas (diffrentiation). Tidak bisa dua-duanya:  harga kaki lima tapi rasa bintang lima. Perusahaan yang bersaing dengan harga murah harus punya keunggulan mengatur biaya operasional. Layanan yang ditawarkan dengan harga murah pun terbatas. Contoh Lion Air dan Garuda Indonesia. Lion Air memberikan harga murah tapi Garuda memberikan layanan value-added.

Dalam perang harga, bisnis yang boros biaya operasi tidak memiliki keunggulan kompetitif terhadap kompetitor yang lebih efisien. Indikator untuk cost leadership bisa dilihat pada operating margin, yaitu laba operasi dibagi dengan pendapatan usaha.

Berdasarkan kinerja operating margin tiga operator terbesar di Indonesia, Indosat berada di peringkat bawah dalam enam tahun terakhir. Sejak tahun 2009, XL selalu lebih unggul rata-rata (geometric mean) 6% per tahun dibanding Indosat dan Telkomsel rata-rata lebih tinggi 26% per tahun dibanding Indosat (Lampiran 1).

Saat ini jika ada promo menelpon gratis (atau dengan tarif super, super murah) lintas operator tak berbatas waktu, bahkan oleh Telkomsel dan menggunakan teknologi VOIP sekali pun, maka itu adalah promo harakiri. Sebabnya karena masih ada biaya interkoneksi. Bisnis selular adalah bisnis dengan operating leverage yang tinggi: tinggi fixed cost namun rendah variable cost. Promo gratis lintas operator bisa memberikan insentif kepada pelanggan untuk menelpon lebih lama sehingga menaikkan variable cost- seiring dengan naiknya biaya interkoneksi- dan memperburuk operating margin. Jika tidak terjadi pola perubahan trafik (marginal cost tetap) maka marginal revenue akan turun sehingga tetap berdampak buruk pada laba perusahaan.

Bagi Indosat, misalnya, jika mengadopsi perang harga maka strategi ini merupakan sebuah dilema karena kinerja operasional dan keuangan yang belum maksimal. Misal, sejak tahun 2013, financing cost (bunga hutang) Indosat lebih tinggi terhadap operating income (Lampiran 2). Artinya keuntungan usaha  belum cukup untuk membayar bunga hutang, belum lagi hutang pokok.

Ancung jempol jika ada operator yang berperang harga “demi pelanggan”, satu pilihan sulit bagi entitas bisnis yang harus bertanggungjawab kepada pemegang saham; bertanggung jawab menciptakan value atas investasi yang mereka percayakan kepada manajemen. Kecuali badan amal, bisnis pada hakekatnya hadir untuk mencetak laba.

Tuduhan Monopoli

Ini tuduhan serius bukan hanya kepada Telkomsel saja tetapi bagi KPPU yang mengawasi persaingan usaha di Indonesia sesuai dengan semangat UU No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

Struktur pasar industri selular Indonesia saat ini adalah oligopoli, bukan monopoli, karena ada total sembilan operator dan lebih dari 70% pangsa pasar terkonsentrasi pada top three operators (Telkomsel, Indosat dan XL). Di banyak tempat, khususnya daerah-daerah terpencil Telkomsel memang merupakan satu-satunya operator yang menawarkan layanan karena keengganan operator untuk menggelar jaringan (faktor biaya investasi dan operasional yang lebih mahal). Namun di beberapa tempat operator lain sebaliknya yang mendominasi pasar -dan ini ditonjolkan kepada pelanggan karena punya nilai jual network effect. Misal pada tahun 2014, XL dengan bangga mengklaim melalui baliho iklan di Lombok bahwa 92% pasar NTB dikuasai olehnya.

Saya kira tuduhan monopoli yang merupakan hasil persaingan, bukan karena campur tangan regulasi, adalah pengakuan tidak langsung atas kerasnya kompetisi. Ini yang terjadi dengan Microsoft dengan sistem operasi Windows dan Google pada segmen mesin pencari. Dua raksasa teknologi ini dituduh melakukan monopoli; tapi bukan karena market share mereka yang dominan melainkan apa yang mereka lakukan dengan market power mereka. Ini alasan kita punya KPPU untuk mengawasi aksi negatif dari pemimpin pasar seperti permainan harga.

Namun bicara harga kita juga harus hati-hati. Mulia jika kita mau menerapkan harga yang sama di seluruh Indonesia. Kenyataannya, kondisi geografis Indonesia sangat menantang dari segi supply chain yang mempengaruhi ongkos produksi satu area dengan area lain, yang berimbas pada harga jual produk. Harga minyak tanah dan Indomie di Jawa tentunya tidak sama dengan kampung saya di Kepulauan Talaud, wilayah paling utara Indonesia, delapan belas jam naik kapal dari Manado (Manado sendiri 3 jam penerbangan langsung dari Jakarta). Tidak masuk akal untuk menuntut harga barang yang sama di pulau Jawa dan kampung saya, meskipun itu niat mulia. Terima kasih pembangunan sudah dilakukan selama tujuh dasawarsa Indonesia merdeka. Namun kita akui masih ada ketimpangan infrastruktur di wilayah barat yang lebih maju dan daerah timur yang masih ketinggalan.

Jadi kita paham jika ada operator yang enggan menggelar jaringan atau hengkang kaki dari daerah-daerah terpencil jika tarifnya disamakan dengan wilayah lain yang lebih terjangkau. Operator jelas nombok. Biaya investasi dan ongkos produksi/biaya operasional daerah terpencil berlipat-lipat dibanding daerah perkotaan. Kadang operator harus menggelar jaringan di lokasi yang belum punya PLN, ini berarti listrik BTS harus disediakan melalui generator sendiri. Juga di tempat terpencil seperti ini operator harus menyewa satelit yang sangat mahal.

Dengan harapan mulia ingin berlaku adil akhirnya masyarakat terpencil tidak mendapatkan layanan yang merupakan hak mereka.

Di kampung saya, sekali lagi salah satu pulau terluar di Indonesia -ingat dari Sabang sampai Merauke dan dari Talaud sampai Rote- Telkomsel satu-satunya operator yang hadir menyediakan layanan di gugusan kepulauan Talaud. Sempat ada operator lain tapi tidak bertahan dan angkat kaki. Ada lebih dari 20 BTS Telkomsel di sana. Banyak BTS harus menggunakan genset sendiri. Juga karena kepulauan Talaud belum bisa dijangkau dengan jaringan transmisi terestrial (dari daratan Sulawesi) dan serat optik bawah laut Telkom, atau provider lain, maka Telkomsel harus menyewa transmisi satelit yang sangat mahal. Saya mengerti jika baru beberapa bulan ini pelanggan Talaud bisa menggunakan layanan 3G karena investasi jaringan 3G belum lurus dengan tarif.

Saya tidak paham dengan strategi gelar jaringan Telkomsel sehingga menggurita di daerah luar Jawa. Mungkin karena mereka paham dengan faktor network effect. Mungkin mereka mempertimbangkan faktor subsidi silang sehingga secara keseluruhan bisnis menjadi lebih baik. Mungkin inilah competitive advantage-nya Telkomsel sehingga ia adalah pemimpin pasar sekarang.

Jika sebuah perusahaan kena hukum karena punya market share yang dominan karena berkompetisi, namun tidak menyalahgunakan kekuatan pangsa pasarnya, maka ini mengirimkan pesan dan menujukkan kesan kepada pelaku usaha bahwa sukses mereka tidak di-welcome. Intinya saya tidak mau capek-capek karena nantinya jika saya berhasil toh saya malah kena disiplin. Padahal hanya perusahaan yang mencetak labalah yang setor pajak. Perusahaan yang merugi bukan hanya tidak bayar pajak tapi ia juga dapat tax benefits (deferred tax assets) dari rugi dagang mereka untuk tahun-tahun selanjutnya.

Seruan Boikot

Ada seruan, melalui media massa, dari operator tertentu kepada operator tanah air untuk memboikot Telkomsel. Ini adalah bentuk Group Boycott yang merupakan salah satu anti-competitive practices seperti monopoli, kolusi (kartel dan price fixing) dan predatory pricing, yang ilegal di beberapa negara.

Saya speechless membaca berita tersebut. Saya kira okay-okay saja jika ajakan itu dilakukan tetutup: di lapangan golf, di ruang rapat. Antar kita saja, sepanjang tidak ketahuan. Tapi mengajak melalui media massa?

Kebanyakan boikot tentu saja legal. Misal boikot oleh pelanggan (consumer boycott) terhadap produk tertentu karena alasan politis, agama, etika, persamaan hak dan sebagainya. Selain itu, pelanggan bisa saja melakukan boikot jika ada indikasi operator tertentu telah menyalahgunakan market power yang dimiliki. Aksi boikot hanya efektif jika dilakukan secara massal.

Saya kira operator berhak bersatu untuk memenangkan kompetitsi, tapi bukan dengan melakukan Group Boycott. Banyak strategi korporasi, yang tentu saja harus legal, yang bisa dilakukan seperti membentuk strategic alliance atau melakukan konsolidasi industri.

Kewajiban Active Infrastructure Sharing

Active infrastructure sharing adalah satu bentuk strategi korporasi  (yaitu strategic alliance) seperti halnya merger dan akuisisi. Strategic alliance melibatkan penggunaan sumber daya secara bersama-sama (sharing) yang dapat berdampak pada keunggulan kompetitif. Sumber daya yang bisa dipakai bersama dalam kasus ini adalah sumber daya yang bersifat aktif seperti frekuensi dan perangkat jaringan.

Meskipun operator saat ini sudah berbagi infrastruktur yang sifatnya pasif seperti menara antena, yang disediakan oleh pihak ketiga, hal ini bukan strategic alliance.

Strategic alliance bisa kita jumpai misalnya di industri penerbangan, khususnya penerbangan internasional. Jika kita pesan tiket Jakarta-Washington DC melalui Garuda Indonesia ada kemungkinan kita mendarat di Bandara Dulles dengan pesawat Delta Airlines karena Garuda tidak memiliki layanan penerbangan ke Amerika Serikat. Garuda Indonesia dan Delta Airlines adalah sesama anggota SkyTeam Alliance, jika tidak kita harus memesan tiket secara terpisah dan perjalanan kita bisa tidak mulus, dan mungkin harga tiket bisa jadi lebih mahal.

Oleh karena strategic alliance adalah suatu bentuk strategi korporasi yang sifatnya sukarela (voluntary) maka tidak elok jika harus ada  campur tangan regulasi yang memaksakan perkawinan bisnis tanpa dasar cinta. Juga tidak elok jika ada regulasi yang melarang perkawinan bisnis yang dasarnya suka sama suka.

Sama halnya tidak elok jika ada kewajiban regulasi bagi Garuda Indonesia untuk bergabung dengan aliansi penerbangan tertentu. Sebenarnya ada syarat ketat yang harus dipenuhi agar bisa menjadi anggota aliansi. Anggota aliansi bisa teriak jika ada maskapai yang tidak layak dipaksakan masuk.

Oleh karena itu, menurut GSMA Mobile Policy Handbook 2016 mengenai posisi industri tentang infrastructure sharingGovernments should have a regulatory framework that allows voluntary sharing of infrastructure among mobile operators….Mobile infrastructure sharing has traditionally involved voluntary cooperation between licensed operators, based on their commercial needs. (Huruf tebal dan miring ditambahkan)

Active infrastructure sharing memang membuat kapasitas/utilisasi jaringan menjadi lebih maksimal dan investasi menjadi lebih hemat, namun biarkan pelaku pasar yang memutuskan siapa sekutu dagang mereka. Seleksi alamiah akan terbentuk saat runding bisnis untuk mencapai tujuan aliansi yakni winwin, simbiosis mutualisme. Apakah bersekutu dengan dia bisa memperbaiki kinerja bisnis saya? Jangan-jangan saya justru rugi karena janji sinergi tidak terwujud! Jangan-jangan dia tidak lebih dari parasit dan saya yang harus berkorban.

Harus dipikirkan juga masalah operasional ketika dua atau lebih operator menggunakan infrastruktur yang sama. Sinergi tidak segampang yang dibayangkan, satu operator saja repot! Menurut GSMA mending merger sekalian karena merger lebih bermanfaat dari network sharing[1].

Jika syarat modern licensing untuk operator agar membangun jaringan di seluruh pelosok nusantara diperlonggar, apakah kini harus ada kewajiban lagi bagi operator yang telah melakukan kewajiban modern licensing untuk berbagi dengan operator yang belum sanggup secara maksimal memenuhi syarat tadi? Ibaratnya sudah capek-capek tanam padi sendiri tapi saat panen harus berlomba cepat dengan yang lain. Ini dapat terjadi karena gelar jaringan dan aset perusahaan antar operator yang asimetris.

*****

[1] Efficient mobile market structures has greater benefits than network sharing: Competition authorities have often argued that network sharing represents a preferred alternative to mergers. While the pro-competitive nature of network sharing agreements can only be assessed on a case-by-case basis, it is worth noting that network sharing agreements are not always feasible between the merging parties due to an asymmetry of assets (such as spectrum holding) or a different deployment strategy. (GSMA Mobile Policy Handbook 2016)

Lampiran 1: Operating Margin Top Three Operators

top-three

Lampiran 2: ISAT Operating Income and Financing Cost

isat.JPG

*****

 

0 Responses to “Menggoyang Telkomsel”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: