Selamat Datang BBM Android

blackberry_android-02Setelah mengalami penundaan akhirnya saya bisa mengunakan layanan BlackBerry Messenger (BBM) di Android pada tanggal 25 Oktober 2013. Sebulan sebelumnya tersiar khabar BBM sudah bisa diunduh dari Google Play tapi ternyata batal karena, menurut RIM, vendor penyedia layanan BBM, aplikasi mereka bocor duluan. Lalu awal minggu ini muncul berita BBM sudah bisa digunakan di Android dan iOS. Ternyata benar BBM sudah ada di Google Play. Tapi untuk memakainya harus menunggu approval dari RIM. Alasannya ada “incredible demand”, permintaan registrasi yang luar biasa banyak. Saya kecewa. RIM akhir-akhir sudah tidak bisa dipegang kata-katanya, menyedihkan. Belum lagi layanannya yang kadung bermasalah.

Rasa kecewa  akhirnya mereda setelah menerima konfirmasi dari RIM kalau registrasi saya sudah disetujui dan saya sudah bisa menggunakan layanan BBM di Android.

Saya menggunakan BBM hanya setahun terakhir karena bos baru, yang minta saya untuk punya BlackBerry (BB). Sebelum anak pertama saya lahir sebenarnya saya pernah dikasih BB oleh seorang kenalan, tapi tak pernah mengaktifkan layanan BBM. Teman-teman bilang sayang. Ada yang bilang saya aneh.

Namun supaya fair, BB punya kelebihan dibanding hape lain. BB lebih baik dengan keypad QWERTY-nya. Saya sering ketagihan mengetik di BB. Saya tidak suka mengetik di layar sentuh karena banyak salah eja dan tidak secepat dengan keypad. Karena alasan ini saya set email kantor untuk dibuka dengan BB bukan dari Samsung Android. Selain itu, batere BB paling cepat di-recharge dan paling lama keok dibanding Android. Suara BB juga lebih jernih dibanding hape yang lain, dan tidak bikin pusing kalau nempel di telinga waktu bertelepon. Layanan BBM juga sangat privat. Hanya orang yang sudah kita approve yang bisa mengirim pesan. Ini keunggulan BB dan BBM dibanding Android dan iPhone.

Sayangnya BB minim aplikasi. Banyak aplikasi yang saya butuhkan yang tidak tersedia di BB. Selain itu, tidak nyaman berselancar di internet dengan BB, kecuali BB keluaran terbaru yang punya layar sentuh dan lebar.

Tapi untuk bos, saya harus beli BB, handset kedua setelah Samsung padahal saya tidak suka ribet bawa banyak gadget. Kenapa harus bawa handset tambahan hanya untuk menikmati satu layanan tertentu? Tren teknologi sekarang adalah konvergensi antar teknologi, apalagi dengan teknologi yang sama.

Senang akhirnya BBM mau berkonvergensi dengan sistem operasi yang lain sehingga tidak perlu bawa gadget tambahan. Saya dengan terpaksa juga harus menyeting email kantor agar bisa diakses dari Samsung.

Dengan tersedianya BBM di Android jelas pendapatan RIM dan operator akan berkurang. Untuk menggunakan layanan BBM, orang harus bayar biaya langganan kepada operator. Pendapatan ini dibagi antara RIM dan operator. Ini menopang apa yang disebut ARPU (Average Revenue Per User) operator, yakni rata-rata pendapatan operator per pelanggan. Dengan Android pelanggan hanya bayar data plan untuk semula layanan data. Jika ARPU berkurang, apakah operator akan menggunakan skema yang sama dengan aplikasi OTT (over-the-top) seperti Line, Whatsapp, Kako Talk, Viber, Tango, dan sejenis? Kita tunggu saja.

Pertanyaan sekarang, Apakah  RIM bisa fair dengan user mereka yang masih berbayar, mengingat bahkan sebelum dibuka akses bebas di Android dan iPhone layanan mereka sering bermasalah. Mungkin saja dan jangan-jangan komplen justru akan lebih banyak dari pelanggan gratis ini!

Teman saya bilang kini saatnya BB-nya mau dipakai buat ganjalan pintu. Saya tersenyum mendengar itu. Saya tidak akan bikin ganjalan pintu tapi tentu saja bingung mau dikemanakan BB saya. Istri saya sudah punya Samsung Galaxy Tab. Kalau mau dijual harganya pasti sudah jatuh.

Tapi itu bisa dipikirkan lagi, yang penting sekarang saya sudah bisa menggunakan BBM di Android.

*****

Soekarno-Hatta International Airport, October 26, 2013, 20.30 hours.

0 Responses to “Selamat Datang BBM Android”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: