Aku Melihatmu Lahir

Kepada Felipe:

newbornAku melihatmu lahir.

Bidan dan dokter di rumah sakit Asri Jakarta, tempat kamu lahir, dengan baik hati mengijinkan aku masuk untuk menyaksikan hari pertama dalam hidupmu. Mereka melakukan hal yang sama dua tahun lalu saat kakakmu lahir di rumah sakit yang sama. Aku akan sangat berterima kasih kepada mereka.

Di samping ibumu menyambut kalian adalah menyaksikan mukjizat. Dan karena keajaiban adalah barang langka, kenangan tersebut menjadi sangat berharga. Kelak kamu akan tahu ini, dan aku berharap hari-hari hidupmu, dan kenangan kami akanmu, akan panjang dengan cinta dan sukacita.

Aku ingin kamu bahagia. Ibumu ingin kamu bahagia. Tapi kami sadar kita hidup dalam dunia yang semakin sulit tahun demi tahun. Membesarkan kalian, membuat hari-harimu panjang dengan sukacita, dengan demikian tidak akan gampang bagi kami. Namun dengan segala kekurangan yang ada, kami akan berusaha memberikan yang terbaik.

Aku melihatmu lahir. Tanpa suara. Waktu seperti membeku dalam sepi saat menantimu menangis, bersuara, atau apapun sebagai tanda kehidupan; keabadian dalam dunia hitam putih, tanpa suara. Kamu harusnya tiba dengan bunyi.

Tiba-tiba tiga puluh detik kemudian kamu melengking dengan suara kecilmu, memberikan nafas kepada kehidupan yang akan terus berjalan dengan atau tanpa kita.

Kamis, 10 Oktober 2013, hampir pukul 16.00. “Welcome, my boy,” ujarku pelan di telingamu. Kepalamu, di atas pangkuan tanganku, bergerak mencari suara yang membisikimu. Aku tersenyum, dan aku tahu kamu pun tersenyum dengan bibir kecil yang terbuka. Kehidupanku tidak akan sama lagi dengan kehadiranmu.

Kita kemudian berjalan ke arah ibumu yang terbaring lemah di atas ranjang yang telah menerimamu. Ibumu berkata padamu dengan dengan bahasa kita, bahasamu, bahasa kasih sayang. Kami mengasihimu dengan segala kelemahan kami.

I love you, Nak,” kata ibumu. Kamu harus percaya jika seorang ibu mengatakan ia menyayangimu karena seluruh kehidupannya telah ia pertaruhkan agar kamu bisa memiliki kehidupanmu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang rela mati untukmu.

Aku melihatmu lahir. Aku mendengar tangisan perdanamu. Aku melihat senyuman pertamamu untuk dunia. Kamu belum tahu tentang semua ini tapi suatu saat nanti: bahwa ayahmu berada di sana, di dekatmu, ketika engkau mulai menggores kalimat pertama dalam kisah hidupmu. Empat kata pertama dalam kalimat itu, yang akan tersusun panjang menjadi kitab hayatmu, telah ditulis lebih dulu oleh aku dan ibumu. Empat kata itu adalah “Kamu terlahir dengan cinta”.

*****

Jakarta, 10 Oktober 2013.

2 Responses to “Aku Melihatmu Lahir”


  1. 1 Ivan November 29, 2013 at 9:37 am

    …..kata-kata mengalir dengan lembut dari hati yang penuh kasih….airmata haru menetas….tersentuhku…sangat!…..congrats my brother n my sister!……..welcome Felipe!…..campur aduk rasaku….. :) …. what a life!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: