Seorang Bocah Tetap akan Belajar dengan atau Tanpa Orang Dewasa yang Mengajarinya

babySaya masih di kantor malam itu. Harusnya sudah pulang berada bersama keluarga, bermain dengan putri kecilku.

Pesan istri masuk Line: “Sofie selalu bilang pa-pa…pa-pa…pa-pa,” kata istri. Sofie putri kecilku, waktu itu berumur 19 bulan, memang belum lancar bilang papa atau mama. Setelah itu istri pasti akan telpon pakai video call, supaya putri kecil kami bisa ngoceh sambil lihat bapaknya.

Tapi ada pesan berikutnya: “Tiap kali lihat iklan [perusahaan saya bekerja] di TV, Sofie selalu bilang pa-pa…pa-pa…!”

Oh yah? Saya langsung telpon istri. “Sayang pernah ngajarin dia?” tanya saya.

Enggak. Mungkin Sayang yang kasih tahu?” balas istri saya.

Saya tidak pernah bilang ke putri kecilku perusahaan saya bekerja. Nanti saya kasih tahu -dan dia memang harus tahu- tapi waktunya belum sekarang saat ia masih bocah 19 bulan.

“Masa iyah, yah?” kata saya masih belum percaya. Jadi dari mana putri saya tahu jika tidak pernah seorang pun kasih tahu? Kalau pun ada orang yang kasih tahu, apakah dia paham?

Beberapa hari kemudian kami keliling kota. Tiap kali lewat billboard iklan [perusahaan saya bekerja], putri saya teriak “Pa-pa…Pa-Pa…!” Akhirnya saya tahu kalau dia teriak “pa-pa…pa-pa…!” pasti ada billboard iklan [perusahaan saya bekerja] di sekitar situ. Saya harus putar kepala cari, dan putri saya selalu benar; entah billboard-nya di depan atau kanan atau kiri .

Beberapa minggu kemudian, kami ada acara di Istora Senayan. Berdua dengan putri kecilku, kami jalan-jalan di luar ruangan lantai dua gedung itu. Saat kami berhenti di samping pagar pembatas sebelah utara, putri keciku langsung mau panjat pagar. Saya pegang dia agar tak celaka.

Lantas suara itu datang lagi: “Pa-pa…Pa-pa…!” Saya tengok kanan kiri, mungkin ada billboard di sekitar situ? Saya tidak lihat satupun. Tapi ada menara BTS di depan kami. Aha, mungkin ini maksudnya dia? Tapi bagaimana dia bisa tahu kalau perusahaan bapaknya mencari nafkah sering bangun menara BTS? Jangankan kasih tahu apa yang saya lakukan, kasih tahu di mana saya bekerja pun tidak pernah! Lagi pula operator selular yang punya menara BTS bukan hanya [perusahaan saya bekerja].

Menara BTS itu cukup tinggi. Saya sampai harus menggerakkan kepala 45 derajat ke atas untuk lihat puncaknya. Aha, itu dia! Ternyata di puncak tower ada logo dan nama perusahaan saya bekerja.

Tapi bagaimana dia bisa melek huruf? Mungkin tidak baca tapi hapal logo perusahaan?

“Sofie khan pernah main-main ID kantornya Sayang,” kata istri.  Mungkin saja, pikirku.

Tapi saya ragu lagi beberapa hari kemudian.

Ketika itu saya dan putriku kecilku di depan penjual voucher dan pulsa selular. Terpajang papan daftar harga voucher semua operator. Sebelah kiri nama produk voucher, sebelah kanan harga. Tidak ada nama dan logo perusahaan.

“Pa-pa…Pa-pa…!” putri saya berlari ke papan harga dan dengan tepat menunjuk ke nama produk voucher [perusahaan saya bekerja].

Jadi teori istri saya termentahkan. Hingga sekarang saya masih kabur. Tapi satu hal yang terang adalah jangan menyepelekan kapasitas seorang bocah untuk belajar, dan mereka mampu belajar tanpa harus ada yang mengajari mereka. Bahwa saya harus berhati-hati bukan hanya apa yang akan saya ajarkan tetapi juga dengan apa yang tidak saya ajarkan.

*****

1 Response to “Seorang Bocah Tetap akan Belajar dengan atau Tanpa Orang Dewasa yang Mengajarinya”


  1. 1 Mr. T September 14, 2013 at 10:55 am

    Menurut penelitian beberapa waktu lalu oleh para pakar yang menyelidiki tingkah laku bayi-bayi, ternyata kata “pa..pa…” lebih sering digunakan dan mudah dilakukan oleh para bayi. Jadi itulah yang terjadi.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: