Arti Sebuah Ciuman

kissAku teriak jangan pegang sikat gigi itu! Sikat sudah mau masuk mulutnya, tertahan.

Nouw, Nouw, ah-ah!” kataku, “No touch!” ia menoleh ke belakang, ke arahku, ketika aku merebut sikat itu dari genggaman dia. Aku balikkan sikat gigi itu di atas rak sepatu. Ia simpan amarah, aku tahu. Aku mau bilang kalau sikat gigi itu sekarang dipakai untuk bersihkan kotoran sepatu, bukan untuk bersihkan gigi lagi. Sikat itu penuh tanah! Aku mau bilang tapi batal. Aku harap dia mengerti karena aku tidak tahu caranya membuat ia mengerti, perempuan itu mengerti.

Dia mengomel dengan caranya sendiri, aku tahu. Kemudian ia pergi.

Aku kembali ke sofa bercakap dengan temanku, si tuan rumah yang punya rak sepatu dan sikat itu.

Istriku duduk tidak jauh.

Perasaanku tidak tenang. Aku yakin perempuan itu akan kembali bermain-main dengan sikat gigi itu. Maka aku ambil sikat itu dari rak sepatu dan simpan di atas sandaran sofa yang menempel di tembok.

Perempuan tadi mendekatiku, yang sudah duduk kembali dengan sikat tadi di belakang kepalaku. Ia pegang pahaku ketika kami sudah sangat dekat. Aku tidak keberatan karena belum tahu apa maksudnya. Ia lalu berdiri di atas sofa di sampingku kemudian mencium pipi kananku.

Aku kaget karena putri kecilku mau menciumku tanpa diminta. Bahkan kalaupun diminta perempuan kecil enam belas bulan itu belum pasti mau. Ia hanya mau mencium kalau hatinya suka. Setidaknya itu pengamatan kami selama ini.

Ini kali pertama ia melakukannya! Dan ia lakukan itu setelah aku membuatnya marah?

Aku sumringah. Aku tertawa. Aku bilang istri kalau putri kami barusan menciumku.

“Dia itu cium loh, tanpa diminta!” Aku bahagia sekali. Aku ayah yang paling bangga sedunia karena dicintai anaknya. Istriku bahagia melihatku bahagia.

Aku cium balik putri kecilku. Ia masih berdiri di atas sofa di sampingku. Namun, tiba-tiba ia mengambil sikat gigi yang aku sembunyikan di atas sandaran sofa, di belakang kepalaku, ketika hidungku masih menempel di pipinya.

Baru aku sadar bahwa ciuman bocah kecilku tadi ternyata tidak gratis. Baru aku ingat orang memanfaatkan ciuman, memanfaatkan cinta -kalau ciuman identik dengan cinta-  untuk menyembunyikan muslihat mereka. Tapi aku tidak siap untuk tahu kalau manusia bisa melakukan itu ketika masih bocah enam belas bulan.

Kata orang anak-anak adalah peniru yang baik. Mereka ibarat spon, menyerap apa saja yang mereka lihat. Tapi bagaimana seorang bocah meniru sesuatu yang tidak pernah diajarkan? Menyerap sesuatu yang hanya sanggup dilihat oleh mata hati?

Pada saat ini aku masih bisa tertawa menyadari muslihat putri kecilku.

*****

0 Responses to “Arti Sebuah Ciuman”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: