Cantik Secara De Facto

Berjalan keluar ruangan, aku melihat tiga orang di depanku. Dua wanita langsing semampai, satu pria dan satu tas beautytergeletak di atas sofa tak jauh dari mereka bertiga. Dua perempuan itu berjalan gemulai dengan lenggokan kucing, bolak-balik di hadapan si lelaki. Tak-tik-tuk! Tak-tik-tuk! Bunyi sepatu mereka menghentak lantai marmer. Kedua wanita ini menggunakan gaun tipis, tapi tidak tembus pandang kecuali belahan dada yang sedikit terbuka. Yang satu gaun hijau. Yang satu biru muda. Sang pria sumringah. Aku tak dengar apa yang ia kata pastinya kepada kedua perempuan itu.

Hari belum juga malam.

Tiba-tiba, tiga depa sebelum pintu keluar, salah seorang wanita itu menahan laju kakiku dengan pertanyaan: “Cantik enggak aku, Mas Jul?” kata dia.

OMG! Pertanyaan yang menggoda. Cara ia kata kalimat itu juga menggoda. Ia memandangku dengan tangan di pinggang, dada membusung dan kakinya bergaya layaknya peragawati. Tapi apakah aku harus jujur setiap saat? Kenapa ia tak tanya si lelaki di hadapannya?

Aku kasih senyum buat perempuan itu. Aku kasih senyum buat pertanyaanya. Aku mengharapkan yang terbaik. Aku memikirkan yang positif saja.

Aku bilang: “Hehehe. Tanya suamimu saja, yah.” Aku tahu dia telah menikah, dan aku kira aku bukan aku orang yang tepat dan pantas untuk menilai betapa menawannya dia.

Hari sudah malam.

Aku ketemu istri beberapa jam setelah itu. Kami mau balik rumah pakai taksi bersama putri kecil kami. Dalam taksi juga ada Dewi* teman istri saya.

Dewi cerita tentang Putri* kakaknya yang tunangan dengan pria bule, dan sekarang sudah tinggal di negeri sang pacar, meski mereka tidak tinggal serumah.

Pacarnya sangat baik kepada kakaknya. Meski belum menikah dia sudah bertanggung jawab layaknya seorang suami, menyediakan kebutuhan hidup untuk Putri. Kecuali “kebutuhan” yang satu itu, karena mereka percaya seks sebelum nikah adalah dosa.

“Yah pokoknya mereka berdua sudah de facto-lah,” kata teman istri.

De-facto?” tanyaku.

Istri kasih isyarat agar aku diam.

“Yah. Gitulah,” kata teman istri.

“Maksudmu, mereka sudah tinggal serumah? Samen leven?” tanya saya, “Tadi katamu mereka tidak tinggal serumah?”

“Amit-amit!” kata teman istri. “Enggaklah, mereka tidak kumpul kebo!”

“Berarti bukan de facto dong,” kataku. Aku tak enak mau bilang dia salah. Tapi akhirnya aku jelaskan juga kalau de facto itu artinya sama dengan kumpul kebo, samen laven. Hidup bersama tanpa nikah. Secara fakta kelihatannya mereka sudah seperti suami istri, karena sudah hidup bersama, sudah kawin secara biologis tapi belum kawin secara legal (nikah).

“Hehehe,” dia tertawa. “Yah, Mas Jul tahulah apa maksudku,” katanya.

Hari sudah larut malam ketika kami sampai di rumah, sedangkan teman istri masih melanjutkan perjalanan dengan taksi ke rumahnya.

*****

*Bukan nama sebenarnya.

0 Responses to “Cantik Secara De Facto”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: