Inilah Cara Bangun Pagi

wakeupSaya harus bangun dengan terpaksa. Alarm di ponsel pintar saya berteriak tepat pukul 05.00. Pintar, ia berkoar pada jam yang saya inginkan malam sebelumnya.

Jantung saya berdetak cepat sekali karena melintasi dua dunia dalam sekejap. Saya direnggut dari dunia mimpi untuk menghadapi dunia realita. Ada cerita yang tidak selesai ketika saya terjaga.  Saya duduk di tepi kasur. Jika ada pilihan saya mau balik lagi ke alam impian melanjutkan kisah yang terpotong tadi.

Tapi saya tidak ada pilihan. Tiga jam dari sekarang saya harus terbang ke Malang. Jam 10.00 saya harus bertemu bos saya di sana, yang sudah berangkat duluan tadi malam.

Putri kecil saya bangun dan perlahan ia jalan di atas kasur mendekati saya. Saya ingin muntah. Bukan karena putri saya bau pesing. Saya selalu begitu jika bangun mendadak pagi-pagi. Saya tarik nafas, perlahan perut saya membaik.

Bangun pagi-pagi secara teratur adalah impian saya sejak dulu. Saya sadar banyak manfaat karena bangun subuh. Ada yang bilang, jika mau kaya biasakanlah bangun pagi. Saya tidak mimpi mau jadi kaya. Saya ingin bahagia. Saya bisa pakai waktu fajar bekerja tanpa gangguan. Ini bagi saya itu adalah kemewahan. Banyak yang ingin saya kerjakan dengan waktu yang tersedia. Jika bisa, saya ingin menulis setiap subuh, dua jam sebelum berangkat ke kantor. Kebahagiaan bagi saya adalah ketika semua waktu di dunia ini untuk menulis. Dan membaca. Menulis. Membaca lagi. Sambil dengar musik tentunya.

Saya sudah coba. Tapi sampai saat ini tak pernah bisa bangun pagi. Saya pasang alarm, bangun tapi kemudian tidur lagi. Begitu terus.

Dulu kalau terbangun mendadak saya merasa seperti mau pingsan. Saya harus tidur delapan jam sehari. Kurang dari itu seperti ada yang kurang. Saya bisa tidak konsen seharian. Setelah kelahiran putri saya, saya beradaptasi. Tetapi tetap tidak bisa bangun secara reguler tiap jam lima pagi. Saya sudah coba.

Sekarang saya tidak mungkin balik ke kasur lagi. Saya bisa keterusan tidur dan ketinggalan pesawat. Tidak baik jika saya terlambat bertemu bos saya.

Jadi saya paksakan diri.  Saya bangkit. Putri saya mengekor saya ke kamar mandi. Istri saya terbangun akhirnya. Dia bilang air tinggal dipanaskan. Sebelum tidur dia sudah siapkan air dua belanga di atas kompor.

Di kamar mandi, selagi membersihkan bak, ajaib, semua rasa kantuk itu tiba-tiba sirna. Saya merasakan luapan energi hidup mengalir dalam tubuh saya. Apalagi melihat putri saya yang tertawa-tawa main air di ember.

Ternyata kita tak akan mati jika terpaksa bangun pagi. Hanya bersabar sedikit dengan ketidaknyamanan. Lalu semua akan baik-baik saja. Tapi yang terpenting kita harus punya motivasi. Miliki alasan kuat kenapa harus bangun sepagi itu. Kali ini saya dapat alasan tepat. Saya akan ditinggal pesawat jika tidak segera bangun.

Lalu saya teringat banyak teman Muslim saya yang harus bangun subuh karena tidak mau alpa sholat. Mereka punya motivasi yang sangat kuat untuk masuk surga, mungkin. Tapi saya non-muslim, dan tidak mau ke surga.

Jadi kuncinya motivasi. Untuk mengalahkan ketidaknyamanan pada beberapa menit pertama. Saya heran keinginan untuk bahagia tidak bisa bikin saya bangun pagi. Bahkan keinginan untuk masuk surga sekali pun. Takut ketinggalan pesawat itulah yang bikin saya bangun.

Ini pekerjaan rumah saya. Saya akan coba lagi beberapa pagi mendatang sampai akhirnya menjadi kebiasaan, dan bagun pagi menjadi otomatis. Dan mudah-mudahan saya bisa bahagia. Tanpa harus ke surga.

*****

(Jakarta, 28 Januari 2013).

0 Responses to “Inilah Cara Bangun Pagi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: