Inilah Cara Orang Korea Memperlakukan Turis

koreanSaya dan satu kolega sedang mencari Seven Eleven. Jam tiga sore, 10 menit lagi, kami harus ketemu teman-teman lain di sana. Kecuali Guide, tidak ada seorang pun tahu di mana toko itu. “Pokoknya di ujung jalan ini,” katanya lima puluh menit lalu dalam bahasa Inggris logat Korea.

Kami lantas berpencar mencari souvenir. Keluar masuk toko di sepanjang jalan itu. Menuju arah yang diberikan sang Guide. Mudah-mudahan ketemu Seven Eleven akhirnya.

Seven Eleven tidak ketemu juga. Kami harus cepat karena sudah tak tahan dingin. Seoul sore itu hanya satu derajat celcius. Memang tidak ada salju. Tapi angin cukup menusuk. Juga ada hujan. Dingin terasa sekali meski badan saya sudah dibentengi berlapis-lapis kain.

Saya bisa menghangatkan badan di Seven Eleven nantinya. Tidak perlu beli coklat panas. Di dalam ruangan pasti ada heater. Tapi di mana Seven Eleven persisnya? Saya sudah susah mikir. Saya bicara sudah mulai sulit karena bibir disiksa dingin.

Lalu saya lihat seorang pria berumur. Tingginya hanya sampai telinga saya. Tapi badannya lebih lebar. Dia tidak pakai sarung tangan, syal, dan penutup kepala seperti saya. Saya yakin dia orang Korea, bukan turis Jepang. Jadi orang lokal.

Saya tanya dia mana Seven Eleven dalam bahasa Inggris. “Do you know where Seven Eleven is?” Pria itu tersipuh. Oh, dia tidak bisa berbahasa Inggris. Kami tidak bisa bahasa Korea. Mungkin ia juga tak bisa ngomong bahasa Indonesia. Saya mulai gemetaran. Dia tersenyum-senyum.

“Seven Eleven!” kata saya menaikkan suara, “Seven Eleven!” kata saya lagi. Pria itu geleng kepala. Lalu berbalik meninggalkan kami.

Kami kecewa tapi harus terus jalan. Pria tadi berjalan lebih cepat. Jauh lebih cepat, entah apa yang ia kejar. Sekarang ia sudah jauh di depan. Jika saya berhitung: kami baru lima belas langkah ia mungkin sudah tiga puluh.

Tiba-tiba ia berbalik. Kami kaget. Dia teriak: “Seven Eleven!” sambil menunjuk-nunjuk ke salah satu deretan toko di arah kanan kami. “Seven Eleven! Seven Eleven!” katanya. Giginya kelihatan karena ia berteriak.

Kami berdua tersenyum melihat dia lagi. “Yes. Seven Eleven,” kata kami. “Gamsahabnida!” ucap kami dalam cakap Korea. Artinya terima kasih.

Pria itu membungkuk. Berbalik. Melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Kami tertawa. Heran. “Ngapain dia repot-repot balik yah?” kata temanku. “Kenal juga enggak.”

“Orang Korea, man,” kata saya. Kami bergegas menuju Seven Eleven sebelum dingin membekukan kami.

*****

Seoul, 22 Januari 2013.

0 Responses to “Inilah Cara Orang Korea Memperlakukan Turis”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: