Privasi Sekarat Dihajar Google

gowesPria itu langsung duduk di kursi di sebelah kiri saya. Saya baru selesai naik sepeda bareng ribuan orang. Mungkin dia juga ikut. Mungkin tidak. Meski hanya sekitar sepuluh kilometeran, jalur sepeda yang kami lintasi cukup melelahkan. Seluruh badan saya basah karena keringat. Mungkin bau. Tapi saya tidak mencium bau keringat dari pria itu.

“Badan Mas fit banget,” katanya. “Kencang.” Pria itu ramah sekali. Dia pakai topi warnah merah. Di depan topinya tertulis, “Sepeda As’ik”. Saya merasa capek. Tapi tak baik cuek dengan orang yang ramah dengan kita. Saya malah senang dibilang sehat. Mungkin ini maksud pria itu.

“Berapa putra Mas?” ujarnya lagi. Paha saya ditepuk-tepuk sama dia. Ooucch! Saya tidak kenal dia. Dia juga tidak kenal saya. Namun sudah berani pegang paha. Untung saya pakai jeans.

“Satu ajah Pak,” kata saya. “Bukan putra tapi putri, empat belas bulan usianya.” Saya teringat anak saya di Jakarta.

“Dari mana Mas?” kata dia, terus memanggil saya Mas. Meski bukan orang Jawa, saya sering dipanggil Mas. Tapi itu dulu sekali. Sekarang sudah jarang. Saya rela. Umur terus bertambah. Anak pun sudah punya.

Saya menyebutkan tempat saya bekerja. Mungkin ini maksud pria itu.

Saya mau nanya namanya juga. Saya penasaran. Tapi tidak jadi karena saya bisa baca tulisan di samping topinya. Mungkin ini nama pria itu.

Saya lantas ambil Android. Pura-pura mau kirim SMS. Padahal saya buka Google dan ketik nama yang saya baca dari topi dia.

Dalam seratus dua puluh detik saya bisa tahu di mana ia bekerja; di mana kantornya. Siapa teman-temannya, juga saya tahu dari Facebook. Dari salah satu koran nasional, saya juga tahu komentar dia terhadap salah satu isu.

Dia tidak tahu saya sekarang sudah lebih tahu banyak tentang dia dibanding dia tahu tentang saya. Ini seperti fiksi ilmiah. Hanya lebih menakutkan.

Aih, privasi sedang sekarat dibantai Google. Tidak ada lagi tempat sembunyi, tapi salah kita juga: mau kasih Google semua data pribadi. Narsisme juga kelemahan kita semua. Orang-orang ingin pamer. Dan mereka mendapatkan etalasi itu di internet. Kita perlu Google. Kita harus maju bersama teknologi. Tapi jangan kasih kesempatan Google memanfaatkan kita.

*****

(Mataram, 09 Desember 2012)

0 Responses to “Privasi Sekarat Dihajar Google”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: