Mencintai Dengan Sederhana

Aku mencintaimu meski tak tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana,

Aku mencintaimu apa adanya, tanpa beban atau rasa bangga:

Aku mencintaimu dengan cara ini sebab aku tak tahu cara lain untuk mencintai

 Tetapi di sini, di mana tidak ada Aku atau Kamu,

Begitu dekatnya sehingga tanganmu, yang ada di atas dadaku, adalah tanganku sendiri,

Begitu dekatnya sehingga saat aku tertidur matamulah yang menutup

“Plagiat!” kata istri dengan SMS. Aku kaget karena sudah membayangkan ia akan terharu lalu berterima kasih. Mungkin ia tak yakin aku bisa tulis puisi. Mungkin ia tak berharap, dan tak senang terima puisi melalui SMS. Barangkali ia lupa aku pernah, waktu pacaran, gubah sajak untuknya.

Tapi istriku benar: ini penggalan syair orang lain. Penulisnya seorang komunis Chili, Neftalí Ricardo Reyes Basoalto, a.k.a. Pablo Neruda, pemenang nobel sastra 1971.  Judul puisi ini No Te Amo, bahasa Spanyol yang berarti Aku Tidak Mencintaimu. Jangan tertipu dengan judulnya.

Aku salut dengan orang yang bisa ungkap kata hati yang begitu padat makna hanya dengan kata-kata sederhana .

Sajak Neruda lain yang aku suka, yang tak berani lagi aku kirim ke istri, adalah Jika Engkau Melupakan Aku:

…..

Maka, sekarang,

Jika detik demi detik kau berhenti mencintaiku

Aku akan berhenti mencintaimu detik demi detik

Jika tiba-tiba kau melupakan aku

Janganlah mencari aku,

Karena aku pasti sudah melupakanmu

Jika kau pikir ini lama dan tak waras,

tiupan angin kain spanduk

Yang berhembus dalam hidupku,

Dan kau putuskan

Untuk tinggalkan aku di pesisir

hati di mana aku berakar,

ingatlah

bahwa pada hari itu,

pada jam itu,

aku akan merentangkan tanganku

Dan akarku akan lepas landas

Mencari daratan lain

…..

Sehari sebelumnya, aku kasih ke seorang kawan puisi seorang sufi asal Persia, Rumi. Istri sobatku ini meninggal pada hari Selasa, 14 Februari 2012. Menjelang wafat, ia bercerita, seorang pria teman sekelas SMA istrinya, datang menjenguk di rumah sakit.

“Ia mengaku muslim, dan bicara banyak tentang cinta-kasih,” kata temanku, non-muslim.

“Awalnya aku pikir ia anggota laskar FPI, ” lanjutnya, tak bercanda. “Dengan jubah ikhwan; pakai peci. Tapi jenggotnya tidak terlalu panjang.

“Sebelum pamit ia menari, berputar-putar. Aku heran ia tak jatuh.”

“Oh, Rumi,” kataku, setengah yakin. “Tarian itu mungkin dervish dance, atau tarian Rumi. Dan Rumi bicara banyak tentang cinta-kasih.”

Mereka berjanji akan bertemu kembali untuk ngobrol-ngobrol. Aku tanya kalau bisa ikut. Aku mau nguping mereka ngomong soal “cinta kasih”; dan kalau aku benar, mungkin bisa minta pria ini melantun puisi Rumi.

Aku SMS puisi Rumi:

Love is from the infinite, and will remain until eternity.

The seeker of love escapes the chains of birth and death.

Tomorrow, when resurrection comes,

The heart that is not in love will fail the test

Aku pilih puisi ini karena temanku percaya Hari Kebangkitan, manakala ia yakin akan kembali bertemu istri yang amat dikasihinya.

“Esok, ketika kebangkitan tiba,

Hati yang tidak sedang mencintai tak akan lulus uji,” tulis Rumi.

Tiga puluh lima abad lalu seorang pria Ibrani, Musa ben Amram, cucu angkat raja Mesir (Firaun), yang diyakini sebagai nabi oleh kaum Muslim, Nasrani dan Yahudi (sesuai urutan abjad), mencatat dalam Taurat bahwa Tuhan mencipta ibu para manusia dari tulang rusuk Adam, pria pertama.

Tapi mengapa harus dari tulang rusuk bukan dari tulang kepala, atau mungkin tulang kaki? Tidak ada keterangan lanjutan.

Ada yang berspekulasi.

Mereka bilang, bukan dari tulang kepala supaya wanita tak sewenang-wenang atas pria, juga tidak dari tulang kaki supaya jangan diinjak-injak pria. Tetapi dari tulang rusuk, dekat jantung dan hati, supaya dipeluk, dicintai, disayangi. Dan sangkar tulang rusuk ada di sana untuk melindungi jantung, hati kiasan, tempat cinta itu tumbuh.

Apapun, hak seorang istri adalah dikasihi suaminya. Apapun,  seorang suami wajib mengasihi istrinya.  Apapun, hak seorang suami adalah dikasihi istrinya.

Dan kata adalah langkah pertama supaya orang yang kita kasihi tahu bahwa kita mencintai mereka.

Aku dan istri tidak merayakan Valentine pada 14 Februari lalu, dan mungkin tidak akan pernah merayakan hari ini.  Namun tak mesti tunggu 14 Februari untuk bilang sayang, bukan? Kalau bisa, setiap hari bilang “I love you”. Tapi itulah masalahnya: ungkapan kata akan menjadi klise dan basi ketika dipakai berulang-ulang, menjadi ekspresi tanpa nuansa, makanan tanpa garam. Hambar. Dan “hambar”, ketika kau bicara tentang kata, berarti tidak tulus.

Maka kau harus kreatif merangkai kata. Kau bisa kutip puisi dan syair lagu orang lain tapi sebisa mungkin ungkapkan kata hatimu sendiri.

Kau tidak perlu jadi penyair, dan menang nobel sastra dulu, untuk mencurahkan perasaanmu. Kita semua mencintai dengan cara kita masing-masing.

Ada yang bilang katakanlah cinta dengan berlian. Jika kau mampu. Tapi jelas mahal. Maka cintailah kekasih kita apa adanya, seperti Sapardi Djoko Damono, seorang profesor dari Depok:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku senang dengan lirik membumi seperti ini, kata-kata yang bisa buat orang buka hati, bukan buka kamus.

*****

P.S.: Berikut alternatif bagi yang mau bilang “I love you” dengan tidak sederhana:

qrc

Ambil Quick Response Code (QRC) reader-mu dan bacalah. Atau kau bisa bikin QRC-mu sendiri.

*****

1 Response to “Mencintai Dengan Sederhana”


  1. 1 Teddy February 27, 2012 at 6:46 pm

    Simple make you happy day by day…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: