Bukan Hari Biasa

Ada hari-hari tertentu dalam hidup yang selalu kau ingat, tak sekedar lewat seperti hari-hari biasa. Hari pernikahan; saat putra-putri kita lahir; ketika bayi kita bilang pa-pa, atau ma-ma pertama kali: ini merupakan hari-hari bersejarah yang, bagi mayoritas orang, melupakannya berarti dosa tak terampuni.

Kehilangan orang yang kita kasihi dalam kematian; kecelakaan naas; hari ketika kita dipecat: ini adalah tragedi, dan kita ingat hari itu karena derita yang ditinggalkannya.

Namun suatu hari tak mesti historis atau tragis lantas dikenang.

Ada hari-hari yang begitu normal, hidup yang berotasi setiap dua puluh empat jam sekali secara mekanis nan otomatis. Tapi di antara jarak waktu itu terselip satu, dua atau bahkan tiga insiden yang akhirnya kau tahu bukan hari-hari biasa karena statistik dan probabilitas bermain lotere denganmu.

Detik. Mawar. Tikus. Tiga kejadian pada hari Rabu, 18 Januari 2012. Ijinkan saya cerita.

Detik

Saya mungkin tidak akan pernah tahu akan hal ini kalau tidak keliling cari tamu yang tidak datang-datang ke ruang rapat.

Tamu saya ternyata menunggu di depan ruang lain. Selagi menjemput mereka, saya berpapasan dengan seorang karyawan PT Ericsson Indonesia. “Onno Purbo mengutip kamu di detik loh,” katanya.

Onno Purbo mengutip saya di detik.com? Saya pernah baca buku dan artikel tentang dan oleh Onno Purbo.

An ordinary Indonesian. Rakyat Indonesia Biasa Saja. Demikian tulis Purbo tentang dirinya di facebook. Tapi wikipedia, salah satu situs web paling populer sejagat, bilang Purbo “adalah seorang tokoh (yang kemudian lebih dikenal sebagai pakar di bidang) teknologi informasi asal Indonesia.”

Rekan tadi berusaha memperlihatkan tulisan tersebut dari ponsel. Artikelnya tidak ketemu. Yakin namaku muncul di detik.com?

“Iyah!” kata dia. “Kamu enggak baca?”

“Yah sudah, nanti aku google,” kata saya.

Saya kembali ke laptop, setelah antar tamu ke ruang rapat.

Saya tanya Mbah Google: “Julitra Ono detik”. 0,14 detik kemudian ia kasih jawaban melalui 39 tautan. Saya harus milih dan pilah. Itulah Google yang saking banyak tahu. Terlalu pintar kadang bikin bingung orang lain.

Saya klik link ke detik.com; ada satu artikel yang diterbitkan kurang sejam sebelumnya.

Di tulisan ini Purbo menjelaskan konsep “Open BTS”. Purbo menyalahkan pemerintah. Ditulis besar sebagai judul: Kesalahan Pemerintah: Seluruh frekuensi GSM Untuk Operator. “Kesalahan fatal pemerintah adalah seluruh alokasi frekuensi GSM sudah dialokasikan ke operator untuk memberikan layanan ke seluruh republik Indonesia. Tidak ada alokasi frekuensi untuk operator desa/operator rakyat,” kata Purbo.

Lalu mana dia mengutip saya?

Di pertengahan artikel. Rupanya cukilan data frekuensi dari julitra.wordpress.com. Bagusnya, Onno Purbo, PhD masih mengakui sumbernya.

Saya jadi kurang enak, data saya dipakai menyerang tempat saya cari nafkah.

Mawar

Pukul 18.10, setelah rapat dengan vendor ke-4 selesai, saya lihat ponsel. Ada pesan masuk sejak dua puluh tujuh menit sebelumnya.

Mawar, perempuan nostalgia, mengirim pesan. Terakhir saya baca SMS dia lima tahun lalu. Setelah itu dia raib. Bulan Januari 2007, saya tulis surat untuk Mawar, lebih dari delapan halaman kertas A4, hampir dua ribu kata. Surat terpanjang, bahkan sampai hari ini, hanya agar tetap waras. Entah dia baca atau tidak.

Yah, faktanya  kau tidak akan pernah amnesia dengan orang yang pernah kau cintai, yang tidak bersamamu saat ini, karena kisah yang kau cipta bersama mereka adalah sejarah kemudian tragedi.

Pada pagi hari sebenarnya saya terima email notifikasi dari wordpress.com karena ada komen masuk blog. Saya sangat terkejutkarena komen itu dari Mawar,  “Jadi sudah menikah? Selamat berbahagia yah…” tulisnya.

Saya guncang seperti pesawat lewat turbulensi parah. Selamat berbahagia; apakah orang menikah lantas berbahagia? Apakah dia bahagia setelah menikah?  Dan dia berbahagia  bukan dengan saya?

Saya tanya ke rekan di seberang meja seandainya ia dikontak oleh perempuan kenangan. “Cuekkin, Om Jul.” kata dia. Padahal Mawar meninggalkan alamat email di kolom verifikasi. Yah, sudah kalau begitu.

Tapi sore itu saya harus baca SMS Mawar: ”…Mohon kamu tidak keberatan jika saya mengucapkan selamat berbahagia atas pernikahan dan kelahiran baby-nya. Maaf jika terlambat…”

Saya gamang apakah harus mengabaikan pesan ini juga.

Akhirnya saya jawab benar kalau saya sudah menikah, dan benar saya sekarang punya seorang putri. Saya lupa bilang terima kasih Mawar sudah kasih selamat. Saya lupa bilang terima kasih bahwa setelah lima tahun dia mau kontak saya lagi.

Mawar permisi apakah dia bisa telpon. Saya tahu saya belum siap, maka saya bilang tidak, karena ada sesuatu yang harus segera saya beli untuk putri saya. Membeli sesuatu untuk putri tercintamu memang urgen tapi bukan berarti kau tidak bisa menerima telpon dari perempuan masa lalumu. Tapi itulah, ketika kau guncang memang butuh waktu untuk kembali sadar.

Di rumah, sambil kasih barang belanjaan, saya beri tahu istri kalau Mawar barusan kontak.

Saya tidak tahu kau dengan istrimu, tapi saya cerita semua perempuan masa lalu. Mereka mungkin lebih dulu saya cintai, tapi istri saya, mudah-mudahan, wanita terakhir yang saya cintai.

Ada yang bilang pria selalu ingin menjadi cinta pertama seorang wanita, dan wanita selalu ingin menjadi cinta terakhir seorang pria. Setelah menikah saya tahu bahwa yang benar adalah pria atau wanita selalu ingin dicintai oleh orang yang mereka cintai, tak peduli jadi yang pertama atau terakhir.

Istri saya tidak berminat dengar cerita saya. Istri saya lebih tertarik menenangkan putri kami yang mungkin flu malam itu. Maka saya pun tidak lama-lama. Setelah itu saya ke kamar mandi.

Tikus

Saya pikir semua sudah selesai: jarang-jarang namamu muncul di media masa, dalam arti yang positif. Jarang-jarang ada kontak dengan orang yang tampaknya telah melupakanmu. Dan semua terjadi dalam satu hari bersamaan? Saya jelas lelah, emosi saya bercampur aduk. Mixed feeling.

Tapi probabilitas dan statistik suka humor hingga detik-detik terakhir.

Saya mungkin mencaci. Kau mungkin akan menjerit dan memaki sekalian dalam kamar mandi jika air yang kau gunakan membersihkan badan ternyata sudah bercampur kencing dan tahi tikus.

Hampir enam tahun saya tinggal di rumah ini, belum pernah saya lihat tikus dalam rumah. Itulah kenapa saya betah. Maka hitung sendiri probabilitas kau akan lihat tikus dalam rumah setelah enam tahun. Kemudian kalkulasi pula probabilitas bahwa dari banyak sudut di rumah ia akan muncul di bak kamar mandi.

Tapi di sini, di dalam bak seekor tikus sedang berenang bebas. Si tikus tampaknya keluar dari lubang toilet, dan saya tidak tahu bagaimana ia bisa terjun bebas ke dalam bak. Sial, aku batal muntah.

Istri saya tuang sisa dettol ke dalam bak karena keputusan kami sudah final: sang tikus harus dihukum mati dengan cairan dettol! Ia capek berenang, dan kami berharap dettol bisa mempercepat kematiannya. Kami ingin tangan kami bersih dari darah tikus ini, maka biar dettol yang mengantarnya pergi ke alam baka. Ternyata tidak. Sampai saya klaar masak dan makan malam, tikus belum mampus juga. Saya iba hati lihat dia timbul tenggelam di bak. Benar, kami ingin dia mati tapi harus mati secepatnya dan tanpa  darah (quick and bloodless death).

Saya bilang ke istri saya mau ubah keputusan. Tikus ini jangan mati di bak sini.

“Tapi kalau dibuang, tikusnya balik lagi!”

“Kayaknya dia sudah trauma balik lagi ke sini deh,” ujar saya.

Saya raih tikus dengan gayung. Istri sudah siap dengan ember dan penutupnya. Eh, stop! stop! saya bilang, foto dulu, karena ini pasti akan masuk blog.

Are you out of your mind?” kata istriku, “Orang akan lihat betapa jeleknya kamar mandi kita!” Tapi dia potret juga tikus dalam gayung yang saya pegang.

Pluuup! Kami tangkas memasukkan tikus ke dalam ember, dan menutupnya, sebelum dia berhasil loncat melarikan diri. Maka dengan segala cara, saya dan istri sukses mengeluarkan si tikus dari bak. Dengan gayung sekalian, aku buang tikus di tempat sampah depan rumah. Tapi saya bawa pulang ember. Istri akan mencuci total ember ini hingga steril.

Setelah membersihkan diri lagi, pakai selang mesin cuci, saya kembali ke kamar, melihat putri saya yang lelap. Saya ambil laptop, dan di sampingnya,  mulai menulis blog ini.

Kau mungkin ingat hari ketika kau dikutip media massa oleh pakar yang kau segani. Kau mungkin ingat hari ketika perempuan nostalgia mengontakmu setelah sekian tahun tak dengar kabar berita. Kau mungkin ingat malam ketika kau mandi bersama tikus. Dan ketika semua peristiwa ini terjadi dalam satu hari, yakinlah kau tidak akan pernah lupa kecuali kau sudah tak hirau dengan hari-hari hidupmu.

Dengan menulis ini saya mengenang hari itu, meski saya akan selalu mengingatnya. Walau tanpa sejarah dan tragedi. Tentang suatu hari ketika probabilitas dan statistik membuatnya bukan hari biasa.

*****

1 Response to “Bukan Hari Biasa”


  1. 1 Bro Teddy January 24, 2012 at 1:09 pm

    Who is Maria? Btw, Itu bukan tikus bro, itu cecurut tapi banyak orang bilang tikus. Kalau dirumah kita langsung kita eksekusi dengan cara: please hold badannya dengan kayu toga (harus keras jangan lepas) trus kayu satunya lagi menghajar kepalanya berkali-kali (kali-kali-kali…pakai echo bro…) Memang sadis dan tak berperikebinatangan. tapi itu membuat efek jera bagi “teman-temannya” yang masih bersembunyi ‘around there’ . Jeritan yang menyayat hati… (hati tikus loh bukan hati saya) itulah yang membuat ciut para teman-temannya. TIdak sampai nol koma empat belas detik sang tikus eh cecurut sudah menghadap sang kuasa…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: