Aku Berkati Hari Kamu Dilahirkan

Kepada Sofie.

“Saya tidak minta untuk dilahirkan!” teriaknya. Seorang perempuan yang lebih muda kepada seorang perempuan yang lebih tua. Atau yang lebih tua kepada yang lebih muda, aku kurang yakin. Tapi bukti ada dalam kata, bukan?

Mereka kira tidak ada siapa-siapa, tapi saya mendengar semuanya. Itulah, pada hari ini, saya bisa cerita ini kepadamu.

Perempuan yang lebih tua, yang hanya diam, tambah diam. Dia menatap perempuan yang lebih muda, putrinya, jika kata-kata adalah bukti, seperti penumpang tertinggal  kereta.

“Aku tidak minta kamu lahir, nak,” katanya, “Kamu memilih untuk hidup di sini.

“Hari ini kamu harus tahu semuanya, sebab diam, perlahan-lahan, merampas hidupku. Dua puluh tahun terlalu lama untuk menyimpan sebuah pengakuan.”

Mereka kemudian tak berkata cukup lama. Saya hampir beranjak karena tak sanggup melawan sunyi.

*****

“Ketika itu sudah lima tahun kami menggunakan kontrasepsi, karena punya anak tidak masuk rencana.

“Kami tidak ingin menambah satu lagi penderitaan di tengah dunia yang semakin menderita.

“Tetapi aku hamil juga,” dia berhenti. “Keputusan kami bulat: Kehamilan ini harus diakhiri pada saat itu juga sebelum sang janin tumbuh matang.

“Tetapi dalam perjalanan ke klinik ada sesuatu yang mengubah segalanya.” katanya. Lalu kembali diam.

“Seekor kucing tiba-tiba menyeberang jalan. Agar kucing jangan tertabrak, dan mati, kami mendadak banting setir. Naas, dari belakang kendaraan lain melaju kencang menabrak kami. Singkat cerita, aku tinggal di rumah sakit selama sebulan. Ayahmu hanya mampu bertahan selama tiga hari. Namun ini lebih baik, atau ia akan sangat menderita.

“Jika kami harus menyelamatkan nyawa seekor kucing, kenapa kami tidak membiarkan kamu hidup, kamu yang adalah darah dan daging kami sendiri?

“Kami mencintaimu sedari awal.  Meski cinta itu keliru karena kami tidak ingin kamu menderita.

“Aku mencintaimu pada hari kamu dilahirkan. Aku memberkati hari lahirmu. Karena kamu datang membawa sukacita. Terima kasih karena itu yang aku butuhkan untuk melawan ketakutan itu. Ketakutan membesarkanmu. Ketakutan untuk melihat jadi apa kelak jika kamu besar. Ketakutan untuk gagal membuatmu bahagia. Ketakutan untuk melepasmu pergi di tengah dunia yang sekarat dengan penderitaan ini.”

*****

Ketika saya pergi, dan tidak ada seorang pun dari antara mereka yang tahu, saya melihat kedua perempuan itu saling peluk, air mata melintas di pipi, namun tak ada suara air mata.

*****

Jakarta, Jumat, 23 September 2011, pukul 18.55.

2 Responses to “Aku Berkati Hari Kamu Dilahirkan”


  1. 1 asep October 28, 2011 at 4:19 pm

    Selamat ya Pak..

    tks..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: