BTS Di Setiap Rumah, Mungkinkah?

Bayangkan apa yang akan terjadi jika operator selular kini fokus memanjakan pelanggan dengan memasang BTS di rumah mereka masing-masing sebaliknya daripada terus menambah menara di tengah rimba belantara BTS kota?

Tampaknya mustahil, sanggah kebanyakan orang. Yah, tempoe doeloe memang orang berlomba minta dibangun BTS di area tempat tinggal mereka. Kini, roda kehidupan telah berputar dan hanya Tuhan dan operator tahu betapa berlikunya perjalanan membangun sebuah BTS! Dimulai dengan pencarian lahan; jika lokasi yang cocok didapat, tentangan warga menghadang; jika warga sudah oke, sewa lahan bikin bokek.

Dan sekarang, Anda mengatakan akan ada BTS di setiap rumah pelanggan?

Credit: AT&T

Kenapa tidak?  Sebaliknya daripada mendirikan menara setinggi pohon kelapa yang suka dicium petir, mengapa bukan perangkatnya saja yang ditempatkan di rumah-rumah? Dan mengapa pula perangkat BTS harus besar jika pemakainya hanya beberapa orang? Faktanya, sekarang telah tersedia BTS portabel mini, sebesar buku tulis atau bahkan lebih kecil, yang disebut femtocell access point. Pelanggan tinggal plug and play. Meski mungil, femtocell sakti menyediakan layanan komunikasi, siap bertarung dengan BTS “sungguhan”.

Femtocell akan menyederhanakan arsitektur jaringan dan mengubah model bisnis operator selular.

Jika setiap rumah dan gedung memiliki femtocell, jumlah menara BTS (Macro) akan berkurang drastis. BTS-BTS Macro hanya akan berfungsi sebagai coverage umbrella untuk aktifitas luar rumah. Dengan berkurangnya jumlah menara BTS, operator dapat solusi otomatis untuk masalah warga dan tentangan terhadap pembangunan menara yang dianggap merusak estetika kota. Ini juga mendukung gerakan ramah lingkungan. Dari internal operator sendiri, dengan diadopsinya femtocells akan membuat gelar jaringan menjadi lebih cepat, karena prosesnya dipersingkat, dan tentu saja hemat OPEX karena tidak perlu membayar biaya sewa dan operasional perangkat.

Femtocell juga membawa kabar baik untuk masalah indoor coverage. Seperti diketahui, masalah blank spot menjadi isu di mana-mana bahkan di negara maju dengan jaringan yang mapan. Cakupan sinyal indoor yang jelek dipicu oleh karakteristik frekuensi yang mengalami redaman/pengurangan level sinyal saat menghantam tembok. Semakin tinggi frekuensi, semakin tinggi redamannya. Ini menjelaskan kenapa sinyal 3G lebih bermasalah di dalam rumah dibanding sinyal 2G karena frekuensinya lebih tinggi. Memang ada solusi indoor lain seperti BTS Indoor tapi model bisnisnya tidak pas untuk rumah penduduk.  Pemasangan repeater, yang menguatkan sinyal, juga sedikit membantu tapi hanya praktis di area-area tertentu. Maka femtocell adalah sang juru selamat yang dinantikan itu.

Credit: Femtoforum

Sehubungan platform teknologi, arsitektur jaringan radio femtocell juga berbeda dengan arsitektur jaringan radio GSM/WCDMA. Femtocell tidak keluar menuju BSC/RNC. Femtocell langsung tersambung ke gateway-nya sendiri, yang selanjutnya terkoneksi ke jaringan core. Femtocell memanfaatkan tersedianya jaringan broadband dan bakchaul IP yang sudah standar.

Oleh karena itu, syarat gelar jaringan femtocell adalah ketersediaan jaringan broadband. Di negara-negara dengan tingkat penetrasi broadband tinggi, femtocell kian menjadi trend. Di Singapura, Starhub menjadi operator pertama di dunia, sejak 2008, yang menggunakan femtocell 3G. Di AS, jumlah femtocell sekarang sudah melampaui BTS Macro. Femtocell akan menjadi trend masa depan seiring sejalan dengan derap langkah jaringan broadband.

Mengingat jaringan broadband sebagai syarat dasar, jelas femtocell bukan sebagai pesaing layanan data. Dari semua business drives operator yang sudah menggelar femtocell, yang pertama dan utama tetaplah untuk solusi masalah indoor coverage.

Dan jangan lupa, kedepan karena femtocell bisa melibas BTS Macro, ia akan menjadi game-changing dalam industri layanan jasa selular. Ini akan terjadi ketika setiap rumah pelanggan terpasang BTS mini nan portabel, femtocell.

*****

0 Responses to “BTS Di Setiap Rumah, Mungkinkah?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: