Pengamen Bocah Mandi Hujan

Credit:Dreamstime

Anton merasa kuatir. Ia melihat langit berwarna tanah, bukan lagi putih dan biru seperti sebelumnya. Air mulai menetes dari angkasa. Dengan langit sepekat ini, hujan tak akan mampir sekedar basa-basi, pikirnya. Daun-daun berdansa makin liar bersama angin. Pohon bisa mabuk dan tumbang di jalan.

Anton sudah duduk di warung itu hampir sejam. Di depan warung, mobil-mobil merangkak tersendat menunggu giliran jalan dari lampu merah yang tegak di tepi jalan raya, 50 meter di sebelah kiri Anton. Di sebelah kanan Anton duduk Borus. Di sebelah kanan Borus duduk Firman. Anton kenal Firman sudah lama. Anton baru dikenalkan Firman ke Borus siang itu juga.

Anton tahu supir-supir kadang memperhatikan mereka bertiga. Tapi itu tak terlalu mengusik dibanding karbon dioksida yang menguap jorok dari knalpot mobil. Atau bau saluran got trotoar yang kentut di bawah bangku yang mereka bertiga duduki.

Anton mau pamit. Namun Firman terus ngobrol dengan Borus. Firman bahkan kasih kode untuk tetap bicara. Tapi Anton tak lagi konsen.

Hujan akhirnya benar-benar datang.

Seorang bocah tiba-tiba muncul. Putra Borus, ternyata.

“Pah, aku mau mandi hujan,” kata si bocah.

Anton tahu si bocah mau ijin ke bapaknya. Mau mandi koq harus ada surat ijin? pikirnya. Tapi yah dia dulu juga begitu. Ia ingat ketika masih bocah pernah dihajar dengan rotan ketangkap mandi hujan.

“Enggak bisa!” Borus memoloti putranya. Si bocah merajuk menatap mata bapaknya.

“Kamu bisa sakit, Nak!”

Si bocah langsung buka kaos. Bertelanjang dada, ia menerobos hujan. Tak peduli ayahnya, tak peduli mobil-mobil yang lewat.

Tapi Borus cuek juga.

Si bocah mungkin bukan permisi tapi lapor. Mau mandi koq lapor? Tapi apa Borus peduli juga yah?

Borus kecil mengajak satu bocah lagi. Dalam hujan kedua bocah ini menunjukkan keperkasaannya: hai, kami binarawan dan atlet masa depan!

Anton dan Firman akhirnya pamitan. Saat berjalan mengambil motor, yang diparkir tak jauh dari bangku, masih di atas trotoar juga, Anton melihat kedua bocah itu meloncat di atas bus kota.

“Mereka ngamen,” kata Firman sambil tersenyum, menggeleng melihat tingkah para bocah.

Tak lama, kedua bocah itu selesai dan lompat lagi, kini dari pintu belakang bus kota, kemudian mendekati Firman.

“Om mau pulang?” tanya si Borus kecil.

“Ayo pulang, ganti pakaian,” balas Firman, “nanti kamu sakit!”

Kedua bocah itu meloncat-loncat di tempat.

Anton penasaran. “Hei, bocah, namamu siapa?”

“Gabriel, Om,” katanya sambil mencium tangan Anton. Gabriel. Orang Arab memanggilmu Jibril, sang malaikat penyampai wahyu. You are an angel, Anton bergumam. Tahu tidak, kami baru saja bicara tentang Mikael, sang penghulu malaikat, dengan ayahmu.

Anton melihat kantong plastik nyangkut di pinggang Gabriel. Kantong uang hasil ngamen. “Sini, untuk om ajah kantong plastik itu!”

Gabriel tertawa. Lantas berlari menjauh dari mereka berdua, mengejar bus kota untuk ngamen lagi, masih basah kuyup dan tetap bertelanjang dada.

*****

1 Response to “Pengamen Bocah Mandi Hujan”


  1. 1 ryanstefan February 3, 2012 at 4:47 pm

    Tidak soal yang tua (Anton) maupun yang muda/anak-anak (Gabriel), mereka sama sama “demen” isi plastiknya hehe ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: