Konsepsi

Credit: Dreamstime

“Jika kehidupan dimulai sejak konsepsi….” kata  Agus, tapi kalimatnya diserobot istri sebelum terkata sempurna.

“Tidak ada jika-jikaan: kehidupan memang start saat sel jantan membuahi sel betina.”

“Dengar dulu,” kata sang suami. Ia berhenti, mendengus menatap Maya.  “Jika kehidupan dimulai sejak konsepsi maka embrio dalam rahimmu adalah manusia.”

Maya tertawa. “Masa binatang?”

“Heh, bukan sel jantan membuahi sel betina; pakai kata tepat maksud,” ujar Agus. “Tetapi ketika sel sperma membuahi sel telur.”

“Maksudmu apa sih, Sayang?”

“Aku mau bicara dengan anakku mulai hari ini.”

“Belum tentu perut ini berisi.”

*****

Agus berdiri dibalik tirai. Dokter sedang memeriksa istrinya di seberang kain itu. Ia melihat meja di samping kirinya. Blackberry dokter spesialis kandungan itu tergeletak pasrah di sana. Suster berada di balik tirai itu juga.

Tiga wanita, dibalik tirai, dan seorang pria di dalam ruang periksa dokter kandungan, pikir Agus.

“Sayang, lihat sini.” Maya memanggil.

Di atas ranjang Maya tergeletak. Resleting jinsnya terbuka sebagian. Kaos dalam warna kuning istrinya tidak lagi menutupi pusar. Sebaliknya sebuah stik dengan ujung bundar menari-nari di atas perut istrinya, sekitar pusar itu juga.

Maya memberi isyarat ke arah monitor di mana kabel stik tersambung. Agus melihat gambar hitam putih bersinar dari layar. Bentuknya seperti cone es krim terbalik. Agus teringat alat yang sama, lima tahun lalu, dipakai periksa kemenakannya yang punya jantung bocor.

Jantung bocor! Istrinya tidak bermasalah dengan jantungnya, bukan?

Gambar cone es krim terbalik terus berpendar, tapi otak Agus tetap gelap. Ia melihat lubang hitam yang menonjol di tengah-tengah monitor.

“Seperti black hole,” katanya pelan di belakang dokter kandungan yang duduk membelakanginya. “Dan yang putih-putih itu galaksi alam semesta.

“Kepala bayikah?”

Sang dokter berpaling mencari wajahnya, tersenyum. “Kantong kandungan.”

“Hamil?”

“Yang tidak hamil tidak akan ada warna hitam ini,” kata sang dokter sambil mengukur “lubang hitam” itu. Agus melihat angka 11.8 cm muncul di layar.

Sang dokter kemudian memberikan cetakan USG itu. “Sudah lima minggu,” kata dokter mengulurkan tangan memberi selamat.

Selamat.  Seharusnya ini momen untuk selebrasi jika saja  kehamilan ini direncanakan.

“Sebenarnya, kami belum bermaksud punya anak,” kata Agus. Belakangan ia menyesal mengucapkan kata-kata itu.

Agus dirangkul Maya keluar dari ruang periksa.

Are you scared?” tanya Maya ketika mereka sudah duduk di depan apotek rumah sakit.

To death.”

“Dan aku harus seperti ibu-ibu di sana, menjaga anak-anak mereka yang berlari ke sana kemari. Oh tidak!”

Agus melihat ke arah perut istrinya. Berbisik pelan tapi masih terdengar. “De, jangan salah paham yah. Papa dan Mama bukan tidak menginginkanmu tapi ini tidak masuk dalam planing kami.”

“Tahu tidak,” kata Agus kini ditujukan kepada istrinya, “Kita melakukan banyak cara menunda kehamilan. Tapi kita hamil juga. Apa arti semua ini?

“Bahwa anak ini datang untuk kita. Memang untuk kita. Dia sengaja memilih kita, Sayang,” ujar suaminya.

*****

Agus mengamati cetakan USG di hadapannya. “Anakku kini berusia lima minggu,” gumamnya.

Ia memanggil istrinya. “Tahu enggak Sayang, kalau orang Vietnam menghitung usia mereka bukan sejak lahir tetapi sejak dalam kandungan.”

“Orang Tionghoa juga,” timpal istrinya.

“Itulah mulai hari ini kita harus melibatkan dia dalam percakapan kita. Kita mesti menyapa, berbicara dengannya tiap hari.”

“Tapi Sayangku jangan tempel foto USG anak kita di Internet yah,” pinta istrinya

“Toh anak kita juga. Tidak ada yang salah.”

“Jika kehidupan dimulai dari konsepsi, “ ucap istrinya, “Dan faktanya anak kita baru lima minggu. Tidak baik menampilkan foto anak di bawah umur di Internet.”

Agus meringis, membenarkan istrinya setengah hati. “Kalau begitu aku gambar anak kita. Biar gambarnya saja ada di Internet. Foto USG ini kutaruh meja kerjaku.

“Aku akan menjadi ayah,“ katanya. Tangan kirinya memeluk istrinya. Tangan kanannya memegang foto USG anaknya.

“Tidak, tidak,” sanggah istrinya, “Kehidupan dimulai dari konsepsi. Kita sudah menjadi ayah dan ibu sekarang juga!”

*****

(Jakarta, 29 Januari 2011)

0 Responses to “Konsepsi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: