Make Love?

1

ma.ke-lo.ve \meik lav\verba\inggris

1: bercinta

2. berhubungan badan

3. hubungan suami istri

4. ml

5. hubungan seks

6. sanggama

2

 Yusran bangkit dari kasur sebelum matahari datang mengintipnya dari kisi-kisi jendela. Duduk di tepi ranjang, ia mencium nafas pagi yang menyelinap paksa dari himpitan kamar kos. Ia mengingat sesuatu, lalu jantungnya berdetak lebih 80 kali per menit.

Bertelanjang dada, mahasiswa semester tiga berusia 20 tahun itu, menyambar handuk dan mencari kelegaan di kamar mandi.

Hari ini akan berbeda, pikirnya. Bukan karena ungkapan klise, “Jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin”.

Apa yang akan terjadi hari ini mungkin akan mengubah nasibnya.

Bahkan jika surat itu hilang, ia tahu kapan dan di mana harus menemui perempuan itu. Ia sudah bersiap demi kesan pertama.  Melatih diri dengan diksi. Atau tutur kata dan bahasa penuh impresi. Pagi ini ia harus tampak sebagai lelaki sejati.  Terutama ia harus  bicara menembus hati dan jiwa perempuan.

3

Nama lengkapnya Yusran Paulus. Nama pertama dari ayahnya, seorang Muslim yang tak pernah alpa lima waktu. Paulus dari ibunya yang Protestan. Ibunya adalah istri kedua Ayahnya. Ayahnya, suami kedua ibunya.

Waktu di sekolah dasar ia ikut ayah ke masjid; di sekolah menengah ia ke gereja tak didampingi  ibu, yang jarang ke gereja. Setelah kuliah ia tak peduli harus ke gereja atau masjid.

Adakah artinya sekarang di mana ia harus pergi mencari Tuhan? Ayahnya selingkuh saat ibunya mengandung si bungsu. Menelantarkan dia dan dua adik perempuan. Dan si bungsu yang akan lahir tanpa ayah.

Di gereja, dulu, ia kerap tertidur mendengar khotbah, sering tentang politik, dan hal-hal luar biasa yang tidak mengubah hidupnya; ia mengamati mereka yang pintar berteori tentang Yesus tapi nol besar dalam praktek.

Ia sudah membebaskan diri dari semua dogma, aturan dan ritual masa lalu. Kini, ia hidup dengan dogma, aturan dan ritualnya sendiri.

4

Yusran mengetuk pintu. Menunggu jawaban dari dalam, matanya dialihkan ke pintu sebelah sambil memegang dadanya yang naik turun. Ia bernafas dengan ritme jantung yang kacau. Dag-dig-dug. Dag-dag-dig. Dug-dug-dug….

I can do it, ucapnya pelan. I can do it, katanya lagi. I can do it, ujarnya sekali lagi.

Ia sudah membayangkan ini ratusan kali: Goyang tangan perempuan itu. Bagi mereka ini shake hands. Bagi kita jabat/pegang tangan. Ikut cara mereka. Tatap kedua bola matanya. Sebut namamu.

Jantungnya berdetak lebih 80 kali per menit, seperti tadi pagi.

Tak lama, seorang perempuan berambut jagung membukakan pintu, mempersilahkan masuk dan menunjukkan kursinya.

My name’s Jennifer,” katanya tersenyum. Rambut perempuan itu pendek, yang berhenti di atas leher yang menyingkapkan kalung dengan untaian manik-manik hampir sebesar bola pingpong.

Yusran menyambut tangan perempuan bule itu; dijabat erat-erat, benar-benar shake hands. Matanya mencuri wajah Jennifer. Ia melihat di antara hidung mancung perempuan itu seperti terbentang dua danau biru, mungkin efek warna mata, pikirnya. Ia kemudian menyebutkan namanya.

Perfecto! semuanya lancar as planned.

Kecuali logat perempuan ini. Jennifer bicara dengan logat Australia yang asing di telinga Yusran. Seandainya ia ngomong dengan mulut yang dibuka lebih lebar, seperti orang Amerika di film-film Hollywood, mungkin ia lebih paham.

Our conversation is recorded,” kata Jennifer setelah Yusran duduk di hadapannya.

Yusran mempersembahkan senyum yang terbaik untuk Jennifer, “Let’s begin.”

Mereka akan berbicara bebas tentang topik apa saja selama 11-14 menit, sebagaimana yang dituntut oleh IELTS test.

5

IELTS test adalah uji kemahiran berbahasa Inggris yang jamak dipakai universitas-universitas Australia. Di Amerika Serikat ada TOEFL. Tapi berbeda dengan TOEFL, tes IELTS lebih menekankan keterampilan berbahasa yang praktis. Ada empat aspek kebahasaan yang diuji pada IELTS: Listening, Speaking, Reading and writing.

Tingkat kemahiran diperlihatkan oleh skala antara 0-9; jika Anda bisa cas-cis-cus Inggris laiknya native, nilai Speaking Anda bisa jadi 9.

Untuk tingkat Strata 1 (undergraduate), calon mahasiswa harus menunjukkan sertifikat IELTS dengan nilai rata-rata paling rendah 6; kecuali kedokteran dan hukum, 7.

Yusran mengikuti tes sebagai bagian dari seleksi beasiswa ADCOS (Australian Development Co-operation Scholarship) dari pemerintah Australia untuk studi undergraduate. Beasiswa ini diberikan hanya kepada siswa-siswa SMA di Indonesia bagian timur.

Ia sudah lolos tes akademis. Yang terakhir tes bahasa. Kemarin ia sudah mengikuti tes Listening, Writing dan Reading.

6

“Ceritakan salah satu momen kebahagianmu,” kata Jennifer.

“Tiga tahun di SMA adalah masa-masa yang paling membahagiakan. Ada banyak kenangan di sana.”

“Telingaku mendengarkanmu.”

Yusran berhenti sejenak. Banyak sekali memori. Padahal ia tidak dituntut curhat atau berbagi pengalaman. Ia bahkan cukup bicara tentang khayalan dan mimpi-mimpinya. Kuncinya terus berbicara, dengan tata bahasa yang tepat, maka selamatlah ia.

Lantas ia ingat sesuatu. Kisah empat tahun lalu.

I made love for the first time in high school!” katanya. Pipinya adalah tomat ranum setelah kalimat itu selesai.

Made love?” Jennifer menatap Yusran lebih bersungguh-sungguh. Alisnya terangkat.

Yusran mengangguk: “Sulit dilupakan. Masa terindah barangkali.”

“Kamu mencintainya?”

“Bagaimana kamu bisa melupakan cinta pertamamu?”

“Tapi made love? Apa tidak terlalu jauh? Saya pikir orang Indonesia masih konservatif.”

“Banyak teman sekolahku juga make love. Kesannya lain gitu punya girlfriend atau boyfriend.”

“Menarik,” komentar Jennifer. Mereka berbicara beberapa menit lagi sebelum Jennifer mengakhiri percakapan.

“Ini test-mu yang terakhir yah?” tanyanya setelah mematikan perekam suara. “Good luck.”

7

Barulah setelah di Australia Yusran menyadari “kekeliruan besar” yang dilakukannya pada speaking test tersebut[1].

Ternyata selama ini ia salah mengartikan ungkapan “making love”. Ia mulai ngeh setelah sering membaca slogan “Make Love not War” tercetak di kaus-kaus yang dipakai orang. Kadang tulisan itu ditemani gambar John Lennon atau Bob Marley[2].

Setiap kali membaca slogan itu langsung ia menerjemahkan, dalam hati: “Berpacaranlah bukan Berperang” karena selama ini ia tahu arti making love adalah berpacaran. Itulah yang ia maksudkan selama speaking test.

Tapi ada sesuatu yang salah sebab slogan “Berpacaranlah bukan Berperang” tampaknya tidak pas khan? Penasaran, ia buka kamus.

Alamak! Oh, my gosh! Arti “making love” ternyata bercinta! Lalu pacaran? Harusnya ia menggunakan kata dating atau courting[3]. Ia salah besar selama speaking test. Itu wilayah yang terlalu pribadi untuk dibicarakan dengan Jennifer. Ohlala!

8

Slip lidah ini disebut faux pas dalam bahasa Prancis. Juga sering digunakan oleh penutur Inggris, meskipun mereka punya kata yang hampir sama artinya: gaffe atau slip-up.

Satu contoh faux pas yang terkenal diucapkan mantan menteri kehakiman Prancis, Rachida Dati, bulan September 2010.

Ketika diwawancara satu TV Prancis, ia menggunakan kata “oral seks” (Prancis, fellation) untuk memaksudkan inflasi (Prancis, inflation).

“Saya mengamati beberapa [dana investasi asing] ingin mendapatkan laba 20 atau 25 % ketika oral seks (fellation) mendekati nol,” ujarnya.

Dalam bahasa Prancis fellation (oral seks) pengucapannya mirip dengan inflation (inflasi). Menurut pengakuan Nyonya Dati ia berbicara terlalu cepat sehingga tanpa sengaja memakai kata yang salah. Entah motif yang sebenarnya, apalagi orang Prancis terkenal liberal soal seks. Wallahualam.

EPILOGUE

Seorang kolega, masih jomblo, di antara bisik-bisik dan gosip kantor nyerocos soal “ML”. Yusran heran, bujangan koq bisa-bisanya bicara soal seni bercinta?

“Bukankah aku yang married ini seharusnya lebih punya ‘otoritas’?” tanya Yusran, tentu saja, bercanda. Ia baru menikah enam bulan lalu.

Kata koleganya: “Gue enggak mau munafik: gue ML pertama kali waktu SMA. Asli.”

Yusran terbeban dengan pengakuan tipe ini. Sangat pribadi; tidak ingin ia tahu, dan tidak mau ia cari tahu.

“Kamu mungkin bilang aku munafik, terserah: tapi aku pertama kali ML enam bulan lalu, setelah married,” namun kalimat yang ia pikirkan berhenti di tenggorokan. Tak keluar dari mulut. Mungkin kali lain, pikirnya, sekaligus dengan kisah saat ia tersandung lidah ngomong make love.

*****

(Jakarta, 11 Januari 2011)


[1] Meski hasil tes IELTS-nya hanya 5.5,-belum memenuhi syarat masuk universitas tapi sudah dianggap baik- Yusran tetap diberangkatkan ke Australia. Di sana, ia harus kursus lagi selama enam bulan, kemudian dites lagi pada akhir kursus. Targetnya 6. Menurut pengalaman, kursus enam bulan bisa menaikkan skor IELTS 0.5. Yusran melebihi target, dan bisa melanjutkan kuliah sampai selesai.

[2] Slogan “Making Love not War” adalah slogan anti perang, terutama perang Vietnam. Pada tahun 1973 John Lennon memasukkan slogan ini dalam lagunya “Mind Games”; demikian juga Bob Marley dalam lagunya “No More Trouble”.

[3] Make love adalah frase kata kerja. Frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang menghasilkan arti baru. Terjemahan kata per kata –bukan arti- dari frase ini adalah berarti membuat cinta, lebih berasosiasi dengan pacaran dibanding bercinta, setidaknya dari sudut pandang Yusran. Dating punya arti lain yaitu tanggal dan penanggalan; sedangkan courtbertunangan/memacari– punya arti lain sebagai kata benda, antara lain: lapangan, seperti lapangan tennis (tennis court) atau pengadilan (judicial court).

0 Responses to “Make Love?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: