Manakala Pelanggan Memasang Repeater Swadaya

Operator harusnya bertanggung jawab terhadap kualitas jaringannya. Namun di tengah dunia yang semakin pintar, dan semakin tak mengenal sekat, pelanggan kadang menyerobot tugas yang menjadi kewajiban operator.

Ambil contoh sinyal lemah. Sinyal jaringan jongkok memang tidak pas buat layanan berkualitas. Jarak dengan menara pemancar radio (BTS) atau objek-objek penghalang tertentu bisa menyebabkan sinyal ponsel tidak berdiri tinggi.

Operator mengatasi masalah ini dengan membangun BTS baru di area tersebut, untuk jangka panjang, atau mengoptimalisasi coverage BTS untuk solusi jangka pendek. Tetapi solusi jangka pendek ini kadang menjadi zero-sum game: menaikkan level sinyal di satu area dengan mengorbankan coverage di area lain, yang dari sisi operator tak mengurangi keluhan pelanggan. Oleh karena itu, opsi yang sering dipilih oleh operator adalah memasang alat penguat sinyal, repeater, karena lebih murah -dibanding membangun BTS baru- dan lebih gampang dan cepat pemasangannya. Repeater adalah alat yang sanggup mendeteksi sinyal lemah BTS kemudian memancarkan lagi lebih kuat.

Perkembangan teknologi dan produksi massal kini memungkinkan repeater menjadi lebih gampang diproduksi, dan tentu saja, lebih murah. Ini menyebabkan perangkat yang sebelumnya hanya menjadi domain operator sekarang dengan mudah diakses pelanggan biasa.

Masalahnya, ketika ponsel menerima sinyal lemah dan komplen pelanggan tidak cepat  ditindaklanjuti, atau bahkan tidak ditanggapi operator, pelanggan kadang menjadi radio frequency (RF) engineer dadakan dengan memasang perangkat repeater sendiri;  toh repeater kini tidak mahal-mahal amat. Bagi penjual pulsa, tentu saja ada alasan komersial ekstra untuk memasang perangkat ini.

Keterlibatan pelanggan ini apakah kabar baik bagi operator? Belum tentu. Pemasangan repeater yang tidak terawasi, baik dari sisi spesifikasi teknis dan mutu, berpotensi merusak kualitas jaringan radio. Dampak negatif tersebut berkaitan dengan interferensi dan intermodulasi.

Interferensi

Interferensi terjadi ketika dua sinyal dengan frekuensi yang sama, dan hampir sama kuat,  bertabrakan. Interferensi merampok kualitas percakapan, khususnya di jaringan GSM. Mencegah hal ini, RF planner biasanya akan menempatkan sektor-sektor BTS dengan frekuensi sama sejauh mungkin, dan dengan cakupan coverage yang berlawanan.

Nah, pemasangan repeater liar bisa menyebabkan penguatan level sinyal pada frekuensi tertentu, yang justru harus dihindari di tempat tersebut. Butuh waktu dan perencanaan matang, dengan mempertimbangkan kondisi interferensi di lapangan untuk memasang repeater. RF planner mungkin membutuhkan tool spesifik untuk tujuan ini.

Selain interferensi langsung, harus diwaspadai juga interferensi tidak langsung sebagai by-product dari perangkat repeater, yakni intermodulasi.

Intermodulasi

Intermodulasi adalah produk sinyal yang terbentuk sebagai hasil pejumlahan dan pengurangan dua frekuensi berbeda. Ini kerap terjadi pada perangkat non-linear, seperti repeater, jika tidak terfilter dengan baik. Atau pada perangkat rentah. Atau frekuensi kerja dari repeater terlalu lebar (wideband).

Contoh: pencampuran (mixing) antara frekuensi 943.00 MHz (frekuensi downlink GSM900 Indosat) dan frekuensi 1843.2 MHz (frekuensi downlik GSM1800 Telkomsel) akan menghasilkan frekuensi  900.20 MHz (frekuensi uplink GSM900 Telkomsel), yaitu mengurangkan 1843.2 MHz dengan 943.00 MHz.

Produk intermodulasi ini akhirnya menghasilkan frekuensi baru yang berpotensi menyebabkan interferensi pada jaringan Telkomsel khususnya di pita GSM900.

Solusi

Tentu saja upaya swadaya pelanggan memasang repeater layak diappresiasi. Namun agar perangkat ini berfungsi maksimal, dan tidak menimbulkan masalah baru sebaiknya dilakukan koordinasi dengan operator.

Selain itu fungsi pengawasan perangkat telekomunikasi oleh Pemerintah, dalam hal ini Dirjen Postel, jika berjalan baik bisa menjadi penyaring sebelum perangkat-perangkat ini menyebabkan masalah pada jaringan.

*****

 

0 Responses to “Manakala Pelanggan Memasang Repeater Swadaya”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: