Transaksi

1.

“Maut selalu datang tak diundang,” Linda mengetik kalimat pertama. Untuk postingan blog terakhir. “Sebaliknya, Maut berlari mendengar panggilanmu. Terbang mengalahkan kecepatan suaramu.

“Maut akan kusambut dengan tangan terbuka. Kenapa gentar? Tidak ada yang lebih menggentarkan selain kegentaran itu sendiri.” Linda memaksa otot bibir bergerak. Senyum enggan melompat dari sana, bahkan sekedar cengar-cengir saat ia, pada kalimat terakhir, mengutak-atik perkataan presiden Roosevelt. Maut tidak bisa, dan tidak biasa, bercanda.

Malam itu Linda telah memutuskan kapan, dan bagaimana pergi meninggalkan semua yang ia cintai. Selama-lamanya. Jauh bermartabat mengundang Maut, daripada mendadak ia tiba. Setidaknya, Linda dapat bersiap diri, tampil indah, kemudian melepas sisa nafas dengan anggun.

Orang bilang, kematian di tangan Tuhan. Tidak selalu, karena, sekarang, Linda bisa menentukan kapan dan bagaimana ia mati. Dengan tangannya sendiri, bukan di tangan Tuhan yang Maha Tidak Adil.

Ia membaca lagi Veronika Decides to Die karya penutur Brazil, Paulo Coelho. Pada halaman enam, ia menahan nafas. Matanya menyambar dua alasan Veronika memutuskan mati. Segera, dia bersimpati dengan gadis malang itu.

Kehidupan adalah sebuah drama kematian. Sebelum tirai lakon terakhir ditarik, Linda akan berimprovisasi dengan sisa adegan. Melakukan apa yang harus ia lakukan. Juga apa yang tidak seharusnya ia lakukan.

2.

Linda mengelus telinga kiri dengan tangan kiri. Kemudian, sebelah kanan dengan tangan kanan. Memastikan perkataan Hefner, pria yang mengajaknya makan malam.

Sebelumnya, mereka sering lunch berdua. Sebatas business lunch. Hefner seorang eksekutif perusahaan tambang multi nasional. Linda Account Manager perusahaan pemasok kebutuhan logistik ke perusahaan Hefner.  

Hefner, jika tebakan Linda tepat, sekitar sepuluh tahunan di atas dia. Laiknya gentlemen kaukasian, Hefner bertubuh prajurit, bahu lebar, dan tak perlu tangga mengganti bohlam yang putus.

Hefner hanya menunjuk wanita mana yang ia sukai, Linda yakin, dan sang wanita takluk hati. Sebab Hefner bukan hanya pria yang selaki-lakinya, tapi ketika ia duduk, bokong kanan selalu terganjal. Dengan dompet gemuk karena lembaran dollar. Dengan kartu belanja ratusan kali UMR Jakarta. Wanita munafik dan bodoh-lah yang tidak tertarik kepada pria ganteng, kaya dan berkedudukan seperti dia!

My apartment is yours, ” kata si bule, “if you want to make love with me.”

Ini pujian atau pukulan telak? Linda bimbang.

“Anda tidak perlu menghamburkan uang untuk memuaskan libido,” kata Linda. “Para wanita di sini menyembah pria berkulit putih dan tinggi seperti Anda. Mereka mau melayani, gratis, asal Anda membuahi rahim mereka.”

But I like you.”

“Tampaknya Anda terinspirasi Indecent Proposal,” kata Linda. “Dan omong-omong, jika dibanding Indecent Proposal, tawaran Anda terlalu rendah. Oh, Anda memperlakukan saya seperti lonte! And tahu apa itu lonte?”

Wajah bule itu berganti warna tomat ranum; ia  tersenyum ketika menggoyang-goyang kepala; tentu ia tahu arti “lonte”.

“Sangat murah untuk harga diri saya; dan juga harga cinta saya.

And even then, that’s only for the price of having sex, not for making love.”

Linda mengambil tas di kursi. Sebelum pergi, ia menatap Hefner, “Fuck YOU!” katanya. “Fuck ME not.

3.

dr. Prasetyo Darmawan, Sp.S (K), tentang penyakit Linda.

Aku tidak salah mengatakan dokter ibarat hakim, meskipun warna jubah kami seperti siang dan malam. Hakim menjatuhkan vonis. Dokter juga.

Tetapi dokter lebih sering mengucapkan vonis mati. Jangan menghakimi dokter dulu. Tujuan mulia dokter adalah meringankan penderitaan. Ketika dokter memberikan vonis mati, yaitu ketika tidak ada jalan keluar, berarti ia gagal mencapai tugas mulia ini. Seperti Anda, dokter juga menangis.

Perbedaan lain: hakim lebih kadung menghukum para penerobos hukum yang nekat. Dokter, memvonis mati, pada kebanyakan kasus, bukan karena kesalahan pasien. Penyakit genetis fatal, misalnya, sudah datang dari sono-nya. Nasib. Aku kadang merenung, Bagaimana Tuhan Yang Maha Sempurna merancang sesuatu yang faulty seperti ini? Bagaimana Tuhan Yang Maha Kasih menyebabkan penderitaan sepedih ini? Bagaimana Tuhan Yang Maha Adil menggariskan nasib orang, yang satu bengkok, yang lain lurus sempurna? Seperti Anda, dokter juga tidak tahu segalanya.

Linda. 27 tahun. Lincah. Canggih. Ambisius. Mirip putriku yang magang dengan seorang fashion designer ternama di Paris. Tentu saja, putriku lebih jelita.

Keluhan awal: gampang capek. Kemudian, telunjuk susah lurus. Positif gejala ALS.

Tak lama, bahkan mengancing baju, baginya, akan merupakan pekerjaan tersulit. Makan harus disuapi. Minum tak bisa sendiri. Kencing dengan kateter. Berak harus dipegang dan dijaga. Suaranya perlahan akan mengalami distorsi, sampai hilang sama sekali. Otot-otot akan menyusut. Tulang belakang akan membengkok. Hidup berjalan dari kursi roda, atau berakhir di tempat tidur. Memang, pikiran tidak akan terganggu tapi tubuh akan terkapar. Ia tak akan kembali normal: hidup hanya untuk menunda kematian, dalam sengsara dan harga diri yang terkoyak.

Tapi bukan kiamat. Pasien ALS tersohor, Stephen Hawking, ilmuwan super cerdas dari Inggris, mencetuskan teori-teori brilian justru dari kursi roda, dengan layar komputer yang terus menyalin pikiran cemerlangnya.

“Anda positif menderita ALS,” kataku sewajar mungkin.

Dia tercenung sesaat. “Seperti Stephen Hawking…” ujarnya lambat.

Aku mengangguk, salut dengan pengetahuannya. Ah, ini jaman internet.

“Masih ada yang lain?” tanyanya bersiap pergi. Bukan kali pertama aku melihat gelagat seperti ini. Padahal, tidak salah terlihat rapuh. ALS, mulai hari ini, akan memporak-porandakan hidupnya. Ia layak menangis.

“Duduk dulu,” kataku, “Anda positif kena HIV juga.” Matanya menolak untuk percaya. Aku mengiyakan. Dia balik ke kursi.

“Saya enggak mungkin kena HIV.”

Aku tersenyum. “Tergantung gaya hidup,” kataku.

“Seks, maksudnya?”

“Mungkin.”

“Aku tidak pernah berhubungan seks dengan siapapun, pria atau wanita.”

Kalau dia jujur, salut. Berparas elok di kota yang bernafsu adalah perjuangan.

“Jarum suntik?” tanyaku.

“Hal yang terdekat yang aku lakukan dengan narkoba, hanyalah merokok.”

“Jadi? Penyakit tidak turun begitu saja dari langit, bukan?”

“Tahun lalu aku pernah ditransfusi karena demam berdarah.”

“Kecil kemungkinan karena transfusi,” kataku.

Dia diam, lama sekali. Tak tega aku menghancurkan lamunannya. Ia bangkit, menyalamiku, “Terima kasih,” ujarnya dengan suara pecah, dan mata berkabut.

 4.

Linda menggelapkan semua lampu. Sebatang lilin dari kamarnya kini menjadi pahlawan terang. Ia bersila di atas matras, membelakangi tembok, seperti orang semedi.

Ia terus bersimpuh, tafakur bersama hening sampai lilin terkapar dan gelap menelannya.

Ia menghentikan tapanya, menghidupkan lampu. Membangunkan laptop, lantas jarinya mulai menari di atas papan tuts.

“Maut selalu datang tak diundang,” Linda mengetik kalimat pertama. Untuk postingan blog terakhir. “Sebaliknya, Maut berlari mendengar panggilanmu. Terbang mengalahkan kecepatan suaramu….”

Lalu, ia melengkapi dokumen dari 9 asuransi jiwa, bersumpah melakukan apa saja agar aplikasi disetujui.

Besok ia akan pesan, online, gas maut yang ia butuhkan. Departure International, lembaga nirlaba untuk kematian bermartabat, tidak akan menanyakan identitas pribadi apapun. Gas itu, dijelaskan, paling aman karena tidak meninggalkan jejak, dan cepat.

Linda ingin semuanya berakhir dengan elegan: tidak ada darah karena sayatan pisau, tidak ada leher patah dan lidah menjulur karena menggantung diri, tidak ada mulut berbusa dihantam baygon, dan obat-obatan lain yang bisa terdeteksi saat visum.

Juga masih ada urusan dengan Hefner yang harus dibereskan.

5.

Atas permintaan Linda, Hefner mendepak keluar kondom, yang sudah membungkus setengah jalan, dan melemparnya ke samping ranjang. Meskipun Hefner tahu, ketika seseorang berseks, ia bukan hanya berseks dengan orang itu, tetapi juga dengan orang lain yang pernah bermain dengan orang yang sama. Dan seterusnya, dan seterusnya. Tetapi resiko adalah bagian dari hidup. Dan bukankah lebih cantik bermain alamiah?

Ketika permainan usai, matanya memergoki kondom itu, tengkurap lemas, seperti dirinya, dekat kaki ranjang.

Ia berbalik saat Linda mengusap punggungya; menarik perempuan itu berbaring di dadanya, kemudian memeluk dunia yang baru dibelinya dengan mahal.

“Akhirnya kamu menerima tawaranku.”

“Kali pertama aku bercinta.”

“Aku kecewa, terus terang. Uang masih tak terkalahkan.”

“Ketika seorang wanita menyerahkan kehormatannya itu adalah keputusan cinta.”

Hefner terbahak. “Cinta tidak tumbuh dalam sekejap.”

“Selalu ada pengecualian.”

No. Mengapa kamu akhirnya menyerah? Katakan meski itu memalukan.”

Hefner melihat Linda menggoyang kepalanya. Ia tersenyum kecil, sambil menunjuk jantung Linda, isyarat, agar Linda menyingkapkan apapun yang bersembunyi di sana.

Linda mendengus. “Kamu butuh pengakuan yang jujur?” tanyanya ke arah Hefner yang mengangguk. “Ibuku sakit. Apartemen pemberianmu akan kujual untuk biaya pengobatan.”

Hefner merengkuh kepala Linda. Ia dekatkan bibir mereka. Linda mematuk bibir bule itu seperti elang menangkap anak ayam. Ronde kedua dimulai.

6.

Dua minggu kemudian, mereka berangkat ke lokasi tambang.

Di bandara, Linda mencari semua asuransi kecelakaan udara. Ia menemukan empat. Hefner mengatainya ‘paranoid’. Mungkin karena kematian mendominasi ruang otaknya. Padahal, bunuh diri dan musibah udara adalah dua hal berbeda. Tapi ia tetap beli.

Sampai di lounge, dekat boarding gate, ia membuka laptop, membaca email dari sang bunda.

Mamanya menjadi lebih religius, akhir-akhir ini. Biasa, mendekati mati orang makin takut Tuhan. Tapi energi spiritual ibunya, satu tahun terakhir, tidak normal.

Selain dokter Darmawan, tidak ada yang tahu kalau ia sakit. Ia tidak ingin mamanya sedih. Namun, ia ingin mamanya tahu betapa marahnya ia dengan Tuhan atas semua penderitaan di bumi.

Menjawab pertanyaanmu: Mengapa Tuhan menyebabkan semua penderitaan, jika Ia maha pengasih? Mama ingin bertanya balik, Apakah memang Tuhan yang menyebabkan semua penderitaan yang kamu sebutkan? Fakta bahwa Ia maha kuasa bukan berarti Ia dapat melakukan segala-galanya.  Ia memang maha kuasa; tapi ingat, Ia juga maha kasih, dan juga maha adil. Tentu kasih-Nya tidak akan membenarkan sesuatu yang buruk atau zalim terjadi.

 Sejak kamu kecil, mama tidak pernah membiarkan hal-hal buruk menimpamu. Mama selalu ingin yang terbaik untukmu, karena mama mengasihimu. Itulah yang akan dilakukan orang, di mana saja mereka berada, demi orang tercinta. Kamu pasti akan melakukan hal yang sama, kelak, untuk anak-anakmu.

 Pulanglah, dan kita akan bicara panjang lebar, karena di sini tidak cukup.

Benar, sebaiknya aku pulang, untuk terakhir kali, pikirnya. Tapi bukan untuk ngobrol tentang omong kosong itu.

7.

Pulang dari lokasi tambang, Linda ingin langsung sambung pesawat. Urgent menengok ibunya yang sakit, katanya. Tapi Hefner menyarankan sebaiknya besok, sebab Linda butuh ‘istirahat’. Linda paham maksud Hefner, dan tidak keberatan. Malamnya, mereka menghabiskan waktu di ranjang, di apartemen Hefner yang baru, hingga pagi berikutnya, liar dan gila, sehingga Linda hampir ketinggalan pesawat.

Di bandara, Linda mau membeli semua asuransi kecelakaan, tapi Hefner menarik tangannya. “Bukan hanya paranoid, tapi kamu kelihatan bodoh,” katanya. Ia batal mengeluarkan uang.

Linda memeluk dan mencium Hefner untuk terakhir kali, karena ia harus masuk ke ruang tunggu. Linda masih melihat punggung Hefner ketika pria itu berbalik pulang. Linda memanggilnya. Ia melihat Hefner menghentikan langkah, memutar tubuh dan menatapnya. Ia sangat menyesal dengan rencana jahatnya, dan mau minta maaf kepada pria budiman ini. Tapi lidahnya membeku. Sebaliknya, yang keluar adalah ucapan terima kasih.

Thanks for everything.”

 My pleasure,” kata Hefner menggerakkan bahu dengan isyarat yang khas. “Telepon aku jika sudah sampai,” pintanya.

8.

Setelah awak kabin selesai mengedarkan makanan, Linda merasakan nyeri yang hebat di perutnya sehingga harus segera ke toilet.

Baru separuh perjalanan ke toilet, pesawat berguncang di sebelah kiri. Tak lama, suara dari spiker mengumumkan sedikit kendala teknis, dan penumpang segera diminta kembali ke tempat duduk, mengenakan sabuk pengaman.

Tapi perutnya berteriak sakit, dan Linda memilih mendengar jeritan perutnya daripada intruksi pilot.

Di dalam toilet, ia merasakan pesawat berguncang lagi. Kali ini tidak ada pengumuman. Perasaannya mulai tidak enak. Bahkan di toiletpun, suasana terasa janggal, begitu hening. Takut perlahan berenang ke seluruh aliran darahnya.

Keheningan diterabas suara spiker lagi, hanya untuk menebar terror: “Pesawat mengalami masalah yang cukup serius dengan matinya kedua mesin. Pendaratan darurat akan segera dilakukan!”

Gedoran di pintu, memintanya untuk segera kembali ke tempat duduk, memperlaju debar jantung. Di bagian perut nyeri masih menyiksa.

Tapi kemudian, nyeri melompat ke atas, ke gendang telinga disebabkan perubahaan mendadak ketinggian. Pesawat terjun bebas dari ketinggian jelajah tanpa bantuan mesin.

Terlambat sudah pikirnya untuk kembali ke tempat duduk. Ia mencengkram palang kloset dengan kedua tangannya, berjuang demi hidupnya, seorang diri, di toilet yang sempit.

Ternyata, ia sangat takut mati!

44 menit 03 detik setelah pesawat lepas landas, burung besi itu jatuh di atas sungai, crash landing dengan ekor, mematahkan bagian buntut setelah baris kursi paling belakang. Linda tercampur aduk dalam kotak toilet sebelum tertelan arus sungai.

114 penumpang dan 7 awak pesawat selamat, kecuali Linda, yang hilang tanpa jejak.

9.

Perusahaan Linda menugaskan pengacara khusus untuk membantu ahli waris, ibunya, mengurus semua klaim asuransi dan harta kekayaan lain: asuransi dari penerbangan yang naas, 9 asuransi jiwa, 1 asuransi link, 1 dana pensiun, jamsostek, 2 rekening bank, saham dan surat berharga lainnya, rumah, mobil dan terakhir, sebuah apartemen yang baru dibeli tiga minggu sebelumnya. Sayang, sebelum boarding ia batal menambah asuransi lagi.

“Jika Linda meninggal di rumah, bahkan karena tidur sekalipun, cerita akan panjang mengklaim semua asuransi ini.” Sang pengacara kemudian mengeluarkan selembar kertas. “Catatan terakhir Linda.”

Nyonya Kartika membaca kertas di hadapannya, cetakan blog Linda. “Tidak mungkin putriku berencana bunuh diri.” Tetapi, kemudian, air mulai merembes dari matanya.

Sang pengacara berusaha bijak: “Tuhan punya cara sendiri untuk menguji kita. Ini rencana-Nya semata.”

Ibunya Linda menggeleng, “Kehendak Tuhan adalah kebaikan hatimu yang sudah membantu saya tanpa pamrih. Kematian dan penderitaan bukan bagian dari rencana-Nya.”

*****

0 Responses to “Transaksi”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: