Mont Blanc, Firdaus, dan Tukang Batu yang Tak Pernah Puas

Kereta api berlari meninggalkan Paris sejak lima jam lalu; kini bergerak cepat mengejar rangkaian pegunungan Alpen, di perbatasan Prancis-Italia.

Ke Roma, dari Paris, makan waktu 12 jam. Saya ambil perjalanan siang. Rugi besar kalau malam, sebab ini kesempatan melihat Eropa sebanyak-banyaknya. Sengaja saya duduk di samping jendela, yang dirancang lapang dengan kaca jernih.

Mendadak, saya terhenyak. Apa yang mata saya lihat selama lima jam, tak sebanding pemandangan, kini terhampar di seberang jendela. Sontak saya raih kamera dari backpack.

Sebuah gunung menjulang dengan puncak bersorbankan salju. Orang Prancis sebut gunung itu Mont Blanc; orang Italia Monte Bianco; artinya sama: Gunung Putih.  Ketika itu awal April. Sejak 21 Maret belahan bumi utara masuk musim semi, tapi salju masih berserakan. Melihat salju adalah mimpi hidup saya; tetapi memandang salju membungkus Mont Blanc menguatkan harapan saya akan kemanusiaan: mencipta firdaus, di bumi, tak lagi mustahil.

Klik, klik, klik. Kamera saya bekerja, berpacu melawan kereta yang akan segera merampas keindahan itu pergi. Namun sesuatu terjadi.

Entah mengapa, pada momen syahdu seperti itu saya malah terbahak. Sambil menggeleng, saya kembalikan kamera ke tas. Saya teringat Paul Gauguin.

Paul Gauguin adalah seniman tersohor kelahiran Paris, yang terobsesi mencari “firdaus”. Pada tahun 1891, ia menemukan “firdaus” yang dicarinya di Pasifik Selatan, pada gugus kepulauan Polinesia Prancis.

Sang Maestro, pencipta keindahan itu sendiri, ternyata menemukan “firdaus” di sebuah negeri dengan kondisi geografis mirip pulau saya, Kepulauan Talaud, sebuah permata tropis yang tersembunyi di ujung timur Pasifik.

Ini sumber rasa lucu tadi: saya menemukan “firdaus” di negeri tuan Gauguin yang dingin; sebaliknya Tuan  Gauguin menemukan “firdaus” di negeri tropis, seperti kampung saya.

Ironi lain: selagi mata saya basah, terharu dengan keindahan negeri salju, dalam waktu bersamaan, ribuan bule mandi sinar matahari di Bali, Pattaya dan Karibia.

Rumput di halaman Tuan Gauguin memang lebih putih, bak selimut kapas. Tapi saya sadar, rumput di halaman rumah saya ternyata masih lebih hijau. Saya punya Tuan Gauguin untuk membuktikan.

Efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau”

Naluri alamiah manusia memang selalu menginginkan apa yang tidak dipunyai. Macam-macam: bentuk tubuh, pekerjaan, pasangan hidup, harta; daftarnya panjang.

Di Asia, kosmetik pemutih kulit laris manis. Di negeri orang kulit putih, klinik tanning (pencoklatan kulit) justru sesak pengunjung, tak peduli kanker kulit mengintai dari sinar ultra violet yang digunakan. Bagi orang Asia, kulit terang tanda orang sehat; untuk orang Eropa, kulit pucat tanda orang lemah.

Waktu kuliah di Australia saya bilang ke seorang teman, perempuan Anglo-Australia, “Saya suka hidung kamu.” Saya iri dia punya hidung bangir. Dia ragu-ragu, “Maksudnya, kamu suka hidungku yang besar ini?” tanyanya tak percaya diri. “Aku justru suka hidungmu.”

Di tempat kerja, staf menganggap supervisor lebih beruntung, supervisor manajer, manager GM, dan seterusnya. Tak cukup, karyawan pun masih suka membanding dengan perusahaan lain.

Keinginan tanpa kendali bukan fenomena masyarakat modern yang materialistis. Menjinakkan keinginan sudah menjadi kebajikan sejak jaman lampau. Tetapi sama seperti kebajikan lainnya: dipujikan tetapi belum tentu dilaksanakan.

3500 tahun yang lalu, sebuah negeri di Timur Tengah memberlakukan satu hukum nasional, meski tak seorang pun bakal tahu jika hukum itu dilanggar. Bunyi hukum itu: “Jangan mengingini rumah sesamamu. Jangan mengingini lembu milik sesamamu. Jangan mengingini istri sesamamu. Jangan mengingini apapun milik sesamamu.”

Seorang pangeran dari Nepal, Siddhartha Gautama, setelah berkelana kesana kemari, menyimpulkan: “Keinginan adalah sumber penderitaan.”

Dari Jepang, ada kisah tentang seorang tukang batu; cerita untuk mengingatkan agar tidak terus berandai-andai, antitesis efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau’. Berikut ceritanya.

Suatu hari seorang pria bekerja memotong batu di bawah terik matahari. Kepanasan, lelah, dan juga marah. Menyesali nasib, ia berkhayal kalau saja ia matahari, hidupnya pasti tidak semalang ini.

Maka jadilah ia matahari. Dan, oh, betapa nikmatnya menjadi matahari! Memancarkan cahaya ke seluruh bumi. Tapi itu tak lama. Sinarnya ternyata tak tembus awan tebal. Kalau saja ia menjadi awan.

Maka jadilah ia awan. Sebagai awan, ia senang dengan titik-titik air yang mengumpul di tubuhnya, hingga mereka menjadi hujan, jatuh membasahi bumi, mengalirkan kehidupan. Tapi tak lama kemudian, bertiuplah angin. Ia diterbangkan ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang tak disukainya. Diombang-ambingkan saat ia justru ingin istirahat. Dalam keputusasaannya, ia berpikir kalau saja ia menjadi angin.

Maka jadilah ia angin. Benar, angin ternyata luar biasa, tak ada yang bisa mengalahkannya! Rumah disapu tornado; hurikan menumbangkan pohon tanpa ampun; kapal tenggelam karena badai. Alangkah hebatnya!

Namun setelah ia amati lebih saksama, ternyata masih ada yang berdiri kokoh, tak mampus dihantam pukulannya: batu granit yang besar! Kalau saja ia batu granit itu.

Maka jadilah ia batu granit. Benar, menjadi batu, ia kuat perkasa tak roboh oleh angin manapun. What a feeling. Tapi sukacitanya tak bertahan. Tubuhnya kini berteriak kesakitan, dihantam palu dan dirobek pahat tukang batu.

Kalau saja ia menjadi tukang batu…

Kita tidak tahu apa yang kita inginkan sampai keinginan itu terwujud. Berhati-hatilah dengan apa yang kita inginkan! (Kalimat terakhir ini kutipan dari film Shrek Forever After, ketika saya menulis artikel ini, sedang diputar di bioskop-bioskop Jakarta. LOL.)

*****

1 Response to “Mont Blanc, Firdaus, dan Tukang Batu yang Tak Pernah Puas”


  1. 1 blognyayulianto June 16, 2010 at 11:26 am

    Menarik, dari cerita-cerita diatas kita bisa mulai menyadari betapa pentingnya rasa syukur atas apa yang telah kita miliki.

    Karena pada hakekatnya, memang manusia tidak akan pernah merasa puas dengan apapun yang telah dicapainya.

    Sisi buruknya, pengejaran yang tak kan ada habisnya..

    Tetapi sisi baiknya, perkembangan dan inovasi yang [mungkin] juga tak ada habisnya bukan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: