Tatkala Kita Sudah Berhenti Berharap

Apa yang kita harapkan kadang datang saat kita telah menyerah. Berapa banyak orang yang sudah angkat tangan, tapi justru pada waktu itulah apa yang mereka tunggu datang?

Saya punya kisah tentang penantian ini. Maaf, bukan tentang asmara, meski pengalaman berikut tak kalah menarik.

Tanggal 26 April 2010 lalu, saya pesan buku di amazon.com. Empat sekaligus. Awalnya, saya tidak berani pesan banyak. Jika bukunya tidak sampai, sakit hatinya terasa sekali. Amazon adalah toko buku online terbesar di dunia. Segala macam buku bisa dipesan.

Dulu waktu saya pesan pertama kali, hanya satu buku, paket itu sampai. Saya pesan lagi. Sampai lagi. Buku-buku ini selalu tiba dalam waktu dua minggu, jauh lebih cepat yang dijanjikan Amazon, yang sebulan. Namun order gaya begini boros. Ada ongkos kirim yang harus ditambahkan. Untuk satu buku, ongkos kirimnya bisa sama dengan harga buku. Setelah berhitung, ongkos kirim bisa diminimalkan andai beberapa buku dipaketkan satu.

Karena bungkusannya kecil, dan nilainya lebih murah, satu buku yah pasti diantar, demikian pikir saya. Bagaimana kalau paketnya lebih besar? Maaf, saya bukan tidak percaya Amazon. Jujur, saya banyak dengar tentang ketidakjujuran orang kita.

Berikutnya,  sekaligus saya order dua buku. Mereka tiba dengan selamat. Saya pesan lagi. Sampai lagi. Yah sudah, pos kita bisa diandalkan; apa yang saya dengar gosip belaka.

Maka saya pesan empat buku bersamaan. Kali ini saya harus kecewa. Dua minggu berlalu, paketnya belum jua nongol. Saya bolak-balik telepon Mail Room kantor saya, hingga batas tanggal yang dijanjikan Amazon, 27 Mei 2010. Nol besar.  Jadi benar khan dugaan saya sebelumnya: buku-bukunya sampai karena paket dan nilai Rupiah-nya kecil?

Sudah, saya tak mau pikir ini lagi. Let it go. Let it go, okay? Ternyata sulit;  saya masih tanya Mail Room. Saya curiga, jangan-jangan bukunya sampai, tapi ditahan mereka. Atau courier-nya bikin masalah. Saya kira saya sudah ikhlas, ternyata belum.

Terlintas nulis cerita tentang courier yang suka nilep. Toh, saya punya bukti dan pengalaman pribadi. Otakku penuh empedu. Sampah macam-macam. Begitulah orang kesal.

Ini enggak benar, kesimpulan saya. Maksudnya bukan sistem pos kita, tapi kondisi emosional saya. Saya mencoba ikhlas lagi. Rela selebar-lebarnya. Kalau mau, bisa pesan lagi toh? Tentunya tak akan empat sekaligus.

Saya paksakan otak berhenti mengingat buku-buku itu. Saya tidak lagi berharap. Sebenarnya sih, hanya proteksi pribadi, supaya tidak sakit hati lagi.

Hari ini, Kamis, 03 Juni 2010, pukul 09.55, telepon di atas meja saya berdering.

“Selamat siang,” kata saya; harusnya “pagi”, karena memang masih pagi. Si penelepon tidak bilang namanya. Mungkin dia kasih tahu, tapi saya tidak ingat. Oke, si penelepon bukan perempuan. Biasanya resepsionis. Yang saya ingat, dan ini yang paling penting, mungkin kalimat yang paling ingin saya dengar hari ini, adalah: “Saya dari Mail Room. Kiriman Bapak sudah datang. Silahkan diambil.”

Yes! Yes!” saya bersorak. Saya menyanyikan What A Wonderful World dalam hati sampai tiba di Mail Room, di Lantai 18.

Saya menerima paket dari staf Mail Room; saya bilang maaf, dalam hati, atas prasangka jahat, yang saya tuduhkan, juga dalam hati. Tapi saya bilang terima kasih dengan kata-kata jelas. Bukan untuk pelajaran yang saya dapatkan hari ini tentang misteri dari harapan dan berpikir positif, tapi karena buku-buku saya sudah sampai dengan sempurna.

8 Responses to “Tatkala Kita Sudah Berhenti Berharap”


  1. 1 cc June 5, 2010 at 9:40 am

    o yeah.. i think i remember the line. Take all my possesions but my books…. :)

    • 2 julitra June 6, 2010 at 7:44 pm

      I told the words only to few people. If you remember then you must be the one who borrowed, but never return it.

      And, oh, by the way, I know these people ;-)

  2. 3 Lia June 4, 2010 at 9:59 am

    Kalau rela buku nya nyasar ke orang lain, terus dibaca oleh mereka, pasti ikhlas deh :)

    • 4 julitra June 4, 2010 at 10:09 am

      Saya pernah bilang ke seseorang: “Kamu bisa ambil semua yang kamu mau di rumah ini, tapi jangan buku dari perpustakaanku. Pinjam pun aku tak sudi.”

      Mengerti maksudnya khan?

  3. 5 elis June 3, 2010 at 11:10 pm

    Tey, untung kamu cuma pesan buku…kalau pesan obat bisa kejang ngadepin birokrasi kantor pos yg terlalu banyak ritualnya. Anyway, nice story!

  4. 7 wulan June 3, 2010 at 2:00 pm

    udah pernah coba bikin novel blm?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: