Bandit

Anda tidak bersua bandit saban hari.

Pagi masih segar. Aku bisa mengalahkan waktu, ke kantor, meski harus tertatih-tatih diantar bus di jalanan Jakarta yang merayap seperti keong.

Kotak besi beroda empat, warna wortel, berhenti dengan perintah jariku. Di kaca depan menempel angka 75. Metromini ini kelak akan berhenti di terminal Blok M, sebelum balik lagi ke Pasar Minggu. Ke Blok M lagi. Balik Pasar Minggu. Berulang-ulang.

Di dalam bus, kursi kosong di baris paling muka, persis depan pintu, langsung memanggilku. Seorang pria duduk di sebelah kiri kursi itu. Tapi aku tidak berminat. Entah. Kurang nyaman saja. Bukan karena aku tidak suka pria yang duduk itu. Bukan karena ia kelihatan seperti bandit. Bukan. Sebenarnya, dengan tubuh tipis laksana kerupuk, dia tidak pantas menjadi bromocorah.

Tak lama, seorang pria bertubuh gempal naik, dan segera duduk di pangkuan kursi yang aku hiraukan. Jika Anda sering naik Metromini, Anda pasti tahu kursi-kursi biasanya ditempatkan 2 per saf. Aku duduk di sebelah kanan si Gempal, di antara gang yang menjauhkan kami.

Aku tidak memperhatikan lelaki ini, hingga hardikan yang melompat dari mulutnya terjun di telingaku.

“Sampai Mampang!” bentaknya kepada kondektur, menyerahkan koin perak, kemungkinan Rp. 500. Maksudnya, dia naik dari Mampang, dan akan turun di Mampang juga?

Tadi aku bayar Rp. 2000, karena Metromini, jauh-dekat bertarif Rp. 2000.

Kondektur menerima uang tanpa protes, lalu balik ke belakang, berteriak dengan koin yang ia ketuk berulang di badan bus. Pertama, menarik perhatian penumpang, kedua isyarat bagi sang sopir. Tiap ketukan punya irama sendiri, tapi aku belum paham.

Dering HP memanggil si Gempal. Tangannya menghujam saku celana. Alamak, tangannya bak gada hitam dibungkus kulit kasar!

“D$%..hy&#..kjh*^…!!!” katanya. Ia berucap dengan bahasa yang akrab di telinga tapi kepalaku mengeleng tidak mengerti.

Juga, tidak satupun penumpang mafhum Si Gempal ngomong apa. Tetapi mereka sadar lelaki itu tengah berteriak-teriak bagaikan komandan gila.

Ia menatapku dengan HP menempel di daun telinga. Kumis tebal yang berdiri di atas wajah kasarnya bergoyang dipandu tarikan napas. Ia menangkap basah aku mencuri mukanya! Seperti kucing kena siram air panas, itulah aku. Wajahku berpaling, menunggu dampratannya. Eh, dia malah migrasi ke kursi depan, di belakang supir. Tepat dua baris dari tempat aku duduk. 

Apakah Si Gempal berpikir akulah sang Bandit itu sehingga ia tukar kursi? Aku sendiri heran.

Penumpang lain tertunduk; atau kalau mengangkat muka, menghindari tilikannya. Tak ada yang berani tegur si Gempal turunkan suara.

Setelah loyo berteriak, ia mengantar HP balik ke tempatnya semula.

Si Gempal, kemudian, merogoh saku kemejanya mencari sesuatu yang bersembunyi di sana. Ah, rokok. Sebatang menyala. Ia bernapas dengan batang berapi. Tepat seperti ungkapan klise: mulutnya bak cerobong pabrik, menyemprotkan polusi, mengotori bukan hanya paru-parunya tapi juga penumpang sekitar.

Bukankah perda melarang orang merokok di tempat umum? Apakah bus kota bukan fasilitas publik? Meskipun Metromini ini tidak ber-AC apakah lantas orang bisa seenaknya menyemburkan asap?

Si Gempal santai-santai saja.

Setelah melewati Pasar Mampang, sebelum bus belok kiri ke Jalan Tendean, menuju Blok M, aku sudah berada di pintu depan, di pintu yang sama aku naiki tadi. Kondektur melihat aku memberi kode. Sandi diteruskan ke sopir melalui hentakan di badan bus. Bus pun melambatkan larinya, tapi tidak sampai stop. Aku melompat. Kaki kiri duluan, tentu saja.

Di tepi jalan, aku menoleh ke belakang. Anjrit, si Gempal membuntutiku. Rupanya dia turun sesudah aku. Aku bergerak lebih cepat, bertekad mengalahkan sang Bandit dengan langkah-langkahku.

*****

(Jakarta, 20 April 2010)

0 Responses to “Bandit”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: