Bermula Dengan Indah

“Semuanya bermula dengan indah,” kata Karlina kepada sang Psikolog, wanita berambut perak sebatas pinggang, yang duduk menyilangkan kakinya, empat puluh lima senti meter dari sofanya.

“Tommy datang seperti pangeran dalam dongeng pengantar tidur. Klise dan naif.” Karlina tersenyum kecut. “Cinta pertama, saya yakin, adalah cinta yang paling indah di antara segala cinta.”

Mata sang Psikolog tersenyum. “Saya pernah jatuh cinta,” katanya dengan suara rendah.

“Kisahnya berakhir tanpa ‘happily ever after’.” Karlina berhenti sesaat, udara mengalir ke paru-paru setengah berteriak. “Tommy pergi, selama-lamanya.”

“Kehilangan orang yang kita cintai adalah suatu tragedi.”

Karlina menatap wajah sang Psikolog. Lapang tanpa kaca mata. ”Kepergian Tommy bukan suatu tragedi,” ujarnya.

Wanita paruh baya itu mengangkat dagu, matanya menatap Karlina melebihi fokus seorang biksuni.

“Tragedi adalah ketika orang yang kita cintai diambil dari kita secara tiba-tiba,” lanjut Karlina. “Tetapi ketika orang yang kita cintai meninggalkan kita secara sukarela, dengan tiba-tiba, tanpa berita, tanpa penjelasan, bukankah itu lebih buruk dari tragedi?”

“Selalu ada alasan dibalik suatu tindakan tertentu. Tommy memiliki alasan pribadi meninggalkanmu. Pasti tidak mudah melihat ia pergi.”

“Waktu adalah obat paling mujarab untuk hati yang patah.”

“Dan murah,” kata sang Psikolog.

“Gratis,” kata Karlina tanpa tawa.

“Empat tahun kemudian Andika datang. Cinta pasti kembali asal kita masih percaya. Tidakkah, cinta selalu tiba dengan wajah baru? Kemudian mengubur semua kenangan lama? Tapi tujuh belas bulan dan tiga belas hari berlalu, Andika pun pergi.”

Sang Psikolog mengangguk dengan matanya. “Anda penjaga waktu yang setia.”

“Andika tidak pergi begitu saja. Ia pamit baik-baik, berterus terang bahwa ia tidak mau mengecewakan saya. Karena cinta, ternyata, tidak tumbuh seperti yang ia harapkan.

“Saya tidak tahu lagi mana yang paling buruk: ditinggalkan begitu saja (Tommy), atau pengakuan jujur bahwa saya tidak lagi dicintai (Andika)?

*****

0 Responses to “Bermula Dengan Indah”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: