Dilbert Dan Sepotong Hikayat Keberuntungan

Dilbert?

Dilbert bekerja di satu perusahaan Telekomunikasi AS. Tubuh insinyur Dilbert pendek, mirip kotak penghisap debu (vacuum cleaner). Kepalanya botak bergerigi, laksana gergaji. Sayang, meski pintar dan rajin, Dilbert belum ketiban promosi.

Dilbert, kartun rekaan Scott Adams, nongol di 2000 koran, di 65 negara, dalam 25 bahasa. Di Indonesia, Kompas memuat kartun ini tanpa terjemahan.

Tahun 1996, Adams menerbitkan buku berjudul Dilbert Principle. Karya ini nangkring di daftar buku terlaris The New York Times selama 43 minggu. Intinya, ia mengatakan bahwa “manajemen (khususnya middle management) adalah lokasi para karyawan yang paling tidak efektif diungsikan sebab di situlah mereka paling tidak merugikan perusahaan”. Belakangan, intisari ini dikenal sebagai prinsip atau efek Dilbert. Dilbert Principle, di beberapa perguruan tinggi, menjadi buku wajib mata kuliah bisnis dan manajemen.

Tentu, bukan sedikit yang mengumpat kesimpulan Adams. Tapi sang kartunis melek budaya korporasi Amerika. Dengan pemahamannya, ia terus menghibur fans, terutama kuli perusahaan, bersama Dilbertnya. Yang makin centil dan jenaka akhir-akhir ini. Bacalah 2 strip berikut:

*Tentang kegigihan bekerja:

*Tentang pengalaman kerja:

Andai kita berpikir kenaikan jabatan bertaut dengan kerajinan dan kepintaran pekerja, tampaknya, menurut Dilbert, kita harus mencari solusi lain.

Sukses Adalah Sepiring Gado-Gado

Mengapa orang cerdas plus ulet tidak menerima ganjaran yang seharusnya mereka peroleh?

Meskipun kecerdasan dan keuletan dibutuhkan, sukses adalah gado-gado dari beragam faktor. Malcolm Gladwell dalam bukunya Outliers: The Story of Success, menguraikan bagaimana mereka tercampur aduk.

Kecerdasan sosial, salah satunya. Manusia dengan otak Habibie tapi kerdil kecerdasan sosial akan tertinggal dalam dunia yang bergerak dengan norma dan intrik-intrik sosial.

Dalam Outliers, Gladwell berkisah tentang Christopher Langan, yang super cerdas, IQ 195, -bandingkan Einstein 150- tapi drop out tersandung biaya kuliah. Yang mestinya perkara sepele di negeri berlimpah beasiswa. IQ Langan jongkok saat berkomunikasi dengan orang yang harusnya bisa membantunya.

Lainnya, faktor waktu dan kesempatan. Pekerja dengan profesi sama, berjuang sama uletnya, tapi hidup pada periode berbeda, akan memiliki kesempatan berbeda pula.

Gladwell juga menunjuk faktor tambahan yang berperan, seperti, kebudayaan dan tanggal lahir. Pakar lain bahkan menyebutkan, percaya atau tidak, tinggi badan dan nama seseorang!

Itulah kenapa ketika Jeb Bush, mantan gubernur Florida, berkata ia sukses karena upaya sendiri, Gladwell terkekeh. “Mungkinkah adik presiden, anak presiden dan cucu seorang senator sukses swakarya?” ujarnya.

Functional Expert: Sulit Menyenangkan Semua Orang

 Hasil Functional Expert (FE) final sudah. 398 karyawan di Kantor Pusat, sekarang bisa disapa “Officer” atau “Engineer”.

Ternyata sulit menyenangkan semua orang.

Apakah mereka yang tidak naik tangga kurang “expert” berbanding 398 karyawan ini?

Menentukan seseorang menguasai keahlian spesifik bisa dilakukan melalui proses objektif standar, seperti sertifikasi.

Kami diberitahu bahwa penentuan FE ditentukan melalui mekanisme sidang jabatan. Para GM dan VP akan duduk bersama. Jika para pejabat ini mengenal karyawan yang dievaluasi, ia selamat. Jika tidak, good bye.

Memang, bising telinga mendengar ini. Tetapi promosi, laiknya melamar pekerjaan, tergantung siapa perlu siapa. Atasan, sebagai pengguna, membutuhkan rekan kerja yang kompatibel, bukan yang lebih terampil. Ketika dipromosikan ke posisi baru, pada dasarnya karyawan tersebut belum berpengalaman pada tingkat tersebut. Ia, mungkin, berpengalaman di level staf, tapi di jenjang baru, belum.

Visibilitas kandidat, dengan demikian menjadi prioritas. Tapi bukan sekedar dikenal. Keterlihatan tersebut haruslah karena reputasi baik.

Atasan punya program kerja sasaran. Ia mesti yakin kerangka berpikir mereka paralel, sehingga mengurangi silang kepribadian yang mengganggu fokus pencapaian target.

Kita jangan berasumsi ini hanya terjadi di Indonesia.

Di AS, misalnya, ketika posisi hakim agung harus diisi, presiden dari partai Demokrat tentunya tidak akan menunjuk hakim pengganti yang konservatif, meski sang tokoh adalah pakar hukum cerdas nan berpengalaman. Demikian juga, ketika pos gubernur bank sentral lowong, ekonom pro regulasi jangan harap bisa terpilih jika presiden yang berkuasa dari partai Republik, yang condong kepada deregulasi pasar, meski sang empu punya nobel sekalipun.

Selanjutnya, kami diberitahu pula: FE berdasarkan kuota. Artinya, karyawan pada Divisi dengan staf banyak, dan juga pintar-pintar, akan sulit bersaing dibanding berada di Divisi dengan jumlah karyawan sedikit.

Karyawan encer bisa terpilih dengan mudah asal kecakapannya unik, yakni staf lain tidak memiliki keahlian yang sama, sehingga tak tergantikan.

“Kalau Kamu Enggak Senang, yah Keluar.”

Iseng, saya dekati rekan, yang menurut saya harusnya masuk FE. Pembandingnya sederhana: yuniornya tembus. Saya kenal baik mereka; pekerjaan kami berkait.

“Pastilah ada hikmah,” katanya. Tidak usah dibilang: ia kecewa berat. Saya salut karena ia legawa. “Kali berikut mungkin saya naik ke posisi lebih baik,” tambahnya. Senang saya dekat orang yang masih berharap; sebab, saya percaya, ketika seseorang berhenti berharap, ia sudah mati setengah.

Namun, kalimat selanjutnya mengagetkan: “Jelas ada yang tidak senang dengan saya.” Untung saya segera paham: orang kecewa kadang tidak konsisten.

Penasaran, besoknya, ketika seorang teman datang ke rumah, saya bertanya: “Menurut kamu, orang yang disebut ‘expert’ apa sih?”

“Hasil kerjanya membuktikan.”

“Terus?”

“Cara bicaranya menunjukkan ia menguasai bidangnya.”

“Terus?”

“Ia bisa menulis tentang keahliannya.”

Mendengar kata “menulis”, saya langsung memotong percakapan kami. Saya curhat abis tentang FE.

“Aku sudah menerbitkan tujuh artikel teknis, setahun terakhir, di majalah internal perusahaan,” kata saya pelan, “tapi tetap tidak qualified untuk FE.”

“Kriterianya beda kali,” ujarnya.”Atau hanya kamu sendiri yang menganggap diri kamu expert.”

Ia melanjutkan, “Fair-fair ajah-lah, kalau kamu enggak senang, yah keluar. Cari perusahaan lain yang menghargai keahlian kamu.”

Saya terdiam. Juga malu. Setelah ia pergi, saya membaca lagi Outlier. Ternyata, sukses memang ada kisahnya sendiri.

*****

0 Responses to “Dilbert Dan Sepotong Hikayat Keberuntungan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: