Mengapa Retune Frekuensi Harus Dilakukan?

Harap mengalokasikan frekuensi berbeda pada setiap transceiver (TRX, unit radio) jika TRX yang Anda miliki adalah TRX GSM. Anda harus melakukan ini sebab sistem komunikasi GSM menggunakan sistem multiple access hibrid FDMA dan TDMA. 

Lain lagi ceritanya jika TRX itu adalah TRX CDMA. Tahukah Anda bahwa, umumnya, dalam sistem komunikasi CDMA semua radio memancar dengan frekuensi yang sama? Dengan demikian pada sistem komunikasi CDMA, Anda tidak perlu dipusingkan dengan masalah alokasi frekuensi, dan implikasi retune frekuensi, seperti halnya pada GSM.

Meskipun sudah repot-repot mengalokasikan frekuensi, ternyata pekerjaan Anda belum selesai: frekuensi-frekuensi TRX GSM yang telah dialokasikan ini harus di-retune, diganti, secara berkala supaya kualitas jaringan radio terjamin, demi mendapatkan senyum perkenan dari pelanggan.

Bisa disimpulkan, retune frekuensi umumnya dilakukan pada sistem komunikasi yang menggunakan multiple access FDMA, seperti GSM.

Perhatikan, di sini kita berbicara tentang retune frekuensi yang dilakukan bukan hanya pada beberapa BTS (Base Transceiver Station, menara pemancar radio) saja, melainkan pada suatu area jaringan radio tertentu dalam skala area global.

Ketika frekuensi TRX di-retune, frekuensi tersebut di-review, dipertimbangkan: apakah diganti atau tetap dipertahankan, dalam keterkaitannya dengan frekuensi-frekuensi lain yang memancar dari BTS-BTS di sekitarnya.

 Kualitas Jaringan radio dan Retune Frekuensi

Terkaitkah kualitas jaringan radio dengan performansi frekuensi sehingga penting frekuensi di-retune secara berkala? Saya mendengar Anda bertanya. Tentu saja. Ingat fakta berikut: kualitas jaringan radio berbanding terbalik dengan tingkat interferensi, yakni semakin tinggi tingkat interferensi, semakin jelek kualitas jaringan radio; tapi sebaliknya juga berlaku. 

Dapat dikatakan, interferensi adalah ukuran performansi frequency plan pada jaringan radio secara keseluruhan. Dalam hal apa?  Jika kanal frekuensi yang sama, namun dipancarkan oleh sektor BTS yang berbeda, bertabrakan, kita menyebut hal ini sebagai interferensi, yang mempengaruhi performansi jaringan radio (co-channel inteference). Bahkan kanal frekuensi yang bersebelahan pun bisa menimbulkan interferensi, yang disebut adjacent channel interference. Anda benar ketika mengatakan interferensi adalah penyakit, sampah busuk yang harus disingkirkan sejauh-jauhnya dari jaringan radio. Tanyailah para planner RF (radio frequency) tentang pembersihan interferensi ini dan mereka akan sangat berterima kasih karena Anda mengingatkan mereka akan tujuan mulia ini.

 Alasan-Alasan Retune Frekuensi

Selain aspek fundamental di atas, frekuensi harus di-retune karena beberapa alasan, antara lain: 1) faktor teknologi 2) faktor site deployment (pembangunan sitesite baru) 3) faktor strategis.

Alasan pertama. Frekuensi harus di-retune jika operator mengadopsi teknologi baru; misalnya: jika sebelumnya operator menggunakan teknologi baseband hopping kemudian beralih ke teknologi synthesiser hopping (SFH) maka harus ada retune frekuensi. Ada perbedaan mendasar antara  kedua teknologi ini yang mengharuskan frekuensinya di-retune secara total. Sedemikian mendasarnya perubahan itu, sebenarnya lebih tepat perubahan frekuensi ini disebut frequency reengineering sebaliknya daripada frequency retune saja. Retune jenis ini biasanya hanya dilakukan sekali.

Alasan kedua. Frekuensi harus di-retune karena masuknya sitesite baru pada suatu area yang sudah padat. Sitesite baru ini, dengan frekuensi mereka masing-masing, akan sangat mempengaruhi tingkat interferensi pada sitesite di sekitarnya. Satu saja BTS baru dibangun di tengah-tengah suatu area yang sudah tinggi densitas BTS-nya, semakin sulit untuk mengalokasikan frekuensi pada BTS tersebut tanpa menimbulkan interferensi dengan BTS-BTS tetangganya.

Semakin banyak sitesite baru pada satu area maka dampak sitesite ini terhadap level interferensi pada area ini akan semakin tinggi, sehingga mutlak dilakukan retune frekuensi secara keseluruhan untuk area tersebut. Kesimpulan: wajib, dilakukan retune frekuensi secara berkala untuk area-area yang masih mengalami pertumbuhan site.

Alasan ketiga. Frekuensi harus di-retune, secara total, jika ada perubahan desain frequency plan yang bersifat strategis.

Alokasi frekuensi kadang-kadang harus diubah untuk mengakomodasi kebutuhan tertentu. Jika site semakin banyak, maka idealnya dibutuhkan lebih banyak lagi kanal frekuensi BCCH untuk mempertahankan kualitas, sehingga alokasi kanal frekuensi BCCH harus ditambah.

Selain itu, karena trafik pelanggan yang meningkat, operator harus menaikkan kapasitas trafik pada BTS, dengan menambah konfigurasi maksimum TRX per sektor BTS. Ini dilakukan dengan menambah alokasi kanal trafik TCH, sehingga blok kanal trafik TCH (MAL, Mobile Allocation List) menjadi lebih panjang. Tentu saja, alokasi frekuensi yang ada harus didesain ulang untuk mengakomodasi kebutuhan strategis ini. Interval waktu dilakukannya retune frekuensi karena alasan strategis, relatif lama dan tergantung kebutuhan.

 Studi Kasus: Retune Frekuensi Strategis

Perhatikan studi kasus berikut: Katakanlah satu operator memiliki alokasi frekuensi GSM1800 seperti ditunjukkan oleh Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1: Alokasi frekuensi GSM1800 (DCS) Operator A

Seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1, alokasi frekuensi Operator A ini terletak di 3 blok berbeda, masing-masing blok memiliki lebar pita yang bervariasi. Dengan jumlah total 109 kanal frekuensi, Operator A memiliki total lebar pita frekuensi kurang lebih 22 MHz.

Operator A mempersiapkan alokasi frekuensi ini untuk 3 coverage class: Macro (area luar, cakupan luas), Micro (area luar, cakupan lebih kecil) dan Indoor (dalam ruangan). Ke-3 coverage class ini juga akan memiliki jumlah sektor coverage maksimum yang berbeda pula: 3 sektor untuk Macro, 2 Sector untuk Micro dan 1 sector Indoor.

Pada mulanya Operator A mendesain frequency plan-nya sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2 di bawah ini:

Gambar 2: Frequency plan Operator A untuk konfigurasi TRX maksimal 8/8/8

Terlihat, ada 36 kanal frekuensi yang dialokasikan untuk kanal BCCH Macro dan 48 kanal frekuensi untuk kanal TCH Macro, yang dibagi 16 kanal per sektor BTS. Dengan jumlah kanal TCH sebanyak ini, maksimum konfigurasi TRX yang bisa terpasang pada 1 BTS dengan 3 sektor adalah 8/8/8. 24 kanal frekuensi pada blok ke-2 dialokasikan seluruhnya untuk Micro dan Indoor.   

Lantas, karena ada trend pertambahan trafik, Operator A ingin menaikkan konfigurasi TRX maksimum ke 12/12/12 untuk 1 BTS Macro dengan 3 sektor. Untuk melakukan ini, paling tidak dibutuhkan 22 kanal TCH, sehingga harus merubah desain frequency plan-nya seperti Gambar 3 di bawah ini:

Gambar 3: Frequency plan Operator A untuk konfigurasi TRX maksimal 12/12/12

Retune frekuensi total harus dilakukan karena ada perubahan blok kanal BCCH Macro, dari sebelumnya di blok 1 ke blok II. Selain itu, kanal TCH Macro sektor 3 mengalami perpindahan blok frekuensi, ke blok I. Perubahan juga terjadi pada alokasi frekuensi Micro dan Indoor.Dengan perubahan desain strategis ini, konfigurasi TRX maksimum sekarang bisa mencapai 12/12/12, sehingga lebih banyak pelanggan yang bisa mengakses layanan pada 1 BTS.

Semua ini tidak gratis. Ada yang harus rela berkorban. Menambah jumlah kanal TCH Macro (dari total 48 menjadi 66), dengan jumlah alokasi frekuensi Operator A yang tetap (109 kanal), maka kanal BCCH Macro dan alokasi frekuensi untuk Micro dan Indoor menjadi berkurang. Harga yang harus dibayar untuk itu adalah kualitas, terutama pada Micro dan Indoor. Untungnya, sitesite Micro dan Indoor hanya sering dijumpai di area urban.

Performansi yang berkaitan dengan kanal BCCH juga akan mengalami degradasi karena pengurangan kanal ini. Untungnya, pada kanal TCH, karena ada pertambahan kanal, performansi yang berkaitan dengan kanal tersebut, seperti handover dan call drop, secara teori, akan membaik.

*****

Telah dipaparkan alasan-alasan dilakukannya retune frekuensi, dan studi kasus retune frekuensi untuk alasan strategis.

Mengingat beberapa alasan penting ini, mutlak bagi para operator GSM untuk melakukan retune frekuensi secara reguler, yang salah satu tujuannya adalah memperbaiki kualitas jaringan radio. Pekerjaan retune frekuensi memang akan menuntut banyak sumber daya dan menguras waktu. Tetapi, operator tidak bisa mengelak dari kewajiban ini. Pelanggan akan senantiasa menuntut layanan terbaik dari uang yang mereka bayarkan, atau mereka akan berpindah ke lain operator, yang memanjakan mereka dengan layanan memuaskan hati.

*****

7 Responses to “Mengapa Retune Frekuensi Harus Dilakukan?”


  1. 1 Anonymous June 3, 2014 at 5:55 pm

    Terima kasih banyak atas sharingnya, mohon izin copas

  2. 2 ariz December 9, 2011 at 5:18 pm

    Meralat Pertanyaan sebelumnya
    apa dampak yang terjadi jika terdapat 1 site dengan Sistem SFH dan surroundingnya menggunakan BB?

  3. 4 Erna March 10, 2011 at 10:27 am

    dear mas,

    apakah frequency reenginering ini sama dengan frequency refarming?
    mohon pencerahannya
    terima kasih
    :)

    • 5 julitra March 10, 2011 at 12:34 pm

      Frequency re-engineering adalah perubahan dari baseband hopping (BB) menjadi synthesiser frequency hopping (SFH).

      Frequency refarming adalah penggunaan alokasi frekuensi yang selama ini dipakai oleh teknologi tertentu, kini dialihkan penggunaannya ke teknologi lain. Misalnya LTE akan memakai frekuensi GSM, di GSM900 MHz atau GSM1800 MHz.

  4. 6 Hendra January 20, 2010 at 4:07 pm

    Mas,

    Faktor apa yang mesti dipertimbangkan ketika ingin mengubah Hopping dari Baseband ke SFH ?
    Apakah SFH memberi dampak yang lebih baik terhadap KPI dibanding Baseband ?

    Salam Hangat,
    Hendra

    • 7 julitra January 20, 2010 at 4:42 pm

      1) Faktor yang harus dipertimbangkan ketika melakukan frequency reengineering dari baseband ke SFH adalah densitas BTS (site) di area tersebut. Jika jumlah site-nya masih sedikit sebaiknya tetap memakai baseband (BB) hopping. Selain itu, dengan SFH, pengalokasian frekuensi akan menjadi lebih cepat.

      2) SFH, umumnya, meningkatkan KPI, dibandingkan BB, jika densitas BTS di suatu area tertentu tinggi. Tampaknya untuk area yang jumlah site-nya masih sedikit performansi BB masih lebih baik dibandingkan SFH.

      Untuk informasi tambahan silahkan lihat postingan saya berikut: https://julitra.wordpress.com/2009/03/02/mengapa-operator-gsm-mengadopsi-frekuensi-hopping-sfh/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: