Mars Memburu Matahari

Tukang ojek menyodorkan helm merah menyala itu bahkan sebelum Mars membuka bibir, mengarahkan ke mana mereka harus pergi.

Mars tidak menyentuh helm yang disodorkan. “Nggak usah pake helm.” Ia muak dengan helm yang suka gonta-ganti kepala. Tapi hukumnya tak wajib memberitahukan alasan pribadi.

Mata tukang ojek menoleh seperti belati bermata ganda, “Pake.” ucapnya hemat kata, dengan mata belati yang pertama, “atau loe cari ojek yang laen!” dengan mata belati berikutnya.

Mars menyelipkan tangan ke kantong depan celananya, cuek; lantas menengok ke arah jalan raya: ada bus metro mini warna wortel No. 640 yang lewat di sana. Ia paham bus metropolitan itu, yang melayani rute Pasar Minggu-Tanah Abang, akan melewati kantornya, di Jalan Gatot Subroto.

Terlambat ke kantor, pagi sudah terlalu jauh meninggalkan Mars. Ia harus secepatnya terbang dari tempat ini, memburu matahari.

Tukang ojek menatap jidat Mars bak dukun meramal masa depan. “Terserah.” Katanya, mengantar helm di tangannya kembali ke setang motor.  

“Tetapi jika loe, kayak gue, yang bangga bilang ‘gue anak Jakarte’, dalam artian ibukota udeh kayak punya loe, loe pasti tahu sepeda motor-lah yang paling nekat ngalahin macet. Apalagi loe lagi buruan sekarang.”

Mars mengumpat, dalam hati. Orang jadi cerewet ketika menjual sesuatu.

Kalaupun Mars meletakkan helm di kepalanya bukan karena tunduk dengan mata berbelati tukang ojek. Saudagar yang berdiam dalam otaknya sedang memegang kalkulator.

Berikut rekomendasinya: Dengan memakai helm, yang suka gonta-ganti kepala itu, dia hanya perlu membayar ongkos ojek; dengan kepala minus helm saat berkendara, meski hanya dibonceng, dia harus menyogok polisi, mungkin dua atau tiga kali lebih lipat dari ongkos ojek. Tergantung polisi-nya.

“Mahalan bayar polisi, yah Bang?” tanya Mars dengan basa basi yang sudah basi. Ia mengatur letak helm standar SNI itu, dan merasa bak pembalap Valentino Rossi. Namun bau basi, yang membasi di helm, merangsangnya mual.

Rambut gimbal tukang ojek yang bau bacin menambah derita Mars. Tak kenal shampoo meski tiap hari mandi keringat.

“Bukan gue yang bayar kalo ketangkep!” gerutu si Abang. Sepeda motor lusuhnya lantas berteriak parau, secepatnya ingin lari dari situ. “Loncat!” jempol kanannya membungkuk ke belakang, memberi kode naik boncengan.

“Aku yang bayar Polisi,” usul Mars setelah mereka bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya. “Asal tidak pakai helm!”

Tukang ojek tiba-tiba menghentikan motornya. Di tengah jalan dengan lalu lintas yang berlari liar. Kanan kiri, klakson-klakson berteriak berang. Tukang ojek santai.

Tapi Mars harus memburu matahari. Mengejar waktu.

Mars menebar pandangan ke semua penjuru angin dengan semua topeng yang ia miliki, berganti-ganti. Semoga, di antara orang-orang yang murka ini tidak ada yang mengenalnya. Akhirnya, Mars menatap mereka dengan mata yang tertunduk takluk. Orang asing mengutuk dengan sumpah yang lebih sakti.

Tukang ojek menggerakkan lehernya setengah putaran sampai matanya menusuk-nusuk wajah Mars. “Persoalannye bukan loe bisa bayar apa nggak. Gue ini ude berkali-kali ketangkep. Polisi hapal muka gue, nggak mempan lagi dibayarin. Kalo SIM gue kesimpen Polisi, abis gue. Mau ngga loe?”

Seperti suara hakim menghukum terdakwa. Namun tak seberapa dibanding suara klakson-klakson yang geram. “Yuk jalan lagi.”

Tukang ojek malah mengulurkan tangan kanannya dari setang motor ke arah Mars. Suaranya turun drastis, “Gue Lantang. Loe?”

“Dari ‘seberang’?” tanya Lantang, datar. Ia mencabut helm dari tumpukan benang kusut kepalanya. Bibirnya dibiarkan gersang tanpa senyum. Jauh dari Bob Marley apalagi Mbah Surip.

“Dan kamu dari hutan?” tanya Mars sembari mengamati ketombe-ketombe yang bergantungan bebas di rambut bacin itu. Sayang, si Rambut Gimbal tak sanggup membaca hati.

Tujuh tahun merantau di ibukota, pertanyaan “Dari ‘seberang’ yah?”, atau yang sejenis itu (“Dari Timur?”, “Dari Daerah?”), menjadi pertanyaan pertama yang paling banyak ditanyakan.

“Dari ‘Seberang’?” Jika ada pertanyaan yang paling dibencinya, ini dia!

Sekali peristiwa, Mars di bandara Ngurah Rai, Denpasar. Ketika mencari keterangan ke bagian informasi, ia bertanya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar –dari SD sampai SMA, Mars tak pernah mendapat nilai bahasa Indonesia di bawah angka delapan- ajaib sang petugas malah menjawab semua pertanyaannya dengan bahasa Inggris!

Apa yang salah dengan bahasa Indonesianya? Padahal, kata orang dia tidak terlihat seperti bule. Fisiknya, kata teman-teman, bukan tipikal orang Jawa. Tapi pasti dari Asia Tenggara.

Logat? Ia merasa keindonesiaannya digugat hanya karena bicara dengan irama bahasa yang tak akrab.

Mujurnya, Mars lancar berbahasa Inggris. Saat minder dengan pertanyaan itu, dengan cepat ia menjawab dengan bahasa Inggris, menyamar sebagai orang Filipina atau Laos atau Kamboja atau Burma. Tak pernah mengaku sebagai orang Malaysia. Tak bisa “cakap Melayu”. Atau orang Thailand. Kulit orang Thailand lebih mirip orang Tionghoa.

Menjawab pertanyaan dengan bahasa Inggris, Mars tidak pernah merasa kalah lagi. Biasanya, orang yang bertanya langsung diam, atau kalau mereka ngobrol lebih lanjut, Mars tidak merasa minder. Masing-masing cas-cis-cus Inggris dengan logat masing-masing. Banyak kali, ia justru yakin bahasa Inggrisnya jauh lebih baik.

Loe belom jawab pertanyaan gue.”

“Jalanlah dulu kita. Aku sudah telat.  Juga, Anda tidak malu dimaki-maki orang?”

Lantang bergerak lagi, menyatu dengan pengendara lain. Zig-zag seperti Valentino Rossi. Terlalu cepat, hampir menabrak motor di depan; banting setir, Metro Mini, di sebelah kanan, hampir menyerempet mereka. Sepeda motor itu bertingkah bak banteng matador, tanduk sana, tanduk sini.

Mars menepuk-nepuk bahu Lantang, isyarat melambat. Jelas ini perjalanan ke kuburan bukan ke kantor.

Lah tadi katanya mau cepet-cepet?”

“Tanya apa tadi?” Mars berteriak.

Loe nggak brani ngebut yah?”

“Gantian aku yang bawa? Anda belum pernah lihat orang ngebut.”

“Logat loe tuh! Dari Timur?”

“Selatan.”

“Kita khan di selatan?”

“Filipina selatan.” Teriak Mars.

Anda tidak perlu menjawab pertanyaan orang yang tidak berhak. Namun jangan sampai berbohong. Secara teknis, sebagian besar wilayah Indonesia berada di selatan Filipina, bukan?

Lantang menghentikan motornya secara mendadak lagi, seperti tadi. Di tengah jalan dengan lalu lintas yang berlari liar. Kanan kiri, klakson-klakson berteriak berang. Lantang santai.

Tapi Mars harus memburu matahari. Mengejar waktu.

Mars menebar pandangan ke semua penjuru angin dengan semua topeng yang ia miliki, berganti-ganti. Semoga, di antara orang-orang yang murka ini tidak ada yang mengenalnya.

Lantang menggerakkan lehernya setengah putaran sampai matanya menyapa wajah Mars. “I thought so. You speak with an accent!” komentarnya langsung dengan bahasa Inggris.

I’m genuinely surprised that you assumed every Filipino speaks English. What if I don’t?”

The truth is you speak English.

Mars sadar, Lantang perlu diwaspadai. Banyak intel cakap menyamar menjadi siapa saja. Lantang, paling tidak, tukang ojek palsu. Kata-katanya. Sikapnya di jalan. Tukang ojek yang pintar berbahasa Inggris. Ngapain menyiksa diri jadi tukang ojek? Mars lantas tahu telah melakukan kesalahan fatal: “Oh my Gosh, what have I told him?

Filipina selatan, medan juang para petempur Moro! Menggetarkan sebagai kawah candradimuka pengacau keamanan di Filipina.

Ia telah memasang jebakan buat dirinya sendiri.

“Aku asli orang Indonesia. Pulau asalku memang lebih dekat ke Davao dan General Santos dibanding ke Manado.”

Mind you,” tatap Lantang tajam,”as long as I can remember, I never make any mistake!”

Lantang bergerak lagi, menyatu dengan pengendara lain. Zig-zag dengan gaya Valentino Rossi, bertingkah bak banteng matador, tanduk sana, tanduk sini.

Mars mau melepaskan helmnya tapi banyak polisi, dari jalan masuk Tegal Parang sampai perempatan Kuningan-Gatot Subroto. Joki-joki three-in-one, yang biasanya memadati ruas jalan ini, tidak kelihatan.

Bau amis helm itu telah mengaduk-aduk isi perutnya sejak pantatnya melompat di atas boncengan motor. Busa hitam yang menutup bagian dalam helm tersebut seperti pengemis di jembatan penyeberangan tidak jauh dari kantornya: compang-camping, tapi tidak sedap dipandang. Juga, tentu saja, asing di hidung.

Kini setelah perutnya berteriak-teriak mual, barulah Mars tahu dia telah keliru berhitung: lebih murah, dan juga hemat waktu, membayar denda polisi ketimbang membayar ongkos dokter.

“RT berapa?” tanya Lantang lanjut.

“12.”

“Rumah sendiri?”

“Ngontrak.”

“Punya siapa?”

“Haji Mahmud.”

“Kontrakan di belakang rumah pak aji, gue tau. Anaknya pak aji cakep tuh. Seumuran loe!”

“Aku ngontrak bukan cari jodoh.”

Loe khan ude empat taon tinggal di situ!”

Dari mana dia tahu aku sudah empat tahun tinggal di situ? Mars makin galau.

Brape loe bayar?”

“Dua juta.”

Setaon? Murah amat.”

“Sebulan.”

Lantang menghentikan motornya dengan mendadak, untuk ketiga kalinya. Di tengah jalan dengan lalu lintas yang berlari liar. Kanan kiri, klakson-klakson berteriak berang. Lantang santai.

Tapi Mars harus memburu matahari. Mengejar waktu.

Mars menebar pandangan ke semua penjuru angin dengan semua topeng yang ia miliki, berganti-ganti. Semoga, di antara orang-orang yang murka ini tidak ada yang mengenalnya.

Lantang menggerakkan lehernya setengah putaran sampai matanya menusuk-nusuk wajah Mars. “Itu rejeki gue sebulan! Tapi loe cuman pake bayar kontrakan doang?”

“Dua kamar tidur. Murah karena di tengah kota. Aku bisa jalan ke kantor. Tidak perlu bangun pagi-pagi pula.”

“Tapi loe khan jomblo! Ngapain nyewa kamar banyak-banyak?”

Apakah Anda tahu juga apa yang saya simpan dan lakukan di kamar-kamar itu? Mars penasaran. “None of your business.”

Lantang bergerak lagi, menyatu dengan pengendara lain. Zig-zag dengan gaya Valentino Rossi, bertingkah bak banteng matador, tanduk sana, tanduk sini.

Mars memerintahkan Lantang untuk berbelok kiri, masuk ke tepi jalan yang tidak bertrotoar. Mereka hampir sampai.

Halaman tepi jalan yang tidak bertrotoar tersebut sebenarnya adalah gerbang keluar dari gedung bertingkat, di samping kantornya, yang sudah pensiun menjaga akses keluar itu.

Mars hapal dengan tulisan yang terpasang pada bagian tengah-atas gerbang: “Dilarang Keras Parkir Di Depan Gerbang!” Untuk sepeda motor yang berhenti sesaat tampaknya no problemo.

Lantang keberatan: “Kenapa nggak brenti sini?” tanyanya, melambatkan kendaraan di tepi jalan, tiga meter sebelum belokan.

Mars kepingin menanduk Lantang dengan helm. “Kendaraan lewat seperti setan. Lebih aman berhenti di perhentian bus sana, kalau mau!”

Ah, di sini nyawa bahkan tidak laku diobral, pikir Mars, ketika ia melihat Lantang tidak peduli.

Tapi Mars belum puas, “Besok-besok loe harus berhenti di depan pagar itu.” Tunjuknya ke arah gerbang bercat putih kapas itu.

Kemudian, dengan lincah Mars melepaskan diri dari helm yang telah menyiksanya dua puluh menit terakhir. Ia harus mengosongkan perutnya saat itu juga.  Dari rumah ke kantor sebenarnya hanya sepuluh menit. Injury time malah menyiksanya.

Lantang meraih uang dari tangan Mars. “Banyak aturan!” Mulutnya berucap layaknya bromocorah, sebaliknya daripada tukang ojek yang tahu berterima kasih.

“Kuda c…i” Mars memaki.

Ganti tiga titik antara huruf “c” dan “i” di atas dengan “u”, “k” dan “k”. Ucapkanlah. Maka Anda telah memaki dengan salah satu serapah yang paling kotor dalam dialek Manado.

“Cuci kuda!” teriak Lantang. “Nih kuda mau dicuci.” Katanya lantang menunjuk ke sepeda motornya. Ia bergaya Valentino Rossi lagi dengan kuda kotornya.

Kelakar Lantang spontan menggelitik ketiak Mars. Lucu karena Lantang tak sadar ia telah memakinya dengan makian yang paling kasar. Tak tahan, ia tertawa tersentak-sentak sendirian.

Berlari-lari kecil ke kantornya, Mars melihat Lantang beradu cepat dengan  bus Kopaja No 66, jurusan Blok M.

Tapi Lantang mendadak berhenti! Meninggalkan motornya di tengah jalan, ia lantas berlari menghampiri Mars.

Tangannya mencengkeram kerah Mars seperti tang. Mulutnya mendesis bak ular berbisa, “Ngana blum tau sapa kita kang?” dengan bahasa Manado yang lancar, tak kotor dengan logat asing. Anda belum tahu siapa saya yah?

Ngana ulang mamake tadi sratus kali!” Lantang mendorong Mars, melonggarkan cengkeramannya hanya supaya Mars mengulang makiannya seratus kali lagi.

Seratus kali? Orang ini gegar otak! Siapa Lantang sesungguhnya? Spy biasanya menguasai banyak bahasa. Juga, meskipun baru tujuh tahun di Jakarta, dia tahu aksen betawi si tukang ojek ini, atau apa-lah dia, tidak persis kedengaran layaknya “anak Jakarte”  tulen.

Tapi Lantang, atau siapa-lah dia, juga belum tahu siapa Mars sebenarnya! Ketika “orang seberang” sudah menyeberang samudera, ketahuilah, mereka sudah menggali kuburannya sebelum kapal berlayar membawa mereka pergi. Kami orang seberang adalah orang-orang yang berani mati untuk hidup.

Lantang sontak terdiam. Perutnya terasa dingin dengan dengan benda tajam yang menusuk sakit. Lantang menunduk, menatap benda tajam itu. Permukaan sebuah belati baja memantulkan wajahnya.

Dunia berputar dengan cepat.

Lantang mendengar Mars mengulang lagi kalimat yang dia ucapkan, ketika mencengkeram kerahnya, “Ngana blum tau sapa kita kang?” Belati menusuk makin sakit. “Bilang ke bos loe: Jangan cari masalah!”

Lantang tidak sanggup mengangkat kepalanya. Pasrah, melihat rambut gimbalnya tercetak dengan sempurna di atas belati. Mars menamparnya pergi.

Sebelum tancap gas, Lantang menoleh ke belakang. Mars muntah-muntah di tepi jalan.

1 Response to “Mars Memburu Matahari”


  1. 1 na'vi January 28, 2010 at 12:34 pm

    it seems u like to go with “The Jack” (T’ukang oJek)….

    T’Jack appears in other story with ‘stinky helm’… ;) …. but who cares…..it isn’t a sin,is it?…..
    If u make a story about “The Jack”…a helpfull Jack, a nice Jack, a hardworker Jack, etc… trust me… u’ll get freecharge Jack :)….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: