Sihir Perempuan

Golden memerintahkan sepeda motor yang memboncenginya untuk berbelok kiri, masuk ke tepi jalan yang tidak bertrotoar.

Halaman tepi jalan yang tidak bertrotoar tersebut sebenarnya adalah gerbang keluar dari gedung bertingkat, di samping kantornya, yang sudah pensiun menjaga akses keluar itu.

Golden hapal dengan tulisan yang terpasang pada bagian tengah-atas gerbang tersebut karena setiap pagi selalu dibacanya: “Dilarang Keras Parkir Di Depan Gerbang Ini!”

Tukang ojek keberatan: “Kenapa tidak bisa berhenti di sini?” tanyanya sembari melambatkan kendaraan di tepi jalan, tiga meter dari belokan tersebut.

Dengan cepat Golden melepaskan diri dari helm yang telah menyiksanya lima belas menit terakhir. Ia merasa seperti terpaksa harus memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga. Bau helm itu telah mengaduk-aduk isi perutnya sejak pantatnya melompat di atas boncengan motor. Busa hitam yang menutup bagian dalam helm tersebut seperti pengemis di jembatan penyeberangan tidak jauh dari kantornya: compang-camping, tapi tidak sedap dipandang. Juga, tentu saja, asing di hidung.

Golden muak dengan helm yang suka gonta-ganti kepala. “Tidak perlu pakai helm, Pak.” Ia menolak saat tukang ojek menyodorkan helm, bahkan sebelum Golden mengatakan kemana ia harus dibawa pergi.

Tukang ojek memandangnya dengan belati bermata dua, memberikan pilihan: satu sisi, pakai helm ini; sisi lainnya, atau kamu harus berjalan kaki ke tempat tujuanmu.

Kalaupun Golden akhirnya memakai helm itu bukan karena ia tunduk dengan mata belati tukang ojek itu tapi karena otak pedagangnya masih berfungsi. Dengan memakai helm busuk itu dia hanya perlu membayar ongkos ojek; tetapi dengan kepala minus helm saat berkendara, meski hanya dibonceng, dia harus menyogok polisi, mungkin dua kali atau tiga kali lebih tinggi dari ongkos ojek.

Kini setelah perutnya berteriak-teriak mual barulah Golden tahu bahwa dia telah keliru berhitung: ternyata masih lebih murah, dan juga hemat waktu, meyuap polisi dibandingkan membayar ongkos dokter.

“Lihat sendiri, di sini sangat berbahaya!” Golden ingin mengetok kepala tukang ojek itu dengan helm di tangannya. “Kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi, mudah sekali ketabrak. Masih lebih aman kita berhenti di perhentian bus sana!” Ah, di sini nyawa bahkan tidak laku diobral, pikir Golden, ketika ia melihat tukang ojek tidak peduli.

Tapi Golden belum puas, “Besok-besok Bapak harus berhenti di depan pagar itu.” Tunjuknya ke arah gerbang bercat putih kapas itu.

Tukang ojek meraih uang dari tangan Golden. “Ribet banget.” Mulutnya berucap bak seorang jawara, sebaliknya daripada tukang ojek yang berterima kasih. Golden melihat tukang ojek tancap gas meninggalkannya, beradu cepat dengan metro mini warna jeruk masak masak rute Pasar Minggu-Tanah Abang.

Sepuluh meter sebelum Golden memasuki halaman gedung kantornya matanya menangkap satpam yang berdiri, perkasa dengan pentungan di tangan kanannya.

Satpam pasti akan menyodorkan senyum kepadanya. Kemudian memintanya berhenti sebentar, memintanya lagi membuka tasnya untuk diperiksa dengan alat seperti pentungan itu. Ini pemeriksaan di halam gedung. Nanti di di lobby gedung akan ada pemeriksaan yang sama.

Kali ini Golden akan bermurah hati, dan ia bahkan akan melepas pergi senyum yang selama ini diikatnya. Terus terang, selama ini Golden dongkol karena, ternyata, satpam hanya membagikan senyum sebelum mereka meminta karyawan membuka tas untuk diperiksa. Mereka tersenyum bukan untuk seseorang yang layak mendapatkan keramahan. Selalu saja ada udang bersembunyi di balik batu, pikirnya. Ia tahu trik satpam tersebut, dan tidak menikmatinya.

Ia teringat pengalaman beberapa hari sebelumnya. “Tasnya tolong dibuka.” Satpam meminta tasnya dibuka; seperti biasa, dengan senyum terlebih dahulu. Golden mulai bernalar, tampaknya senyum adalah bagian yang tak terpisahkan dari standar prosedur operasi pemeriksaan tas.

Sebaliknya daripada membuka tasnya, dibukalah kekesalannya lebar-lebar. “Lebih bermanfaat Bapak memperingatkan mobil-mobil di sana supaya jangan tancap gas di area pejalan kaki!” Tunjuknya dongkol ke arah mobil di halaman lobby yang bergerak cepat. “Apa nanti tunggu sampai ada korban?”

Tapi hari ini berbeda, Golden bertekad. Ia tidak ingin harinya berantakan karena helm bau dan tukang ojek yang nakal. Dan satpam yang memperlambat waktunya. Ia akan membagikan keramahannya tanpa bayar, karena senyum adalah hak setiap orang.

Tetapi rencananya tidak berjalan mulus. Alih-alih melemparkan senyum, sang satpam bahkan buta ketika ia berjalan mencurigakan dengan backpack, menyembunyikan laptop berat di dalamnya.

Golden dengan jelas melihat mata sang satpam menempel kuat pada bus Kopaja No. 66 yang berhenti beberapa meter dari tempat ia berdiri. Golden berpaling ke arah yang sama, tapi yakin hanya melihat badan mobil yang berkarat, yang seharusnya sudah disita polisi karena tidak layak beroperasi lagi. Itukah yang membuat mata sang satpam menempel erat seperti poster pada badan mobil?

Beberapa detik kemudian baru-lah Golden paham apa yang terjadi.

Di pintu belakang bus karatan tersebut, Golden melihat sepasang kaki, yang bahkan dari kejauhan ia bisa melihat, sangat kontras dengan warna karatan bus sial tersebut.

Pemiliknya menurunkan kaki kirinya lebih dahulu ke jalan, layaknya seseorang yang terbiasa naik-turun bus Jakarta. Kemudian sepasang kaki itu, yang dibalut sepatu berhak, melangkah gemulai ke arah lobby seperti peragawati-peragawati Fashion TV.

Golden menyukai apa yang dilihatnya. Kebanyakan pria jika ditanyakan apa yang paling disukai mereka dari wanita, akan menjawab: dada. Bagi Golden, kaki! Pagi ini bukan suatu kebetulan.

S..t!” Maki Golden tapi suaranya jatuh ditelan teriakan kendaraan yang lalu lalang. Setiap kali melihat sesuatu yang indah, komentarnya selalu dimulai dengan makian. Tetapi teman-temannya tidak pernah percaya. Mereka tersinggung, dan Golden belajar bahwa setiap orang unik, berbeda dalam mengungkapkan perasaan.

S..t!” Maki Golden menggunakan kata yang sama dua kali, serapahnya kerdil ditendang bising kendaraan yang berteriak murka di jalanan. Perempuan itu janganlah dibandingkan dengan kutilang-kutilang darat –kurus tinggi langsing dada rata- yang biasa berterbangan di atas catwalk, jauhlah itu; namun Golden harus mengakui: perempuan itu terlalu menarik untuk memperindah bus rongsokan, yang bahkan memiliknya tidak peduli lagi merawatnya. Atau mungkinkah dia hanya menyesal karena tidak berada di bus yang sama, duduk di samping makhluk jelita itu, tersenyum sembari menyembunyikan udangnya rapat-rapat di balik batu, supaya ia bisa turun dengan nomor telpon perempuan itu di saku celananya?

Golden melihat perempuan itu berjalan santai melewati satpam yang matanya terbuka lebar tanpa kedipan.

“Periksa, periksa tasnya!” Golden ingin berteriak ke arah satpam. “Anda harus waspada menjalankan tugas, apapun menyimpang perhatian di hadapan Anda!” Tetapi ia akhirnya sadar, jika ia pun dalam posisi yang sama, barangkali ia akan melakukan hal yang serupa, bahkan bisa saja yang lebih memalukan.

Pria selalu lebih terkesima dengan wanita, pikir Golden. Seperti seorang pendaki di puncak gunung yang kecanduan menikmati keindahan lembah-lembah, dan terobsesi menyambut fajar yang bangkit dari pembaringan. Demikian kecanduan pria terhadap wanita, mungkin lebih dari pada itu.

Sekarang giliran Golden melewati sang satpam. Tapi ia sudah tidak peduli lagi: matanya tetap membuntuti perempuan berkulit susu kental manis itu, membiarkan Golden lewat dengan tasnya berat mencurigakan.

Golden melepaskan senyumnya ke arah satpam. Sia-sia. Sang satpam tampaknya lebih mudah mengikuti perempuan itu dengan matanya dibandingkan membuka bibirnya untuk tersenyum balik kepada Golden.

Tidak pernah dalam hidupnya Golden merasa diabaikan seperti apa yang terjadi saat itu. Tapi laki-laki, betapa kuatnya dia, selalu takluk dengan gemulai perempuan. Kamu tidak akan menang melawan fakta.
*****

(Jakarta, 21 Oktober 2009)

1 Response to “Sihir Perempuan”


  1. 1 na'vi January 28, 2010 at 12:14 pm

    fakta lain…..di jaman ini….sihir perempuan mulai berkurang pengaruhnya..dikalahkan oleh sihir-sihir lain (materi, sihir pria/penyuka sesama)…. :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: