Apa Yang Akan Terjadi Jika Tarif BHP Frekuensi GSM Yang Baru Gagal Disepakati?

Sampai saat ini, Mei 2009, kesepakatan belum tercapai antara Pemerintah -dalam hal ini Dirjen Postel- dan operator GSM -yang diwakili oleh ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia)- berkenaan BHP frekuensi yang melibatkan penggunaan teknologi frekuensi hopping.

Ada usulan dari ATSI untuk mengubah basis perhitungan BHP frekuensi dari yang sebelumnya berbasis ISR (Ijin Stasiun Radio) ke BHP frekuensi yang berbasis lebar pita. Argumen dari ATSI, antara lain: skema tarif berbasis ISR tidak efisien, ribet, cenderung bermasalah di lapangan, semakin mahal seiring berlipat gandanya BTS terpasang dan tentu saja secara teknologi pilih kasih. Mempertimbangkan hal-hal yang ada, skema tarif berbasis lebar pita diusulkan.

Di beberapa tempat, di daerah, Balmon setempat telah menurunkan kartu As-nya: legalitas dari BTS-BTS yang memancar dengan frekuensi hopping telah dipertanyakan, dan dengan demikian telah menjadi kasus hukum yang ditangani pihak berwajib. Operator GSM kikuk diskakmat seperti ini.

Apa yang akan terjadi seandainya kesepakatan tidak juga tercapai dan operator GSM terpaksa berhenti menggunakan frekuensi hopping?

Bagian berikut membahas skenario yang akan terjadi, dipaparkan dalam bentuk tanya jawab.

Tanya: Apa dampaknya jika BTS-BTS yang sudah memancar dengan teknologi hopping (SFH) dirubah menjadi BTS-BTS non-hopping (selanjutnya akan disebut reverse engineering)?

 Jawab: Dampak terbesar yang akan dirasakan adalah kualitas. Kualitas jaringan radio akan menurun drastis sebagai akibat tingginya level interferensi. Dampak ini akan langsung dirasakan pemakai jasa selular.

 Apa hubungan penurunan kualitas ini dengan tingginya level interferensi?

 Dengan SFH, hanya TRX-TRX BCCH-lah yang memancarkan sinyal radio secara kontinu; berbeda dengan site-site non-hopping di mana semua TRX memancar dan menerima sinyal radio. Selain itu, pada SFH, TRX-TRX non-BCCH hanya akan memancar dan menerima sinyal radio pada saat ada trafik dan pada saat ada aktifitas voice dari si pembicara. Dengan demikian, dengan SFH, probabilitas interferensi berkurang.

Seperti diketahui, probabilitas interferensi akan semakin tinggi seiiring dengan banyaknya dan berulangnya kanal-kanal frekuensi sama yang memancar, yang mengakibatkan meningkatnya rasio co-channel interference, yaitu terjadinya overlap dari kanal-kanal frekuensi yang sama.

Standar kualitas co-channel interference ini telah ditetapkan oleh GSM untuk menjamin kualitas network. Kualitas co-channel interference yang jauh di bawah standar yang ditetapkan akan menyebabkan terganggunya akses komunikasi pelanggan.

Inilah hubungan antara kualitas dan interferensi ditinjau dari sudut pandang co-channel interference. Ada faktor-faktor lain yang meningkatkan kualitas jaringan radio dengan diadopsinya SFH, yaitu apa yang disebut sebagai frequency dan interference diversity.

Jelaskan pengaruh interference diversity terhadap kualitas?

 Interference diversity mirip dengan penjelasan sebelumnya. Interference diversity memungkinkan terhindarnya frekuensi dari co-channel interference.

Oleh karena frekuensi yang memancar dari site-site non-hopping bersifat permanen maka frekuensi-frekuensi yang mengalami co-channel interference akan menurun kualitasnya; jalan keluarnya adalah dengan mengganti salah satu dari frekuensi tersebut. Untungnya dengan SFH, co-channel interference tersebut hanya akan terjadi pada satu time frame GSM saja, yaitu 4.615 mili detik, sebelum TRX yang sama memancar lagi dengan frekuensi berbeda. Dengan demikian, co-channel interference ini hanya terjadi pada kurun waktu tersebut.

Jadi, karena interference diversity ini berdampak positif terhadap level C/I (co-channel interference), dengan sendirinya kualitas jaringan radio akan meningkat.

Jelaskan pengaruh frequency diversity terhadap kualitas jaringan?

 Seperti diketahui, tiap kanal frekuensi bisa mengalami gangguan yang berasal dari alam seperti kosmis statik atau fading pada waktu-waktu tertentu, yang berakibat langsung pada level sinyal, dan dengan demikian kualitas jaringan radio.

Sekali lagi, sama seperti pada interference diversity, kecuali frekuensinya diganti, maka frekuensi yang mengalami gangguan ini akan terus memancarkan sinyal radio dengan kualitas yang inferior. Dengan SFH, keadaan ini hanya akan berlangsung sesaat ketika frekuensinya berganti secara otomatis.

Jadi frequency diversity berdampak pada kualitas jaringan radio oleh karena level sinyal yang dipancarkan menjadi lebih baik.

Selain terhadap kualitas jaringan radio, Apalagi dampak dilakukannya reverse engineering?

 Selain kualitas, yang berdampak langsung kepada pelanggan, sektor lain yang akan terkena imbas adalah percepatan site deployment dan juga frequency management.

Jelaskan dampak reverse engineering sehubungan dengan percepatan site deployment?

 BTS-BTS memancar dengan frekuensi yang telah dialokasikan pada masing-masing TRX. Frekuensi yang dialokasikan ini biasanya dicari melalui suatu planning tool yang mensimulasikan propagasi sinyal radio. Pada site non-hopping misalnya, jika terdapat 12 TRX (4/4/4) maka akan ada 12 frekuensi yang harus dicari; pada SFH sebaliknya hanya akan ada 3 frekuensi yang harus dicari. Sehingga dengan demikian, lebih cepat waktu yang dibutuhkan untuk mengalokasikan frekuensi pada site-site SFH. Ingatlah juga bahwa ketika planner mengalokasikan frekuensi pada suatu site baru, frekuensi-frekuensi di sekitar site tersebut juga harus ikut di-retune.

Jadi SFH akan mempercepat suatu site bisa on-air. Memang yang mendapat manfaat langsung dari hal ini adalah operator itu sendiri, tapi masyarakat terkena dampak juga dalam hal cepat tersedianya layanan selular. Layanan yang menyediakan coverage untuk area yang sebelumnya tidak ada; atau layanan alternatif untuk area-area yang tinggi trafiknya sehingga sangat sulit melakukan panggilan telepon.

Jelaskan dampak reverse engineering pada frequency management?

Oleh karena GSM juga memakai sistem akses multipel FDMA, di mana aksesnya dibedakan oleh frekuensi, maka merupakan suatu keharusan untuk me-manage frekuensi dengan tepat dan juga secara berkala, untuk meminimalkan interferensi.

Frequency management yang dimaksud adalah melakukan frequency retune secara teratur. Frequency retune masih menjadi kebutuhan khususnya pada operator-operator yang jaringannya belum mengalami saturasi. Seiring dengan pertambahan site, kualitas co-channel interference harus terus dipantau, di sinilah frequency retune itu dibutuhkan.

Frequency management pada site-site non-hopping akan lebih sulit dan ribet dibandingkan dengan site-site SFH. Seperti dijelaskan sebelumnya, dengan SFH, frekuensi yang menjadi perhatian hanyalah frekuensi-frekuensi TRX BCCH sedangkan pada non-hopping, semua frekuensi yang memancar dari TRX. Sekali lagi, hal ini akan berdampak pada waktu, sumberdaya dan tentunya biaya yang harus dikeluarkan oleh operator. Dan tentunya pelanggan akan memetik buah busuk dari tertundanya kualitas jaringan yang lebih baik.

Sekarang, berapa biaya dan waktu yang dibutuhkan oleh operator untuk melakukan reverse engineering ini?

 Pertama biaya. Menghitung biaya yang akan dikeluarkan oleh operator itu mudah. Mengingat besarnya jumlah BTS yang dimiliki oleh operator, maka ada kemungkinan bahwa pekerjaan ini akan di-outsource-kan ke pihak ketiga. Oleh karena itu besarannya akan tergantung kepada negosiasi harga atau harga terbaik yang ditawarkan pada waktu tender.

Jika kita berasumsi -perhatikan contoh-contoh yang akan diberikan hanya sebagai ilustrasi- bahwa satu operator memiliki 10.000 BTS dengan total TRX sebanyak 120.000 dan budget yang disepakati per TRX-nya adalah Rp. 500.000 (biasanya dihitung per TRX) maka biaya total yang akan dikeluarkan adalah 120.000 x Rp. 500.000 = Rp. 60.000.000.000 (enam puluh miliar rupiah).

Kedua waktu. Sebelum menjelaskan waktu yang dibutuhkan, haruslah diketahui fakta-fakta sebagai berikut: Pertama, proses implementasi reverse engineering; kedua, keberadaan jaringan itu sendiri; ketiga, sumberdaya yang memiliki skill dalam hal frequency plan dan frequency reengineering; keempat, aktifitas pasca implementasi reverse engineering.

Proses implementasi reverse engineering mewajibkan BTS-BTS dimatikan; oleh karena itu, implementasinya harus dilakukan secara bertahap per area. Selain itu, sesaat setelah diimplementasi harus ada pengukuran dan test di lapangan untuk melihat kesuksesan dari implementasi ini. Dengan demikian, operator yang memiliki jaringan yang lebih luas akan membutuhkan waktu yang lebih lama menyelesaikan reverse engineering. Dan jangan dilupakan pula bahwa terbatasnya planner-planner yang memiliki skill sehubungan dengan frequency plan. Hal ini akan memperlambat proses yang ada. Memperparah masalah adalah terbatasnya dan mahalnya planning tool yang tersedia untuk melakukan frequency reengineering ini. Selain itu, setelah dilakukannya reverse engineering masih dibutuhkan juga waktu untuk melakukan fine tune atas frequency plan  awal, yang akan lebih menghabiskan waktu ketimbang persiapan frequency plan-nya.

Berdasarkan fakta-fakta yang ada, maka dapatlah diperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan reverse engineering ini. Jika diasumsikan satu operator memiliki 10.000 BTS yang tersebar di seluruh Indonesia dan memiliki 10 planning tool untuk frequency plan-nya maka dibutuhkan waktu sekitar setahun untuk melakukan planning dan implementasi, dan setahun lagi untuk proses fine tune-nya. Jadi totalnya sekitar dua tahun untuk proses reverse engineering ini.

Apa kesimpulan terhadap dampak dilakukannya reverse engineering ini?

 Bahwa yang akan terkena dampak bukan hanya operator sendiri yang nota bene adalah pihak yang akan mengeluarkan biaya dan sumberdaya dalam proses ini, tapi juga masyarakat sebagai pemakai jasa selular. Seperti dijelaskan, reverse engineering ini akan berpengaruh besar pada kualitas jaringan radio.

Barangkali bagi operator biaya yang akan dikeluarkan untuk melakukan reverse engineering ini tidak seberapa, tapi pikirkan dampak degradasi kualitas yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Dengan kualitas yang jelek akan menyebabkan sulitnya melakukan panggilan telepon, drop call yang pasti menggila, kualitas percakapan murahan, dan sebagainya. Hal ini tentunya akan berdampak luas pada aktifitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dan pikirkan juga image dan reputasi bangsa yang akan dirasakan oleh warga asing yang menggunakan jaringan kita ketika berada di Indonesia: suatu bangsa, bangsa yang besar yang diberkati dengan sumberdaya manusia dan alam yang berlimpah, tapi lumpuh ketika akan memberikan layanan telekomunikasi yang berkualitas terhadap warga negaranya.

Ingatlah bahwa pelanggan telah menyadari bahwa seiiring dengan murahnya tarif jasa selular, yang dipicu oleh persaingan ketat antar operator, kualitas percakapan juga telah ikut memburuk. Pada GSM hal ini dimungkinkan karena kualitas bisa diturunkan separuhnya untuk menghasilkan kapasitas dua kali lipat. Ini harga yang harus dibayar pelanggan untuk menelepon murah.

Dengan dilakukannya reverse engineering ke non-hopping, kualitas yang sudah memburuk tadi akan bertambah parah, dan operator GSM akan semakin sulit memenuhi desakan pemerintah untuk tetap mempertahankan kualitas jaringan, ketika buah yang harus dimakan kali ini adalah simalakama.

Sebagai kesimpulan akhir: jika operator GSM sampai harus kembali lagi ke non-hopping akibatnya adalah semua pihak dirugikan, A Lose-Lose Soulution. Situasinya akan mirip doktrin MAD (Mutually Assured Destruction) yang dikibarkan pada era Perang Dingin, dimana jika salah satu pihak menggunakan senjata pamungkasnya yang menghancurkan, pihak lain juga akan melakukan hal serupa sehingga malapetaka bersama akan menjadi pemenangnya.

*****

0 Responses to “Apa Yang Akan Terjadi Jika Tarif BHP Frekuensi GSM Yang Baru Gagal Disepakati?”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: