Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau?

Beberapa tahun silam, saya mendapat kesempatan dari Perusahaan tempat saya bekerja untuk mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan salah satu pabrikan infrastruktur telekomunikasi selular di Stockholm, Swedia.

Saya beruntung. Pertama, sebenarnya nama saya tidak tertera pada daftar peserta; atasan saya seharusnya yang berangkat ke Swedia tapi beliau dengan baik hati meminta saya untuk menggantikannya. Kedua, segera setelah kembali dari pelatihan tersebut, Perusahaan mulai membatasi pelatihan ke luar negeri.

Melakukan perjalanan ke Eropa merupakan salah satu check list yang harus saya lakukan dalam hidup. Tapi saya tidak menyangka bahwa hal itu akan dilaksanakan lebih cepat dari rencana, dan tidak harus merogoh kocek dalam-dalam. Tentunya saya menyambut dengan senang hati kesempatan emas yang tidak begitu sering datang ini.
*****

Juga saya langsar sebab waktu pelatihan dijadwalkan pada penghujung musim dingin. Yang berarti saya masih akan sempat melihat salju yang hanya kerap saya baca, atau tonton pada layar fantasi Hollywood.

Sebenarnya, saya sudah melihat salju beberapa tahun sebelumnya ketika mendaki Gunung Cradle di Tasmania, Australia. Meskipun memiliki empat musim -di wilayah bagian selatannya-, musim dingin di Australia tidak selalu bersalju. Pengecualian ada di dataran-dataran tinggi di perbatasan negara bagian New South Wales dan Victoria, seperti Gunung Hotham, yang juga berubah menjadi resor ski pada musim dingin bulan Juli-September.

Selama kuliah di Australia, meskipun telah diniatkan untuk ke Gunung Hotham, pada waktu libur panjang -yang juga bertepatan dengan musim dingin-, selalu saja ada halangan sehingga rencana terus batal. Oleh karena itu, pada akhir studi, sebelum pulang ke tanah air, benar-benar saya tekadkan untuk melihat salju. Sayangnya, tahun akademik di Australia berakhir bulan Desember, dan itu berarti, di bagian bumi sebelah selatan, adalah musim panas.

Jadi ketika ada informasi bahwa di Gunung Cradle di Tasmania tetap ada salju meski pada musim panas, saya ngotot ke sana walau harus capek-capek mendaki.

Saat memegang salju untuk pertama kali pada waktu itu, di puncak Gunung Cradle, saya merasa seperti seorang penambang yang akhirnya menemukan berlian yang diimpi-impikan; padahal yang saya pegang hanyalah bongkahan kecil salju, dari kumpulan salju yang tidak lebih luas dari meja belajar saya, sisa yang masih bertahan pada kulminasi musim panas. Potongan salju yang sebenarnya tidak berbeda dengan bunga es yang saya lihat tiap hari di kulkas. Tapi ada kepuasan sendiri ketika keinginan kita yang tertunda menjadi kenyataan. Sayang, saya tidak bisa membawa salju itu pulang untuk buah tangan.

alp

Akan tetapi di Stockholm-lah saya melihat salju dalam arti yang sebenarnya, bukan hanya bungkalan kecil sisa dari musim dingin seperti yang saya pegang sebelumnya di Tasmania.

Dari lantai tiga gedung Pusat Pelatihan, saya bersama rekan-rekan lain, duduk memandang ke luar jendela kaca, menyeruput coklat panas sambil menatap salju yang melayang turun ke bumi. Tanah di balik jendela kaca bertukar menjadi karpet lilin, senyap dan membeku dalam lilitan kapas-kapas putih yang menari bebas. Waktu seperti berhenti sejenak menghormati salju yang lewat. Kami terdiam dalam lamunan kami masing-masing.

Nanti, gumam saya, saat meneruskan perjalanan ke selatan, musim semi akan menunggu saya. Adakah yang lebih romantis dari ini? Pikir saya lanjut.
*****

Segera setelah pelatihan usai, saya mengajak rekan peserta lain bergabung dengan saya untuk backpacking ke Eropa Barat dengan kereta api. Tidak ada yang berminat. Jadinya, saya melanjutkan rencana seorang diri. Padahal, melancong bersama bukan hanya lebih meriah tapi juga murah: sewa kamar dan juga biaya transport menjadi lebih hemat dengan berkelompok.

Sebelum berangkat pelatihan, persiapan untuk backpacking tersebut telah dilakukan sebelumnya termasuk pemesanan pemondokkan, dan yang lebih penting lagi, rute perjalanan kereta apinya. Mulanya saya berniat mengawali perjalanan dari Stockholm kemudian menyeberang ke Kopenhagen (Denmark) dan berakhir di Roma; rute ini akan melintasi daratan kontinental Eropa dari utara ke selatan. Akan tetapi, setelah berhitung, ternyata cuti saya tidak cukup karena saya bermaksud juga untuk turun jalan-jalan di beberapa kota. Akhirnya, saya memutuskan untuk memulai perjalanan kereta api saya dari Frankfurt, Jerman, dan kelak berakhir di Roma. Rute lengkapnya: Frankfurt-Amsterdam-Paris-Roma; di kota-kota persinggahahan tersebut juga saya ingin turun berpelesiran satu atau dua hari.

Semua perjalanan dengan kereta akan dilakukan siang, dan tentunya dengan tempat duduk di samping jendela.

Makanya, ketika membeli tiket Paris-Roma, yang lama perjalanannya 12 jam, dan dihadapkan pada pilihan waktu perjalanan, saya memilih untuk berangkat dengan kereta pagi dari Paris; padahal kalau dihitung-hitung keputusan tersebut membuat saya sedikit lebih boros. Bukan karena tiket kereta untuk perjalanan siang hari lebih mahal; tapi kalau saya melakukan perjalanan pada malam hari, saya tidak perlu lagi membayar sewa kamar pondokan untuk satu malam karena saya bisa tidur di kereta. Tetapi saya telah datang untuk mengambil Eropa sebanyak-banyaknya dengan mata saya. Jika mata adalah kamera digital dengan penyimpanan otomatis, saya menginginkan kamera dengan piksel dan memori penyimpanan setinggi-tingginya.

Itulah tepatnya yang saya lakukan. Pada waktu itu, jika ada yang bertanya apakah ada yang lebih berkhasiat dari kopi untuk menahan mata agar tetap melek, saya bisa langsung menjawabnya: itu adalah hal-hal baru dan rasa ingin tahu yang terus memantik api pesona dalam pikiran kita. Selama 12 jam tersebut, saya kembali menjadi anak-anak yang takjub akan hikayat negeri antah berantah, dan tidak peduli dengan penumpang di sekeliling yang menemukan objek tertawaan baru.

monebianco

Ketika kereta berada setengah perjalanan dan mulai memasuki wilayah Alpen Perancis, pemandangan menjadi elok-eloknya dengan barisan pegunungan Alpen di kanan kiri jendela. Dari kejauhan Mont Blanc bisa terlihat dengan pucuk dan tubuhnya berselimutkan salju. Sontak saya keluarkan kamera yang belum digunakan selama perjalanan itu dan mengabadikan keindahan di depan saya lebih dulu sebelum kecepatan kereta merampasnya lebih cepat.

Setelah beberapa gambar terambil, saya terpingkal-pingkal dan segera menghentikan kegiatan. Bukan karena tersadar akan betapa ndeso-nya saya, dan merasa risih dengan penumpang lain yang memandang dengan heran, tapi entah mengapa, pada momen itu, ketika saya begitu terbuai dengan kesemarakan yang menggoda, saya teringat Paul Gauguin.
*****

Paul Gauguin adalah pelukis tersohor asal Perancis yang lahir di Paris dan dibesarkan di Orleans, Perancis tengah. Tuan Gauguin terobsesi dengan “firdaus” dan dia mencari dengan sungguh-sungguh di manakah gerangan “firdaus” itu berada. Pada tahun 1891, tuan Gauguin menemukan apa yang dicarinya, yakni di Polinesia Perancis di kepulauan Pasifik. Ia menyebut apa yang telah ia temukan sebagai suatu “firdaus tropis”.

Inilah yang membuat saya tergelak: mengapa saya begitu tersihir dengan keelokkan di depan saya? –saya bahkan mengucapkan kata itu, firdaus, berkali-kali tatkala memotret- sedangkan, paradoksnya, seorang seniman dari firdaus yang telah mempesonakan saya, tuan Gauguin, justru mencari suatu firdaus lain, di satu sudut dunia beribu-ribu kilometer jauhnya.

Saya tergelak, bertanya mengapa tuan Gauguin sebegitu tidak menyadarinya bahwa ia sebenarnya sudah tinggal di firdaus sehingga ia sebenarnya tidak perlu lagi mencari firdaus lain? Saya tergelak, bertanya mengapa saya sedemikian tidak menyadarinya bahwa saya sebenarnya sudah tinggal di firdaus yang berhasil ditemukan oleh tuan Gauguin itu? Ini tidak berarti saya berasal dari Polinesia Perancis, tapi keindahan alam dari pulau asal saya, kepulauan Talaud di Pasifik timur, tidak jauh berbedanya dengan pulau di kepulauan Pasifik yang ditemukan tuan Gauguin itu; jika bukan lebih indah dengan pantai-pantainya yang putih bersih, lautnya yang biru jernih dan lambaian pohon-pohon nyiurnya yang lebih gemulai. Saya tergelak karena ironi, mendapati bahwa ternyata selama ini saya tidak pernah menghargai kemolekkan pulau tempat saya tumbuh besar.

pulisan_1

Ironisnya juga, selagi saya terobsesi dengan pencarian akan salju, dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang melihat salju itu setiap hari justru mendambakan kehangatan yang hanya ditawarkan oleh pantai-pantai tropis.
*****

Di wilayah Alpen Perancis, selagi kereta melaju menuju Italia pada lembah barisan pegunungan Alpen, saya belajar bahwa rumput tetangga ternyata tidak lebih hijau. Sebenarnya, yang saya lihat di sana adalah halaman rumput tetangga yang lebih putih.

Kini saya tahu bahwa di pulau tropis sayalah halaman rumputnya lebih hijau, sebab rumput-rumput di sana, di tempat asal saya, berkawan lebih akrab dengan matahari. Tuan Gauguin benar: rumput di pulau tropis lebih hijau, hangat dan menginspirasi.

Tapi sebaliknya saya juga sadar bahwa saya bisa menjadi seperti tuan Gauguin: jika sang seniman mencari “firdaus tropis”, saya bisa terjebak dengan cara yang sama dalam pencarian akan “firdaus bersalju” saya.

Di perbatasan Perancis-Italia itu, tatkala masih menampak barisan pegunungan Alpen yang kedinginan dan juga Monte Bianco yang kesepian ditinggalkan kereta, saya paham akan mata saya yang bisa menipu, yang buta warna, yang bisa gagal melihat keajaiban-kejaiban kecil di sekeliling kita.
*****


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: