Hidup ini Singkat. Cinta Itu Seperti Tabungan di Bank.Hidup Dengan Tujuan. Aku Ingin Menulis Lagi.

Hari-hari ini singkat. Terbang semakin cepat bersama banyaknya waktu yang telah dijalani di atas bumi.

Jadi, karena hidup ini singkat, apa yang harus dilakukan agar saat waktu kita hampir selesai kita bisa melihat lagi ke belakang dan merasa puas sebab telah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya? Yah, melakukan sesuatu yang berarti bagi kita dan yang mendatangkan kepuasan diri. Ketika kita adalah orang yang berbahagia karena telah memperhatikan, mencintai diri kita dan menerima diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kita akan menikmati hari-hari kita; kelak itu akan menjadi memori dan nostalgia manis yang lebih panjang dari waktu itu sendiri.

Hidup ini singkat berarti tidak ada waktu dan juga ruang untuk hal-hal negatif yang mengecilkan hati, mematahkan semangat yang tentunya merampok kebahagiaan: penyesalan, rasa bersalah yang berlebihan dan berbagai bentuk emosi negatif lainnya.

Bayangkan jika kita harus berkubang pada penyesalan atau dibuat tidak bergerak dan lumpuh oleh cinta yang tidak kesampaian atau cinta yang tiba-tiba pergi? Bayangkan berapa banyak waktu lagi yang hilang dari sisa waktu yang memang sudah sedikit itu?

Jatuh bangun dari kesalahan juga akan menghabiskan banyak waktu. Kesalahan adalah proses pembelajaran; akan tetapi jika hal yang sama tidak pernah selesai dipelajari sedangkan masih banyak hal-hal lain yang butuh pembelajaran, bukankah itu adalah waktu yang hilang?

Jakarta, 11 Januari 2009, 23:34 WIB
*****

Cinta itu seperti tabungan di bank. Itu bukan asli ucapan saya. Seorang kawan mengatakannya jauh pada tahun-tahun di belakang.

Seperti tabungan di bank yang bertambah dan berkurang, demikian juga cinta: berkurang ketika terlantarkan dan terabaikan; karena cinta tidak tumbuh dengan sendirinya: ia mekar dan berbunga bersama hati dan perasaan kita dan ia terus tumbuh bertambah saat hati kita ingin kuncup yang telah mekar itu tidak menjadi layu.

Tabungan yang berkurang akan semakin berkurang karena bukannya ditambah tapi malah semakin banyak uang yang ditarik, dibelanjakan. Tabungan yang berkurang berarti semakin sedikit yang bisa dihasilkan. Tabungan yang bertambah akan terus menumbuhkan nilai uang itu, bunga berbunga.

Cinta itu seperti tabungan di bank: terserah kamu menabungnya lebih banyak atau terus mengambilnya sampai tidak ada lagi uang yang tersisa dan rekening tabungan itu harus ditutup.

Jakarta, 11 Januari 2009, 23:46 WIB
******

Kita mesti hidup dengan tujuan. Ketika sesorang hidup minus tujuan maka tidaklah penting kemana ia pergi. Hidup dengan tujuan memberikan fokus, arah dan pada arus waktu mana ia berada kini.

Hidup dengan tujuan memberikan kepastian bahwa hidup telah berjalan sesuai dengan yang direncanaan meskipun, kadang-kadang, kehidupan bekerja bukan seperti itu tapi setidaknya kita sadar bahwa yang mengendalikan hidup kita bukanlah orang lain atau alam di sekitar kita tapi kita sendiri, dan itu berarti kita adalah pribadi yang bertanggung jawab dan dengan demikian layak untuk hidup karena kita tahu mengapa kita hidup dan apa yang akan kita lakukan dengan hidup kita.

Hidup dengan tujuan juga adalah suatu sarana yang sederhana dan murah untuk mencapai kebahagiaan: dari rasa puas akan pencapaian-pencapaian kecil yang dicapai selama roda kehidupan berputar.

Hidup dengan tujuan juga adalah sumber motivasi dan sesungguhnya motivasi adalah nafas kehidupan, bahan bakar yang membuat mesin kehidupan bekerja.

Dengan demikian, hidup yang bertujuan membuat kita menikmati hari demi hari yang datang sampai akhirnya hari-hari kita selesai.

Jakarta, 11 Januari 2009, 23:53
*****

Lama sekali sudah aku tidak lagi menulis padahal menulis adalah sukacita.

Malam ini, menjelang pagi, semuanya mengalir lancar menyadarkan betapa banyak yang telah hilang dan pergi.

Aku mau menulis lagi karena aku mau berbahagia. Sesederhana itu.

Saat engkau mendapati dirimu melakukan sesuatu yang engkau sukai dan kemudian engkau tinggalkan itu atas nama kesibukan maka ada sesuatu yang engkau biarkan hilang dengan sengaja. Itu bisa saja jiwamu yang telah engkau telantarkan; padahal engkau harus terus memuaskan dahaga jiwamu, untuk tidak terkapar kehausan.

Menulis adalah suatu bentuk rutinas seperti kegiatan lainnya. Ada yang janggal ketika engkau tidak melakukannya sekian waktu: engkau harus memulai lagi dari awal untuk mendapatkan nada dan ritme yang menggerakkannya. Sebaliknya, jika engkau melakukan itu secara teratur, pintu-pintu ide dan inspirasi seperti sengaja dibuka lebar-lebar untukmu dan engkau bebas memilih ungkapan yang terbaik untuk engkau nyatakan.

Jakarta, 11 Januari 2009, 24:00
Jakarta, 12 Januari 2009, 00:00
*****


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: