Senandung Matahari

Jakarta: satu Agustus dua ribu tujuh

Di sini, ucapmu, bukanlah tempatmu
Bagi senandung-senandung yang t’lah kau nyanyikan

Di manakah telaga-telaga itu? Tanyamu
Di manakah sampan-sampan itu? Tanyamu

Demi hari-hari manakala engkau bersenandung
Di telaga-telaga itu, di atas sampan-sampan itu
Di sini, ucapmu, bukanlah tempatmu

Sapamu lembut: Hari t’lah mendaki ke atas samudera dan kudengar di sana para bocah memanah matahari dengan pelangi. Ke sanalah engkau pergi menghibur camar-camar yang jatuh. Dihanyutkan arus darah samudera luka sang mentari. Pasrah membisu atas merah tubuh mereka dalam amarah matahari yang membara

Mimpi-mimpiku, jawabku pelan, adalah bersenandung untuk matahari. Hari demi hari. Namun dia tak pernah datang. Bagaimana aku bisa yakin dia terluka, jika aku tak lagi percaya dia itu ada? Bagaimana aku yakin para bocah itu mencabik-cabik matahari ketika bersama mereka Senandung Matahari tercipta?

Matahari, katamu, tak lagi datang sebab engkau berhenti percaya bahwa dia ada: Membuat alunan musikmu menggoda rembulan dalam malam yang penuh gairah. Menyembuhkan sayap-sayap malaikat yang patah. Menciptakan kehidupan hari demi hari.

Bukankah kamu itu juga, tanyamu lagi, yang mengalungkan permata pada serigala-serigala? Bagaimana kamu bisa sebodoh itu untuk binatang yang bisa mencabik-cabik tubuhmu?

Sesungguhnya permata bertahtahkan hati itu untuk buaya-buaya yang menangis di bawah kaki cinta, jawabku, hingga kulihat akulah yang berada dalam setiap tetesan airmata mereka

Kaupun mengangguk

Jika aku harus pergi dari sini, kataku, hari ini, bukan karena engkau benar namun waktu t’lah berhenti dan aku harus terus bergerak maju. Mungkin nanti kuakan tahu engkau benar: matahari benar-benar ada. Dan aku bersumpah hari ini atas kebenaran itu: kan kusembuhkan matahari dengan senandungku

(Jakarta, 01 Agustus 2007)


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: