Edelweiss ini

Kepada Divina:

Edelweiss ini telah mekar bukan di hatimu
Akan senantiasa bersemi sampai waktu berhenti
Hingga batinku berhenti memberinya terang

Edelweiss ini menemukanku tatkala bersama puncak tengah kubagi bahagiaku:
Menari bersama lembah-lembah. Menyambut fajar yang melintas ke keabadian.
Memainkan konserto badai gunung untuk bintang-bintang sunyi juga malam yang menggigil.

Edelweiss ini yang membawaku turun telah mekar di hatiku.
Oleh semerbaknya si Pungguk telah memeluk bulan dan mulailah dongeng tentang peri di negeri antah berantah.

“Katakan kembang pilihanmu?” pintaku
“Semua kembang itu indah” jawabmu berbunga-bunga. Kulihat dua matahari di wajahmu. “Menjadi kembang hidupku ketika hatiku luluh kerna pesonanya”.

Maka kuberikan Edelweiss ini padamu. Sebab ia telah menemukanku. Sebab semua kembang itu memang indah. Sebab kuingin kamu menikmatinya meski hanya hatiku jua yang luluh dengan pesonanya. Sebab Edelweiss ini akan senantiasa bersemi sampai waktu berhenti. Hingga batinmu berhenti memberinya terang.

 (Jakarta, November 2004)


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: