Biarlah

-Kepada L.F-

Terus bergemuruh di sini. Sorak berserak
Ku selalu dengan setia memberinya nada
Sebenarnya, kuingin kau mendengarnya

Nyanyikanlah sebuah kidung. Itulah maksudku
Tembangku tengah didendangkan
Entah yang terdengar adalah aku yang berteriak-teriak

Membujukmu ke ladang kembang-kembang
di mana harapan-harapan mekar pada s’gala musim
Juga memetiknya. Mempersembahkannya padamu
Hasratku. Agar harapan menjadi kehidupan dalammu
Dan ku akan senantiasa memandang  harapan dalam hari-hariku

Menjulang pagar pelindung ladang itu
Gelisah
Hei, ku tak mampu taklukkan akuku
Kutahu padamu kunci gerbangnya
Atau tidakkah kau sadar kitalah yang mestinya robohkan pagarnya?
Biar ku tak mesti gelisah dan kau tak mesti peduli kehilangan pembuka gerbangnya

Biarlah, barangkali kelak kusanggup robohkannya sendiri

Seperti inikah? Melarikan diri dari limbo. Memberi telinga pada gema parau suara hati yang sorak berserak.
Mengharap seberkas terang dari kegelapan makna yang ingin dicari. Seperti inikah, ketika engkau adalah orang yang
 ingin kuajak bergabung bersama merpati-merpati putih yang beria-ria dimanja angin di belantara pohon zaitun?
Seperti inikah ketika engkau adalah perempuan yang ingin kuajak bercengkerama bersama rembulan dan bintang-bintang?

(Manado, Mei 2002)


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, parts of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital.

All posts are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional piece, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra dot anaada at gmail.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 23 other followers


%d bloggers like this: