Archive for the 'Essays (Indonesian)' Category

Kodak dan Kisah Ambruknya Sang Raksasa

Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, raksasa yang kelelahan itu roboh, meski belum mau lempar handuk. Kodak, raksasa dunia fotografi, pada hari itu akhirnya mengajukan permohonan perlindungan bangkrut kepada Pengadilan Pailit AS melalui Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan.

Chapter 11 “pada intinya berfungsi membantu perusahaan yang sedang terancam bangkrut atau pailit, tetapi masih memiliki prospek pada masa datang. Itulah sebabnya mengapa pasal ini disebut dengan bankruptcy protection atau proteksi pailit.” jelas Ricardo Simanjuntak, pakar hukum kepailitan, sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia.

Kodak masih bisa bangkit. Tapi tentu tak sebagai raksasa lagi.

Transformasi Teknologi Fotografi

Para pundit merujuk pada transformasi teknologi fotografi, dari seluloid (film) ke silikon (digital), sebagai biang kerok ambruknya Kodak. Ironisnya, metamorfosa ini tersintesa dari lab Kodak sendiri. Pada tahun 1975, Steven J. Sasson, salah seorang insinyur Kodak, membuat kamera digital. Kamera digital pertama di dunia ini punya resolusi sepuluh ribu piksel; hasil jepretannya disimpan pada pita kaset.

Manajemen Kodak akui kamera Sasson ini “cute”.

That’s cute but don’t tell anyone about it,” kata Sasson mengenai reaksi manajemen Kodak, sebagaimana dikisahkan the New York Times. Pembesar Kodak jatuh hati, tapi mereka tidak sampai jatuh cinta pada penemuan ini.

Baru pada awal tahun 2004-lah Kodak mengumumkan untuk stop produksi kamera film dan beralih ke kamera digital, nyaris 30 tahun setelah Kodak membuat kamera digital pertama kali. Sayang, di pasar telah menunggu para samurai Jepang: Canon, Nikon dan Sony. Produk para pendekar Jepang ini dianggap lebih unggul dibanding Kodak. Lalu ada smartphone dengan fungsi kamera digital. Kamera ponsel pintar ini berkualitas, dan disukai pasar, sampai tidak bisa dibedakan ini ponsel atau kamera.  Kamera digital bikinan Kodak pun kalah bersaing.

Saham Kodak sebelum menyatakan diri bangkrut adalah 37 sen (0,37 dollar AS), padahal saham Kodak pernah dihargai 97 dollar AS per saham pada tahun 1997.

Tahun 1976, 90 % film kamera dan 85 % kamera yang dijual di AS adalah Kodak. Tahun 1996 penjualan Kodak pernah menembus angka 16 miliar dolar AS. Tahun 1999 laba bersih Kodak  2,5 miliar dollar AS. Karyawan Kodak pun harus dipangkas drastis dari hampir 150.000 menjadi kurang dari 15.000. Sangat tragis mengingat Kodak sebelumnya adalah raja pasar kamera. Kodak adalah Google dan Apple pada eranya.

Kodak bukan tidak menyadari ancaman kamera digital ini. Pada tahun 1981, setelah Sony merilis kamera digital, Kodak melakukan riset pasar yang sangat detail mengenai ancaman fotografi digital.

Kesimpulan riset adalah pertama: fotografi digital berpotensi menggerus bisnis inti Kodak yang didominasi kamera film. Kesimpulan kedua, butuh waktu untuk transformasi tersebut; tapi Kodak punya sekitar satu dekade untuk bersiap-siap. Ini harusnya jeda waktu (windows of opportunity) yang cukup bagi Kodak untuk mempersenjatai diri.

Kesalahan Strategis

Tetapi bukannya mentransformasi diri, Kodak malah melakukan kesalahan strategis. Daripada meningkatkan kualitas dan mematangkan teknologi kamera digital, supaya mantap beralih ke teknologi baru, Kodak justru hanya mau mengembangkan teknologi digital demi memperbaiki kualitas kamera film. Maksud Kodak begini: user akan menggunakan kamera untuk ambil potret, pilih foto mana mau dicetak, kemudian foto pilihan ini akan disimpan di dalam film pada kamera tersebut. Pada kamera konvensional, Anda tidak bisa melihat hasil jepretan sebelum foto tercetak. Pada kamera ini, user bisa pilih gambar mana yang mau dicetak, gambar mana yang mau dibuang. Kamera yang dipasarkan Kodak ini, Kodak Advantix Preview, bisa melakukan fungsi ini karena ia blasteran digital dan film. Kodak menghabiskan dana sekitar 500 juta dollar AS untuk mengembangkan produk Aventix.

Tapi mana ada orang mau beli kamera digital tapi masih harus bayar film seluloid untuk cetak foto?

Strategi setengah hati ini terus dikembangkan oleh Kodak meskipun pada tahun 1986, Kodak berhasil mengembangkan kamera digital dengan resolusi satu juta piksel pertama, yang menurut hasil riset Kodak sendiri merupakan ­breakthrough yang harus tercapai agar kamera digital bisa lepas landas.

Kenapa Kodak menerapkan strategi ini? Kodak enggan meninggalkan bisnis inti yang masih menguntungkan. “Pebisnis yang bijaksana akan menyimpulkan bahwa sebaiknya tidak terburu-buru untuk pindah dari bisnis yang menghasilkan 70 sen untuk 1 film ke digital yang, mungkin paling tinggi, hanya 5 sen,” kata Larry Matteson, mantan eksekutif Kodak. Kodak tahu tidak ada pilihan selain harus beradaptasi. Sayang, adaptasi yang dilakukan Kodak lambat.

Kodak ambruk bukan karena dibantai fotografi digital; Kodak ambruk karena ingin membantai fotografi digital.

Namun tidak ada alasan Kodak menuding digital fotografi sebagai kambing hitam karena Fujifilm, rival Kodak, juga kena tanduk tapi ia selamat.

Fujifilm, perusahaan yang punya bisnis inti seperti halnya Kodak juga ikut digilas. Bedanya, Fujifilm mau beradaptasi, melakukan transformasi bisnis, meninggalkan bisnis intinya ketika tahu itu tak lagi menguntungkan.

Fujifilm masih berjaya saat ini dengan kapitalisasi bisnis sebesar 12.6 miliar dollar AS, sedangkan Kodak hanya 220 juta dollar AS.

Clay Christensen penulis buku bisnis berpengaruh The Innovator’s Dilemma, menyalahkan Kodak atas kesalahan strategis ini. Kodak sudah melihat “tsunami” akan tiba, katanya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Kodak gagal melakukan transformasi karena terkunci pada model bisnis yang mengagungkan kamera film. Ketika Anda sudah menjadi pemimpin pasar, dan bisnis yang Anda kuasai hampir menjadi monopoli, dan sangat menguntungkan sebagai bisnis inti, Anda akan makin betah dengan model bisnis yang ada.

Ini sangat ironis, mengingat pendiri Kodak, George Eastman, juga menghadapi pilihan transformasi bisnis, bahkan dua kali, tapi ia bertindak berbeda. Pertama, ketika Eastman beralih ke kamera film dari kamera dry-plate yang sebenarnya masih sangat menguntungkan dia. Kedua, ketika Eastman pindah ke film berwarna meskipun pada waktu itu kualitasnya masih inferior dibanding film hitam putih, yang didominasi Kodak.

Kodak adalah bukti bahwa suatu perusahaan akan ambruk jika tidak punya mindset yang terbuka pada perubahan, sebesar apapun perusahaan tersebut. Perusahaan harus melakukan transformasi, jika bisnis utama tidak bisa lagi dipertahankan. Kodak bukannya tidak tahu perubahan itu akan datang; ia tidak membuka diri, kemudian lambat beradaptasi dengan perubahan.

Poin lain, sebuah perusahaan harus terus berinovasi bahkan jika output inovasi tersebut justru akan membabat bisnis inti. Sebenarnya inilah yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan: terus menantang dirinya sendiri dengan inovasi-inovasi baru. Jika tidak, kompetitor akan melakukan hal tersebut, dan perusahaan ketinggalan start. Ini sudah terjadi pada pasar ponsel pintar ketika Blackberry menggeser Nokia dan kemudian iPhone mengganyang Blackberry.

Dalam bisnis, timing berperan penting. Jika Anda pertama di pasar, untuk satu segmen produk tertentu, Anda akan mencuri start, dan pasar akan di bawah kendali Anda. Kodak seharusnya bisa memanfaatkan ini karena ia mewujudkan mimpi fotografi digital, tapi perusahaan ini gagal memanfaatkan momen dan momentum, dan raksasa itu pun ambruk.

*****

Mont Blanc, Firdaus, dan Tukang Batu yang Tak Pernah Puas

Kereta api berlari meninggalkan Paris sejak lima jam lalu; kini bergerak cepat mengejar rangkaian pegunungan Alpen, di perbatasan Prancis-Italia.

Ke Roma, dari Paris, makan waktu 12 jam. Saya ambil perjalanan siang. Rugi besar kalau malam, sebab ini kesempatan melihat Eropa sebanyak-banyaknya. Sengaja saya duduk di samping jendela, yang dirancang lapang dengan kaca jernih.

Mendadak, saya terhenyak. Apa yang mata saya lihat selama lima jam, tak sebanding pemandangan, kini terhampar di seberang jendela. Sontak saya raih kamera dari backpack.

Sebuah gunung menjulang dengan puncak bersorbankan salju. Orang Prancis sebut gunung itu Mont Blanc; orang Italia Monte Bianco; artinya sama: Gunung Putih.  Ketika itu awal April. Sejak 21 Maret belahan bumi utara masuk musim semi, tapi salju masih berserakan. Melihat salju adalah mimpi hidup saya; tetapi memandang salju membungkus Mont Blanc menguatkan harapan saya akan kemanusiaan: mencipta firdaus, di bumi, tak lagi mustahil.

Klik, klik, klik. Kamera saya bekerja, berpacu melawan kereta yang akan segera merampas keindahan itu pergi. Namun sesuatu terjadi.

Entah mengapa, pada momen syahdu seperti itu saya malah terbahak. Sambil menggeleng, saya kembalikan kamera ke tas. Saya teringat Paul Gauguin.

Paul Gauguin adalah seniman tersohor kelahiran Paris, yang terobsesi mencari “firdaus”. Pada tahun 1891, ia menemukan “firdaus” yang dicarinya di Pasifik Selatan, pada gugus kepulauan Polinesia Prancis.

Sang Maestro, pencipta keindahan itu sendiri, ternyata menemukan “firdaus” di sebuah negeri dengan kondisi geografis mirip pulau saya, Kepulauan Talaud, sebuah permata tropis yang tersembunyi di ujung timur Pasifik.

Ini sumber rasa lucu tadi: saya menemukan “firdaus” di negeri tuan Gauguin yang dingin; sebaliknya Tuan  Gauguin menemukan “firdaus” di negeri tropis, seperti kampung saya.

Ironi lain: selagi mata saya basah, terharu dengan keindahan negeri salju, dalam waktu bersamaan, ribuan bule mandi sinar matahari di Bali, Pattaya dan Karibia.

Rumput di halaman Tuan Gauguin memang lebih putih, bak selimut kapas. Tapi saya sadar, rumput di halaman rumah saya ternyata masih lebih hijau. Saya punya Tuan Gauguin untuk membuktikan.

Efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau”

Naluri alamiah manusia memang selalu menginginkan apa yang tidak dipunyai. Macam-macam: bentuk tubuh, pekerjaan, pasangan hidup, harta; daftarnya panjang.

Di Asia, kosmetik pemutih kulit laris manis. Di negeri orang kulit putih, klinik tanning (pencoklatan kulit) justru sesak pengunjung, tak peduli kanker kulit mengintai dari sinar ultra violet yang digunakan. Bagi orang Asia, kulit terang tanda orang sehat; untuk orang Eropa, kulit pucat tanda orang lemah.

Waktu kuliah di Australia saya bilang ke seorang teman, perempuan Anglo-Australia, “Saya suka hidung kamu.” Saya iri dia punya hidung bangir. Dia ragu-ragu, “Maksudnya, kamu suka hidungku yang besar ini?” tanyanya tak percaya diri. “Aku justru suka hidungmu.”

Di tempat kerja, staf menganggap supervisor lebih beruntung, supervisor manajer, manager GM, dan seterusnya. Tak cukup, karyawan pun masih suka membanding dengan perusahaan lain.

Keinginan tanpa kendali bukan fenomena masyarakat modern yang materialistis. Menjinakkan keinginan sudah menjadi kebajikan sejak jaman lampau. Tetapi sama seperti kebajikan lainnya: dipujikan tetapi belum tentu dilaksanakan.

3500 tahun yang lalu, sebuah negeri di Timur Tengah memberlakukan satu hukum nasional, meski tak seorang pun bakal tahu jika hukum itu dilanggar. Bunyi hukum itu: “Jangan mengingini rumah sesamamu. Jangan mengingini lembu milik sesamamu. Jangan mengingini istri sesamamu. Jangan mengingini apapun milik sesamamu.”

Seorang pangeran dari Nepal, Siddhartha Gautama, setelah berkelana kesana kemari, menyimpulkan: “Keinginan adalah sumber penderitaan.”

Dari Jepang, ada kisah tentang seorang tukang batu; cerita untuk mengingatkan agar tidak terus berandai-andai, antitesis efek “Rumput Tetangga Lebih Hijau’. Berikut ceritanya.

Suatu hari seorang pria bekerja memotong batu di bawah terik matahari. Kepanasan, lelah, dan juga marah. Menyesali nasib, ia berkhayal kalau saja ia matahari, hidupnya pasti tidak semalang ini.

Maka jadilah ia matahari. Dan, oh, betapa nikmatnya menjadi matahari! Memancarkan cahaya ke seluruh bumi. Tapi itu tak lama. Sinarnya ternyata tak tembus awan tebal. Kalau saja ia menjadi awan.

Maka jadilah ia awan. Sebagai awan, ia senang dengan titik-titik air yang mengumpul di tubuhnya, hingga mereka menjadi hujan, jatuh membasahi bumi, mengalirkan kehidupan. Tapi tak lama kemudian, bertiuplah angin. Ia diterbangkan ke sana ke mari, bahkan ke tempat yang tak disukainya. Diombang-ambingkan saat ia justru ingin istirahat. Dalam keputusasaannya, ia berpikir kalau saja ia menjadi angin.

Maka jadilah ia angin. Benar, angin ternyata luar biasa, tak ada yang bisa mengalahkannya! Rumah disapu tornado; hurikan menumbangkan pohon tanpa ampun; kapal tenggelam karena badai. Alangkah hebatnya!

Namun setelah ia amati lebih saksama, ternyata masih ada yang berdiri kokoh, tak mampus dihantam pukulannya: batu granit yang besar! Kalau saja ia batu granit itu.

Maka jadilah ia batu granit. Benar, menjadi batu, ia kuat perkasa tak roboh oleh angin manapun. What a feeling. Tapi sukacitanya tak bertahan. Tubuhnya kini berteriak kesakitan, dihantam palu dan dirobek pahat tukang batu.

Kalau saja ia menjadi tukang batu…

Kita tidak tahu apa yang kita inginkan sampai keinginan itu terwujud. Berhati-hatilah dengan apa yang kita inginkan! (Kalimat terakhir ini kutipan dari film Shrek Forever After, ketika saya menulis artikel ini, sedang diputar di bioskop-bioskop Jakarta. LOL.)

*****

Dilbert Dan Sepotong Hikayat Keberuntungan

Dilbert?

Dilbert bekerja di satu perusahaan Telekomunikasi AS. Tubuh insinyur Dilbert pendek, mirip kotak penghisap debu (vacuum cleaner). Kepalanya botak bergerigi, laksana gergaji. Sayang, meski pintar dan rajin, Dilbert belum ketiban promosi. [Lanjut baca....]

Hasil Luar Biasa Dari Hal-Hal Biasa

1.

Output berbanding lurus dengan input yang masuk: untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka upaya yang dikerahkan juga harus maksimal. Banyak orang dari segala lapisan dan struktur sosial yakin kepada hukum sebab akibat ini. [Lanjut baca...]


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, part of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital, unfortunately, not by writing stories.

All stories are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional posts, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra at yahoo.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.