Archive for February, 2012

Mencintai Dengan Sederhana

Aku mencintaimu meski tak tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana,

Aku mencintaimu apa adanya, tanpa beban atau rasa bangga:

Aku mencintaimu dengan cara ini sebab aku tak tahu cara lain untuk mencintai

 Tetapi di sini, di mana tidak ada Aku atau Kamu,

Begitu dekatnya sehingga tanganmu, yang ada di atas dadaku, adalah tanganku sendiri,

Begitu dekatnya sehingga saat aku tertidur matamulah yang menutup

“Plagiat!” kata istri dengan SMS. Aku kaget karena sudah membayangkan ia akan terharu lalu berterima kasih. Mungkin ia tak yakin aku bisa tulis puisi. Mungkin ia tak berharap, dan tak senang terima puisi melalui SMS. Barangkali ia lupa aku pernah, waktu pacaran, gubah sajak untuknya.

Tapi istriku benar: ini penggalan syair orang lain. Penulisnya seorang komunis Chili, Neftalí Ricardo Reyes Basoalto, a.k.a. Pablo Neruda, pemenang nobel sastra 1971.  Judul puisi ini No Te Amo, bahasa Spanyol yang berarti Aku Tidak Mencintaimu. Jangan tertipu dengan judulnya.

Aku salut dengan orang yang bisa ungkap kata hati yang begitu padat makna hanya dengan kata-kata sederhana .

Sajak Neruda lain yang aku suka, yang tak berani lagi aku kirim ke istri, adalah Jika Engkau Melupakan Aku:

…..

Maka, sekarang,

Jika detik demi detik kau berhenti mencintaiku

Aku akan berhenti mencintaimu detik demi detik

Jika tiba-tiba kau melupakan aku

Janganlah mencari aku,

Karena aku pasti sudah melupakanmu

Jika kau pikir ini lama dan tak waras,

tiupan angin kain spanduk

Yang berhembus dalam hidupku,

Dan kau putuskan

Untuk tinggalkan aku di pesisir

hati di mana aku berakar,

ingatlah

bahwa pada hari itu,

pada jam itu,

aku akan merentangkan tanganku

Dan akarku akan lepas landas

Mencari daratan lain

…..

Sehari sebelumnya, aku kasih ke seorang kawan puisi seorang sufi asal Persia, Rumi. Istri sobatku ini meninggal pada hari Selasa, 14 Februari 2012. Menjelang wafat, ia bercerita, seorang pria teman sekelas SMA istrinya, datang menjenguk di rumah sakit.

“Ia mengaku muslim, dan bicara banyak tentang cinta-kasih,” kata temanku, non-muslim.

“Awalnya aku pikir ia anggota laskar FPI, ” lanjutnya, tak bercanda. “Dengan jubah ikhwan; pakai peci. Tapi jenggotnya tidak terlalu panjang.

“Sebelum pamit ia menari, berputar-putar. Aku heran ia tak jatuh.”

“Oh, Rumi,” kataku, setengah yakin. “Tarian itu mungkin dervish dance, atau tarian Rumi. Dan Rumi bicara banyak tentang cinta-kasih.”

Mereka berjanji akan bertemu kembali untuk ngobrol-ngobrol. Aku tanya kalau bisa ikut. Aku mau nguping mereka ngomong soal “cinta kasih”; dan kalau aku benar, mungkin bisa minta pria ini melantun puisi Rumi.

Aku SMS puisi Rumi:

Love is from the infinite, and will remain until eternity.

The seeker of love escapes the chains of birth and death.

Tomorrow, when resurrection comes,

The heart that is not in love will fail the test

Aku pilih puisi ini karena temanku percaya Hari Kebangkitan, manakala ia yakin akan kembali bertemu istri yang amat dikasihinya.

“Esok, ketika kebangkitan tiba,

Hati yang tidak sedang mencintai tak akan lulus uji,” tulis Rumi.

Tiga puluh lima abad lalu seorang pria Ibrani, Musa ben Amram, cucu angkat raja Mesir (Firaun), yang diyakini sebagai nabi oleh kaum Muslim, Nasrani dan Yahudi (sesuai urutan abjad), mencatat dalam Taurat bahwa Tuhan mencipta ibu para manusia dari tulang rusuk Adam, pria pertama.

Tapi mengapa harus dari tulang rusuk bukan dari tulang kepala, atau mungkin tulang kaki? Tidak ada keterangan lanjutan.

Ada yang berspekulasi.

Mereka bilang, bukan dari tulang kepala supaya wanita tak sewenang-wenang atas pria, juga tidak dari tulang kaki supaya jangan diinjak-injak pria. Tetapi dari tulang rusuk, dekat jantung dan hati, supaya dipeluk, dicintai, disayangi. Dan sangkar tulang rusuk ada di sana untuk melindungi jantung, hati kiasan, tempat cinta itu tumbuh.

Apapun, hak seorang istri adalah dikasihi suaminya. Apapun,  seorang suami wajib mengasihi istrinya.  Apapun, hak seorang suami adalah dikasihi istrinya.

Dan kata adalah langkah pertama supaya orang yang kita kasihi tahu bahwa kita mencintai mereka.

Aku dan istri tidak merayakan Valentine pada 14 Februari lalu, dan mungkin tidak akan pernah merayakan hari ini.  Namun tak mesti tunggu 14 Februari untuk bilang sayang, bukan? Kalau bisa, setiap hari bilang “I love you”. Tapi itulah masalahnya: ungkapan kata akan menjadi klise dan basi ketika dipakai berulang-ulang, menjadi ekspresi tanpa nuansa, makanan tanpa garam. Hambar. Dan “hambar”, ketika kau bicara tentang kata, berarti tidak tulus.

Maka kau harus kreatif merangkai kata. Kau bisa kutip puisi dan syair lagu orang lain tapi sebisa mungkin ungkapkan kata hatimu sendiri.

Kau tidak perlu jadi penyair, dan menang nobel sastra dulu, untuk mencurahkan perasaanmu. Kita semua mencintai dengan cara kita masing-masing.

Ada yang bilang katakanlah cinta dengan berlian. Jika kau mampu. Tapi jelas mahal. Maka cintailah kekasih kita apa adanya, seperti Sapardi Djoko Damono, seorang profesor dari Depok:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Aku senang dengan lirik membumi seperti ini, kata-kata yang bisa buat orang buka hati, bukan buka kamus.

*****

P.S.: Berikut alternatif bagi yang mau bilang “I love you” dengan tidak sederhana:

qrc

Ambil Quick Response Code (QRC) reader-mu dan bacalah. Atau kau bisa bikin QRC-mu sendiri.

*****

Kodak dan Kisah Ambruknya Sang Raksasa

Pada hari Kamis, 19 Januari 2012, raksasa yang kelelahan itu roboh, meski belum mau lempar handuk. Kodak, raksasa dunia fotografi, pada hari itu akhirnya mengajukan permohonan perlindungan bangkrut kepada Pengadilan Pailit AS melalui Chapter 11 Undang-Undang Kepailitan.

Chapter 11 “pada intinya berfungsi membantu perusahaan yang sedang terancam bangkrut atau pailit, tetapi masih memiliki prospek pada masa datang. Itulah sebabnya mengapa pasal ini disebut dengan bankruptcy protection atau proteksi pailit.” jelas Ricardo Simanjuntak, pakar hukum kepailitan, sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia.

Kodak masih bisa bangkit. Tapi tentu tak sebagai raksasa lagi.

Transformasi Teknologi Fotografi

Para pundit merujuk pada transformasi teknologi fotografi, dari seluloid (film) ke silikon (digital), sebagai biang kerok ambruknya Kodak. Ironisnya, metamorfosa ini tersintesa dari lab Kodak sendiri. Pada tahun 1975, Steven J. Sasson, salah seorang insinyur Kodak, membuat kamera digital. Kamera digital pertama di dunia ini punya resolusi sepuluh ribu piksel; hasil jepretannya disimpan pada pita kaset.

Manajemen Kodak akui kamera Sasson ini “cute”.

That’s cute but don’t tell anyone about it,” kata Sasson mengenai reaksi manajemen Kodak, sebagaimana dikisahkan the New York Times. Pembesar Kodak jatuh hati, tapi mereka tidak sampai jatuh cinta pada penemuan ini.

Baru pada awal tahun 2004-lah Kodak mengumumkan untuk stop produksi kamera film dan beralih ke kamera digital, nyaris 30 tahun setelah Kodak membuat kamera digital pertama kali. Sayang, di pasar telah menunggu para samurai Jepang: Canon, Nikon dan Sony. Produk para pendekar Jepang ini dianggap lebih unggul dibanding Kodak. Lalu ada smartphone dengan fungsi kamera digital. Kamera ponsel pintar ini berkualitas, dan disukai pasar, sampai tidak bisa dibedakan ini ponsel atau kamera.  Kamera digital bikinan Kodak pun kalah bersaing.

Saham Kodak sebelum menyatakan diri bangkrut adalah 37 sen (0,37 dollar AS), padahal saham Kodak pernah dihargai 97 dollar AS per saham pada tahun 1997.

Tahun 1976, 90 % film kamera dan 85 % kamera yang dijual di AS adalah Kodak. Tahun 1996 penjualan Kodak pernah menembus angka 16 miliar dolar AS. Tahun 1999 laba bersih Kodak  2,5 miliar dollar AS. Karyawan Kodak pun harus dipangkas drastis dari hampir 150.000 menjadi kurang dari 15.000. Sangat tragis mengingat Kodak sebelumnya adalah raja pasar kamera. Kodak adalah Google dan Apple pada eranya.

Kodak bukan tidak menyadari ancaman kamera digital ini. Pada tahun 1981, setelah Sony merilis kamera digital, Kodak melakukan riset pasar yang sangat detail mengenai ancaman fotografi digital.

Kesimpulan riset adalah pertama: fotografi digital berpotensi menggerus bisnis inti Kodak yang didominasi kamera film. Kesimpulan kedua, butuh waktu untuk transformasi tersebut; tapi Kodak punya sekitar satu dekade untuk bersiap-siap. Ini harusnya jeda waktu (windows of opportunity) yang cukup bagi Kodak untuk mempersenjatai diri.

Kesalahan Strategis

Tetapi bukannya mentransformasi diri, Kodak malah melakukan kesalahan strategis. Daripada meningkatkan kualitas dan mematangkan teknologi kamera digital, supaya mantap beralih ke teknologi baru, Kodak justru hanya mau mengembangkan teknologi digital demi memperbaiki kualitas kamera film. Maksud Kodak begini: user akan menggunakan kamera untuk ambil potret, pilih foto mana mau dicetak, kemudian foto pilihan ini akan disimpan di dalam film pada kamera tersebut. Pada kamera konvensional, Anda tidak bisa melihat hasil jepretan sebelum foto tercetak. Pada kamera ini, user bisa pilih gambar mana yang mau dicetak, gambar mana yang mau dibuang. Kamera yang dipasarkan Kodak ini, Kodak Advantix Preview, bisa melakukan fungsi ini karena ia blasteran digital dan film. Kodak menghabiskan dana sekitar 500 juta dollar AS untuk mengembangkan produk Aventix.

Tapi mana ada orang mau beli kamera digital tapi masih harus bayar film seluloid untuk cetak foto?

Strategi setengah hati ini terus dikembangkan oleh Kodak meskipun pada tahun 1986, Kodak berhasil mengembangkan kamera digital dengan resolusi satu juta piksel pertama, yang menurut hasil riset Kodak sendiri merupakan ­breakthrough yang harus tercapai agar kamera digital bisa lepas landas.

Kenapa Kodak menerapkan strategi ini? Kodak enggan meninggalkan bisnis inti yang masih menguntungkan. “Pebisnis yang bijaksana akan menyimpulkan bahwa sebaiknya tidak terburu-buru untuk pindah dari bisnis yang menghasilkan 70 sen untuk 1 film ke digital yang, mungkin paling tinggi, hanya 5 sen,” kata Larry Matteson, mantan eksekutif Kodak. Kodak tahu tidak ada pilihan selain harus beradaptasi. Sayang, adaptasi yang dilakukan Kodak lambat.

Kodak ambruk bukan karena dibantai fotografi digital; Kodak ambruk karena ingin membantai fotografi digital.

Namun tidak ada alasan Kodak menuding digital fotografi sebagai kambing hitam karena Fujifilm, rival Kodak, juga kena tanduk tapi ia selamat.

Fujifilm, perusahaan yang punya bisnis inti seperti halnya Kodak juga ikut digilas. Bedanya, Fujifilm mau beradaptasi, melakukan transformasi bisnis, meninggalkan bisnis intinya ketika tahu itu tak lagi menguntungkan.

Fujifilm masih berjaya saat ini dengan kapitalisasi bisnis sebesar 12.6 miliar dollar AS, sedangkan Kodak hanya 220 juta dollar AS.

Clay Christensen penulis buku bisnis berpengaruh The Innovator’s Dilemma, menyalahkan Kodak atas kesalahan strategis ini. Kodak sudah melihat “tsunami” akan tiba, katanya, tapi tidak berbuat apa-apa.

Kodak gagal melakukan transformasi karena terkunci pada model bisnis yang mengagungkan kamera film. Ketika Anda sudah menjadi pemimpin pasar, dan bisnis yang Anda kuasai hampir menjadi monopoli, dan sangat menguntungkan sebagai bisnis inti, Anda akan makin betah dengan model bisnis yang ada.

Ini sangat ironis, mengingat pendiri Kodak, George Eastman, juga menghadapi pilihan transformasi bisnis, bahkan dua kali, tapi ia bertindak berbeda. Pertama, ketika Eastman beralih ke kamera film dari kamera dry-plate yang sebenarnya masih sangat menguntungkan dia. Kedua, ketika Eastman pindah ke film berwarna meskipun pada waktu itu kualitasnya masih inferior dibanding film hitam putih, yang didominasi Kodak.

Kodak adalah bukti bahwa suatu perusahaan akan ambruk jika tidak punya mindset yang terbuka pada perubahan, sebesar apapun perusahaan tersebut. Perusahaan harus melakukan transformasi, jika bisnis utama tidak bisa lagi dipertahankan. Kodak bukannya tidak tahu perubahan itu akan datang; ia tidak membuka diri, kemudian lambat beradaptasi dengan perubahan.

Poin lain, sebuah perusahaan harus terus berinovasi bahkan jika output inovasi tersebut justru akan membabat bisnis inti. Sebenarnya inilah yang harus dilakukan oleh setiap perusahaan: terus menantang dirinya sendiri dengan inovasi-inovasi baru. Jika tidak, kompetitor akan melakukan hal tersebut, dan perusahaan ketinggalan start. Ini sudah terjadi pada pasar ponsel pintar ketika Blackberry menggeser Nokia dan kemudian iPhone mengganyang Blackberry.

Dalam bisnis, timing berperan penting. Jika Anda pertama di pasar, untuk satu segmen produk tertentu, Anda akan mencuri start, dan pasar akan di bawah kendali Anda. Kodak seharusnya bisa memanfaatkan ini karena ia mewujudkan mimpi fotografi digital, tapi perusahaan ini gagal memanfaatkan momen dan momentum, dan raksasa itu pun ambruk.

*****


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, part of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital, unfortunately, not by writing stories.

All stories are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional posts, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra at yahoo.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.