Kamu telah membuatku menangis tiga kali. 
Ketika kamu lapar, kamu haus, dan tak ada yang bisa aku lakukan. Itu hari ketiga dalam hidupmu. Aku duduk sendiri, 1200 meter dari tempat kamu dilahirkan dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku berharap kamu bertahan, karena, sungguh, aku ingin bersamamu di atas segalanya.
Aku menangis ketika kamu tertawa untuk pertama kalinya. Kamar sudah redup, sebab kamu butuh dan memang harus tidur. Aku menciummu. Ibumu mengecupmu dalam dekapannya sebelum mengantar kamu lelap di atas kasurmu. Terus, aku bilang selamat malam kepadamu, seperti malam-malam sebelumnya. Entah kamu tahu apa artinya selamat malam, maknanya selamat malam.
“Papa sayang Melody,” kataku. Kamu melihatku dengan mata yang selalu ingin bicara, kemudian tawamu lepas. Bukan, kamu tidak tersenyum seperti hari-hari sebelumnya. Kamu tertawa. Lebih dari tertawa.
“Melody ngakak Pa!” kata ibumu. Aku tahu. Aku mengangguk. Seharusnya aku bilang iyah, tapi tak bisa bicara. Ada air mata yang menyumbat tenggorokanku. Ibumu tak melihat, tapi aku menangis mendengar kamu tertawa. Ini enam malam silam, ketika kamu hampir tiga bulan.
Siang ini kamu kembali membuatku menangis, untuk ketiga kalinya, ketika aku lihat kamu begitu apa adanya, sebegitu aku, sebegitu ibumu. Sedemikian sempurna. Kamu tak perlu tersenyum. Kamu tak perlu tertawa. Sebenarnya, kamu hanya diam meski mata kita banyak bicara. Lalu mataku basah. Karena kamu begitu sempurna.
Kamu telah membuatku menangis tiga kali.
******
Jakarta, 24 Desember 2011.
Jadi sudah menikah? Selamat berbahagia ya …