Di belakangku ada dinding putih tanpa coretan. Di belakang dia berjejer kursi. Seperti benteng melindungi putri kerajaan. Tapi dia melihat mukaku, melihat dinding polos.
Tidak jauh, tegak pilar bangunan.
Perempuan itu tidak menyambut tanganku. Malah, ia lempar jauh-jauh matanya supaya tak tertangkap wajahku. Ia berbalik, dan dengan pasti, langkah demi langkah, menujuh arah pilar bangunan, mencoba raib. Gosh, Aku merasa seperti dilempar dalam kolam, lengkap dengan piyama, pada suatu pagi di puncak musim dingin. Oh, tidak. Lebih tepat dilempar di kolam pada pagi hari di puncak musim dingin lengkap dengan jas, vest, jubah dan safety boots.
Ada yang salah dengan diriku? Aku jelas bukan penjahat. Tapi apakah aku monster? Apakah dia tidak bisa membaca niat hatiku? Apakah dia tidak melihat pakaian terbaik yang aku kenakan malam itu?
Abigail tidak terkesan.
Malam itu aku sadar engkau tak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukaimu. Tapi aku juga tahu engkau tak harus memaksa seseorang menyukaimu. Sederhana sekali.
Aku putuskan pergi.
Abigail hengkang juga. Dengan cara kami sendiri. Arah kami tolak belakang. Aku ke pintu keluar. Abigail menuju pilar bangunan.
Namun di pintu keluar aku berhenti, menengok ke belakang, melihat dia sekali lagi, melihat dia seperti barbie tanpa rambut jagung. Wajahnya terus menunduk. Entah apa yang dipikirkan. Entah apa yang menarik di lantai.
Lalu, hei, ia menabrak pilar bangunan! Mungkin pilar bangunan menampar pipi atau kepalanya. Kasihan, tapi apa mau dikata?

Aku yakin masih ada harapan, maka aku berbalik mendekati dia. Mengulurkan tangan yang dia tepis sembilan puluh detik sebelumnya. “Abie baik-baik saja?” kataku tersendat dengan lagak yang harus dimengerti seorang gadis kecil, untuk bocah dua puluh tiga bulan. Matanya, yang seperti kolam musim bunga, menggeleng. Aku raih dia. Bocah ringkih ini menyundul pilar beton, pasti sakit sekali!
Abigail raih tanganku. Aku angkat dia. Kemudian aku dekap. Peluk.

Aku belum punya putra atau putri kala itu, tapi aku hibur Abigail dengan lagak seorang ayah. Seperti ayah-ayah yang pernah aku lihat.
Singkat cerita, sejak insiden itu Abigail tak pernah menolak tanganku tiap kali aku ingin salam dia. Abigail tahu bahwa mengabaikanku pasti berakhir buruk, pikirku. Mungkinkah Abigail takut kualat? Memang bocah dua puluh tiga bulan paham artinya kualat?
Jika benar, maka aku belajar bahwa seseorang bisa menyukaimu karena rasa takut.
“Enggak usah lebay deh, Sayang!” kata istriku ketika aku cerita, kemudian menyimpulkan musabab, Abigail, yang menolak untuk terkesan, putar haluan dalam sembilan puluh detik.
Tapi satu yang pasti, sejak saat itu Aku dan Abigail jadi sahabat meski bocah itu belum sempurna ucap namaku.
******

0 Responses to “Impresi”