Archive for December, 2011

Kamu Membuatku Menangis Tiga Kali

Kamu telah membuatku menangis tiga kali. 

Ketika kamu lapar, kamu haus, dan tak ada yang bisa aku lakukan. Itu hari ketiga dalam hidupmu. Aku duduk sendiri, 1200 meter dari tempat kamu dilahirkan dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku berharap kamu bertahan, karena, sungguh, aku ingin bersamamu di atas segalanya.

Aku menangis ketika kamu tertawa untuk pertama kalinya. Kamar sudah redup, sebab kamu butuh dan memang harus tidur. Aku menciummu. Ibumu mengecupmu dalam dekapannya sebelum mengantar kamu lelap di atas kasurmu. Terus, aku bilang selamat malam kepadamu, seperti malam-malam sebelumnya. Entah kamu tahu apa artinya selamat malam, maknanya selamat malam.

“Papa sayang Melody,” kataku. Kamu melihatku dengan mata yang selalu ingin bicara, kemudian tawamu lepas. Bukan, kamu tidak tersenyum seperti hari-hari sebelumnya. Kamu tertawa. Lebih dari tertawa.

“Melody ngakak Pa!” kata ibumu. Aku tahu. Aku mengangguk. Seharusnya aku bilang iyah, tapi  tak bisa bicara. Ada air mata yang menyumbat tenggorokanku. Ibumu  tak melihat, tapi aku menangis mendengar kamu tertawa. Ini enam malam silam, ketika kamu hampir tiga bulan.

Siang ini kamu kembali membuatku menangis, untuk ketiga kalinya, ketika aku lihat kamu begitu apa adanya, sebegitu aku, sebegitu ibumu. Sedemikian sempurna. Kamu tak perlu tersenyum. Kamu tak perlu tertawa. Sebenarnya, kamu hanya diam meski mata kita banyak bicara. Lalu mataku basah. Karena kamu begitu sempurna.

Kamu telah membuatku menangis tiga kali.

******

Jakarta, 24 Desember 2011.

Impresi

Aku mengulurkan tangan ketika jarak kami kurang sedepa. Kalau dia mau, aku ingin memeluknya.

Di belakangku ada dinding putih tanpa coretan. Di belakang dia berjejer kursi. Seperti benteng melindungi putri kerajaan. Tapi dia melihat mukaku, melihat dinding polos.

Tidak jauh, tegak pilar bangunan.

Perempuan itu tidak menyambut tanganku. Malah, ia lempar jauh-jauh matanya supaya tak tertangkap wajahku. Ia berbalik, dan dengan pasti, langkah demi langkah, menujuh arah pilar bangunan, mencoba raib. Gosh, Aku merasa seperti dilempar dalam kolam, lengkap dengan piyama, pada suatu pagi di  puncak musim dingin. Oh, tidak. Lebih tepat dilempar di kolam pada pagi hari di puncak musim dingin lengkap dengan jas, vest, jubah dan safety boots.

Ada yang salah dengan diriku? Aku jelas bukan penjahat. Tapi apakah aku monster? Apakah dia tidak bisa membaca niat hatiku? Apakah dia tidak melihat pakaian terbaik yang aku kenakan malam itu?

Abigail tidak terkesan.

Malam itu aku sadar engkau tak akan pernah bisa memaksa seseorang menyukaimu. Tapi aku juga tahu engkau tak harus memaksa seseorang menyukaimu. Sederhana sekali.

Aku putuskan pergi.

Abigail hengkang juga. Dengan cara kami sendiri. Arah kami tolak belakang. Aku ke pintu keluar. Abigail menuju pilar bangunan.

Namun di pintu keluar aku berhenti, menengok ke belakang, melihat dia sekali lagi, melihat dia seperti barbie tanpa rambut jagung. Wajahnya terus menunduk. Entah apa yang dipikirkan. Entah apa yang menarik di lantai.

Lalu, hei, ia menabrak pilar bangunan! Mungkin pilar bangunan menampar pipi atau kepalanya. Kasihan, tapi apa mau dikata?

abie3

Aku yakin masih ada harapan, maka aku berbalik mendekati dia. Mengulurkan tangan yang dia tepis sembilan puluh detik sebelumnya. “Abie baik-baik saja?” kataku tersendat dengan lagak yang harus dimengerti seorang gadis kecil, untuk bocah dua puluh tiga bulan. Matanya, yang seperti kolam musim bunga, menggeleng. Aku raih dia. Bocah ringkih ini menyundul pilar beton, pasti sakit sekali!

Abigail raih tanganku. Aku angkat dia. Kemudian aku dekap. Peluk.

abie

Aku belum punya putra atau putri kala itu, tapi aku hibur Abigail dengan lagak seorang ayah. Seperti ayah-ayah yang pernah aku lihat.

Singkat cerita, sejak insiden itu Abigail tak pernah menolak tanganku tiap kali aku ingin salam dia. Abigail tahu bahwa mengabaikanku pasti berakhir buruk, pikirku. Mungkinkah Abigail takut kualat? Memang  bocah dua puluh tiga bulan paham artinya kualat?

Jika benar, maka aku belajar bahwa seseorang bisa menyukaimu karena rasa takut.

Enggak usah lebay deh, Sayang!” kata istriku ketika aku cerita, kemudian menyimpulkan musabab, Abigail, yang menolak untuk terkesan, putar haluan dalam sembilan puluh detik.

Tapi satu yang pasti, sejak saat itu Aku dan Abigail jadi sahabat meski bocah itu belum sempurna ucap namaku.

******


Author

Julitra Anaada:

Born and grew up in Talaud Islands, the northernmost, and one of the remotest, part of Indonesia.

He earns living in Jakarta, the capital, unfortunately, not by writing stories.

All stories are his own work, unless stated otherwise. For non-fictional posts, the opinions are strictly personal views.

He can be reached at julitra at yahoo.com.

Tweets

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 8 other followers


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.